Nalar.ID

Kak Seto Mulyadi: Tetap Terus Momong Anak-anak Indonesia

Nalar.ID – Tepat, 49 tahun lalu, atau 4 April 1970, Dr.Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si., atau akrab dikenal dengan Kak Seto Mulyadi (67), resmi diterima menjadi asisten Pak Kasur dan Bu Kasur, pasangan suami-istri pemerhati dan pendidik anak-anak terkenal.

Pasalnya, tanggal itu merupakan hari pertama ia mulai terjun di dunia anak-anak. Ia juga ikut membantu kegiatan Pak Kasur dan Ibu Kasur.

Di tanggal yang sama, atau 49 tahun berselang, yakni Kamis, 4 April 2019, Kak Seto, menyambangi Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur.

Pengalaman Ngemper

Di tempat ini, bersama puluhan anak pedagang, warga pasar, hingga aktivis anak, serta pejabat dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, ia menggelar kegiatan peringatan ’49 Tahun Pengabdian Kak Seto di Dunia Anak-anak’. Di sana, ia mendongeng di depan puluhan anak.

Uniknya, untuk mengenang pengalaman itu, Kak Seto mengenakan pakaian ala buruh atau kuli pasar. Yakni, berpakaian hitam lusuh, topi caping, beralaskan sandal jepit, dan memanggul karung. Termasuk menyematkan kalung tali berisi cabai-cabai merah khas pasar.

Kedatangannya di tempat itu untuk ‘mengenang’ awal pengembaraannya ke Ibu Kota. Ingin tahu ceritanya? Berikut penuturan pria kelahiran Klaten, 28 Agustus 1951 kepada Nalar.ID, pada 4 April lalu.

Mengapa mengadakan peringatan pengabdian 49 tahun di pasar?

Pasar menjadi tempat istimewa buat saya. Waktu datang pertama kali ke Jakarta, saya bekerja menjadi kuli pasar dan tukang batu. Ini untuk bertahan hidup. Saat menjadi asisten (Pak Kasur), saya masih jadi kuli (pasar) dan biasa tidur di emperan pasar.

Bagaimana awal cerita Anda diterima menjadi asisten Pak Kasur?

Setelah diterima menjadi asisten (Kak Kasur), beberapa bulan kemudian, saat saya membereskan angklung bersama, sekitar September 1970, beliau bilang ‘Dik, kalau saya mati, adik harus meneruskan perjuangan saya’. Itu ucapan amanat Pak Kasur.

Kalau berhadapan dan menghibur anak-anak?

Saya memakai pakaian paling rapi, hehe.

Mengapa konsisten di jalur dan menjadi pemerhati dunia anak-anak?

Dari anak-anak, saya bisa belajar banyak. Mulai dari kreativitas, kejujuran, dan lainnya. Kiprah saya di dunia ini semakin meningkat untuk mencintai anak-anak. Anak-anak adalah guru sekaligus sahabat dalam hidup saya. Ini memantabkan saya untuk tetap berada di dunia anak dan menjadi sahabat untuk anak-anak Indonesia.

Pernah ditawarkan dan diiming-imingi jabatan politis atau di pemerintahan?

Pernah, bahkan sering. Saya sering menolak tawaran untuk masuk partai politik, menjadi politikus, sampai jabatan menteri. Saya tetap mau menjadi tukang momong anak-anak Indonesia.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi