Nalar.ID

Kampung Sade: Salah Satu Daya Tarik Wisata MotoGP Mandalika

Nalar.ID, Lombok – Ketua MPR RI memastikan para pembalap dan kru yang berlaga dalam MotoGP dan World Superbike (WSBK) di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga turis yang datang ke Lombok akan dapat pengalaman yang tak terlupakan.

Selain menikmati adrenalin balap, mereka juga bisa menikmati panorama alam indah dan asri. Serta kekayaan seni dan budaya khas masyarakat NTB. 

“Salah satunya mengunjungi Kampung Sade, tempat tinggal suku asli Sasak. Sudah 15 generasi tinggal di sini. Dihuni sekitar 700 jiwa penduduk, menempati sekitar 150 rumah adat di lahan sekitar 2 hektar. Mereka tidak tergerus modernisasi, tetap mempertahankan kearifan lokal warisan leluhur. Siapapun yang berkunjung kesini, dijamin dapat kesan mendalam,” kata Bamsoet, usai berkunjung ke Kampung Sade, di Lombok, pekan lalu. 

Sejak 1965

Diketahjui, sejak tahun 1965, Kampung Sade dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Sebelum pandemi Covid-19, rata-rata per bulan, tidak kurang dari 18 ribu wisatawan domestik, dan 8 ribu wisatawan mancanegara berkunjung ke Kampung Sade. 

“Turis tak perlu khawatir. Karena Kampung Sade dan berbagai destinasi wisata di Lombok telah dapat sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,” jelas Bamsoet. 

Dalam keseharian, warga Kampung Sade mengandalkan mata pencaharian dengan menjadi petani sawah tadah hujan. Serta memproduksi kerajinan tenun dan pernak pernik. Ini bisa dimanfaatkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat Lombok dalam menghadapi MotoGP dan WSBK. 

Bamsoet memaparkan bahwa di Kampung Sade, ada tiga tipe bangunan utama. Di antaranya, Bale Lumbung, tempat penyimpanan hasil panen. Bale Berugaq, tempat berkumpul warga saling bercengkrama. Serta Bale Petani, sebagai hunian tempat tinggal.

“Salah satu khasnya, mereka membersihkan lantai rumah dengan kotoran kerbau yang masih hangat agar tak terlalu bau. Mengepel menggunakan tangan langsung, bukan alat. Ini jadi daya tarik tersendiri yang tak ditemukan di daerah atau negara lain,” tutup Bamsoet.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi