Nalar.ID

Kehadiran Fintech Bawa Inovasi dan Perubahan Industri Keuangan

Nalar.ID, Jakarta – Ketua Klaster Pendanaan Produktif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Reynold Wijaya menyoroti jumlah dan perkembangan peer-to-peer lending atau financial technology (fintech) yang terdaftar dan berizin di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebanyak 154 perusahaan.

Jumlah itu termasuk besar,  di mana, lanjutnya, kehadiran fintech membawa inovasi dan perubahan pada industri keuangan serta perbankan dengan meningkatkan inklusi keuangan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banking School (STIE-IBS)  Kusumaningtuti Sandriharmy Soetiono menilai penerimaan positif terlihat pada meningkatnya angka penyaluran pinjaman.

“Data OJK pada Oktober 2020 akumulasi penyaluran pinjaman nasional Oktober 2020 sebesar Rp137,66 triliun, atau naik 102,44%  yoy). Di mana, angka partisipasi datang dari generasi muda 66% berusia 19- 34 tahun. Baik sebagai peminjam atau pemberi pinjaman,” jelas Kusumaningtuti Sandriharmy Soetiono, dalam webinar bertajuk ‘Evolving Landscape of Fintech Lending in Indonesia’, pada  Jumat (18/12/2020).

Diakuinya, kehadiran fintech telah meningkatkan inklusi keuangan kelompok milenial. Terutama usia 35 tahun yang merupakan cakupan terbesar di Indonesia.

Di masa pandemi seperti kini, kata Kusumaningtuti, berbagai tantangan mewarnai dinamika fintech. Mulai dari pergeseran perilaku konsumen sampai dengan penurunan di yang terjadi di usaha kecil dan menengah. 

Sektor usaha kecil menengah (UKM) menjadi sektor yang paling terdampak, karena ketiadaan kegiatan di luar rumah oleh sebagian besar masyarakat, kenaikan harga barang dan penghasilan yang menurun.

Mayoritas pendanaan dari pemain fintech menyasar ke segmen ini untuk usaha produktif dalam perekonomian. Mulai dari pertanian, manukfaktur, dan jasa.

“Di sisi lain,  pergeseran perilaku konsumen ke aktivitas digital jadi kesempatan untuk industri keuangan digital. Di mana riset IBS membuktikan bahwa kegiatan perbankan adalah kegiatan tertinggi ke dua, selain pendidikan. Di mana, 40% aktivitas konsumen bergeser ke hampir 100% digital,” tambahnya.

Sementara itu, Reynold menyebutkan kondisi fintech saat ini per oktober 2020, mencapai pengguna transaksi lender 698 ribu, dengan jumlah borrower 39 juta.

“Yang menarik di sini adalah penyalurannya begitu cepat. Ada Rp137,66 triliun pinjaman yang telah terdistribusi ke pengguna. Walau dalam masa pandemi, namun disalurkan dengan begitu baik,” kata Reynold, yang juga dikenal sebagai CEO Modalku.

Bisa dibilang, angka Rp137,66 triliun merupakan angka cukup besar. Namun faktanya, kata Reynold, itu angka itu belum ada apa-apanya dibandingkan kebutuhan ada di Indonesia.

Menurut Reynold, industri fintech lending untuk berinovasi melalui akses pembiayaan kepada masyarakat dan pelaku UMKM. Peluang pertumbuhan fintech cukup besar, karena masih ada 6,6 Juta UMKM dan 132 juta individu yang belum memiliki akses kepada kredit.

Oleh karena itu, seiring maraknya digitalisasi, kolaborasi antara perbankan dan fintech akan semakin terbuka lebar.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi