Nalar.ID

Kak Seto Mulyadi: Rokok Ancaman Anak, Indonesia Harus Ratifikasi Konvensi Pengendalian Tembakau

Nalar.ID – Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), mengungkapkan, tren merokok elektrik (atau rokok alternatif) di kalangan anak-anak remaja sangat mengkuatirkan.

Sebabnya, Kak Seto Mulyadi–ketua LPAI–, bersama LPAI menolak keras aneka produk rokok menjadi sponsor utama dalam penyelenggaraan acara olahraga dan pendidikan.

“Ini akan membawa dampak buruk untuk anak-anak Indonesia. Terutama remaja,” kata Kak Seto, dalam diskusi tentang bahaya rokok elektrik yang mengancam kesehatan generasi bangsa, di Hotel Balairung, Jakarta, belum lama ini.

Ia mengungkapkan, generasi muda harus diselamatkan dari bahaya rokok. Kak Seto menuturkan, himbauan tersebut untuk melindungi anak-anak Indonesia. Yang penting bangsa Indonesia harus mencintai anak-anak Indonesia.

Tolak Rokok jadi Sponsor

“Semua harus melakukan yang terbaik bagi anak anak Indonesia,” tambahnya.

Oleh karena itu, pihaknya menolak keras rokok menjadi sponsor utama. Pasalnya, akan membawa dampak dan risiko buruk untuk anak-anak dan remaja.

“Ini sederhana dan diterima akal sehat bahwa ini (rokok) beracun. Narkoba, rokok, atau minuman keras, dan sejenisnya, tak layak dipromosikan ke anak-anak. Segala upaya yang memengaruhi anak-anak Indonesia, kami lawan,” tukasnya.

Kak Seto Mulyadi LPAI - nalar.id
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) bersama Kak Seto Mulyadi, usai diskusi dan pemaparan tentang bahaya rokok elektrik yang mengancam kesehatan generasi bangsa, di Hotel Balairung, Jakarta, beberapa waktu lalu. NALAR/Busan.

Bagaimana tindakan dan himbauan untuk pemerintah? Kak Seto berharap, pemerintah mendukung gagasan ini. Kuncinya adalah melalui pemerintah. Ia ingin menggunakan kekuatan masyarakat dari semua unsur pemangku kepentingan (stakeholder).

“Singapura, Malaysia, Thailand, hingga Asia Pasifik, semua sudah meratifikasi konvensi pengendalian tembakau. Indonesia harus bisa menyusul negara-negara itu. Cuma Indonesia yang belum (meratifikasi),” tegasnya.

Jika Indonesia tidak segera meratifikasi, bangsa Indonesia dianggap menjerumuskan ke lembah penderitaan oleh konsumsi rokok jenis elektrik ini.

Gerakan SPARTA dan SASANA

Ia menegaskan, sejak 2011, sudah ada gerakan bernama Seksi Perlindungan Anak Tingkat Rukun Tetangga (Sparta) di masyarakat di Indonesia yang ia bentuk melalui LPAI.

Kota pertama yang meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) adalah Tangerang Selatan. Disusul Banyuwangi, dan Bengkulu Utara. Ia menambahkan, gerakan ini bakal terus diperjuangkan hingga presiden meratifikasi konvensi itu.

Kak Seto tak memungkiri jika banyak olahragawan Indonesia yang menjadi model bintang produk rokok. Soal ini, ia juga telah menggagas gerakan SASANA (Saya Sahabat Anak). “Dalam gerakan ini, kami ikut merangkul para penyanyi hingga artis,” tambahnya.

Tak hanya melalui jalur model dan sponsor produk, lingkungan rumah juga berkontribusi dalam memengaruhi anak-anak untuk merokok.

“Warga harus peduli dan dilibatkan untuk melindungi anak dari bahaya rokok. Ingatkan juga, para orang tua jangan merokok di dalam rumah,” tutupnya.

Penulis: Febriansyah| Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi