Nalar.ID

Kembangkan Inovasi, Ini 5 Inovator Terpilih ‘Novartis Young Innovators’ Camp’

Jakarta, Nalar.ID – Setelah tiga hari menjalani pembinaan di Novartis Young Innovators’ Camp (NYIC) di Jakarta, 25 peserta lulusan berbagai Universitas di Indonesia, berhasil mempresentasikan inovasi mereka di hadapan para juri.

Terpilih lima peserta terbaik lulusan sarjana Indonesia, yaitu Fahmi Fathurrahman (Teknik Geologi ITB), Hana Farida Selvyani, dan (Teknik Informatika, Universitas Katolik Parahyangan). Lalu, ada I Wayan Sugiri (Kimia, Universitas Udayana), Istiffa Nurfauziah (Biologi ITB), dan Sujatmoko Sentika (Farmasi, Universitas Padjadjaran.

Mereka yang terpilih dan menyelesaikan program Pascasarjana di berbagai universitas luar negeri, kembali ke Indonesia agar mengaplikasikan kontribusi di dalam negeri, khususnya di industri kesehatan.

Setelah resmi dibuka oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir pada Rabu (21/11), Duta Besar Swiss untuk Indonesia Kurt Kunz, dan Presiden Direktur Novartis Indonesia Jorge Wagner, hari kedua rangkaian acara, peserta diberi tugas kelompok mengerjakan pilihan studi kasus penyakit, yakni psoriasis dan transplantasi ginjal.

Melahirkan Talenta Muda

Inovasi yang ditawarkan para kandidat pun beragam. Mulai dari perencanaan pembuatan aplikasi kesehatan pencegah penyakit gagal ginjal, memberi inovasi digital untuk memperkenalkan dan mengedukasi persoalan penyakit psoriasis dan transplantasi ginjal kepada masyarakat umum Indonesia. Hingga mengelaborasi solusi terapi sel untuk penyakit gagal ginjal kronis.

“Tujuan NYIC adalah untuk melahirkan dan melatih talenta muda Indonesia. Kami berharap, ke depan, seluruh peserta NYIC 2018 terus mengembangkan talenta mereka, untuk menjawab setiap tantangan industri kesehatan yang terus berkembang,” ungkapnya.

Selama tiga hari, 25 peserta diberi pembekalan yang disampaikan oleh para pakar terbaik Indonesia. Tidak hanya di bidang kesehatan saja, tapi berbagai bidang yang memberi materi inovasi.

Para pakar yang terlibat, antara lain Fadli Wihandarwo, Founder Pasienia yang memberikan materi mengenai inovasi di industri kesehatan; Prof. Dr. Budi Wiweko, Deputy Director Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia, yang memberikan ilmu mengenai research and development; Taufik Zuhdi Utomo, Head of Commercial Excellence Novartis Indonesia yang memaparkan tantangan yang dihadapi di industri kesehatan Indonesia, dan lainnya.

Selain itu, Rina Indiastuti, Sekretaris Direktorat Jenderal Belmawa Kemenristekdikti menjadi pembicara dalam rangkaian program NYIC. Pada hari terakhir, beliau salah satu juri untuk menilai dan menyeleksi 25 peserta itu. Melihat hal itu, Novartis ingin menunjukkan kepada para peserta bahwa untuk berinovasi di bidang kesehatan, dibutuhkan lintas disiplin yang dapat membantu dalam pengembangannya dari berbagai sudut pandang.

Sujatmoko menilai, terpilih menjadi lima besar atau tidak, NYIC telah memberikan pengalaman yang mungkin tidak bisa saya dapatkan di kegiatan lain. Bertemu Menteri, Direktur Novartis, dan para pembicara yang menjadi pakar di bidangnya, sudah menjadi pengalaman tidak terlupakan.

“Pembekalan yang disampaikan jadi pembelajaran sangat bermanfaat. Untuk mempertajam kemampuan critical thinking kami,” katanya.

Fahmi Fathurrahman menambahkan, yang membuat NYIC lebih menarik, 25 peserta yang terpilih, tak hanya dari jurusan yang berhubungan dengan kedokteran atau kesehatan. “Kami membukti bagaimana generasi muda merupakan generasi yang wajib kita perhatikan aspirasinya dan berdayakan kemampuannya. Lima talenta muda resmi menjadi bagian dari Management Trainee Novartis Indonesia dan akan bersama kami menjalankan inovasi yang telah direncanakan,” tutup Jorge.

Penulis: Veronica Dilla | Editor: Febriansyah

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi