Nalar.ID

Kementan Ajak Masyarakat Bijak Cerdas Antibiotik

Nalar.ID – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), bersama Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) ECTAD, Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung, Universitas Lampung dan Pinsar Petelur Nasional (PPN) Lampung, menggelar kampanye bijak dan cerdas menggunakan antibiotik.

Kampanye berlangsung di Lapangan KORPRI, Bandar Lampung, 22 November 2019. Kampanye ini merupakan puncak perayaan Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia 2019 di Indonesia.

Dirjen PKH I Ketut Diarmita, yang dibacakan oleh Syamsul Ma’arif, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner; menekankan untuk memerangi laju resistensi antimikroba diperlukan tindakan dari semua pihak.

“Tantangan memerangi laju resistensi antimikroba dan mengendalikan penyakit infeksi baru harus dipandang sebagai kewajiban dan tanggung jawab semua pihak. Semua harus senantiasa berupaya meningkatkan kompetensi profesional dan selalu menjaga agar antimikroba tetap efektif,” ujarnya.

Senada dengan Syamsul, Direktur Kantor Keuangan USAID, Ravindral Suaris, mengakui peran pemerintah Indonesia. Terutama Kementerian Pertanian atas langkah penting mencegah dan mengendalikan resistensi antimikroba.

Sertifikasi NKV

Di sektor peternakan, AMR tak hanya mengancam keberlangsungan kemampuan dalam mengendalikan penyakit infeksi pada ternak tetapi mengancam keberlangsungan ketahanan pangan. Terutama keberlangsungan produktivitas sektor peternakan dalam menyediakan sumber pangan hewani bagi masyarakat.

Menurut Gubernur Lampung Arinal Djuanidi, Provinsi Lampung sangat berkomitmen menangani masalah ini. Salah satu upaya adalah pembinaan, pengawasan peredaran dan penggunaan obat hewan pada ternak melalui Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) pada unit Usaha Peternakan.

NKV adalah sertifikat sah terpenuhinya persyaratan hygiene sanitasi sebagai kelayakan dasar jaminan keamanan pangan asal hewan.

“Sertifikat NKV ini adalah bukti komitmen pemerintah dalam memberikan jaminan keamanan pangan untuk masyarakat. Hingga kini, di Indonesia ada 45 unit usaha budidaya peternakan yang sudah bersertifikat NKV dan 14 (atau 30 persen), diantaranya adalah Budidaya Unggas Petelur di Provinsi Lampung. Atau yang terbanyak di Indonesia,” jelasnya, saat menerima sertifikat perhargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) kepada Gubernur Lampung bersama Ditjen PKH, serta Pinsar Petelur Nasional atas rekor sertifikasi NKV peternakan unggas petelur terbanyak tahun 2019.

Lumbung Ternak

Atas keberhasilan ini, Arinal menyampaikan bahwa Provinsi Lampung sepenuh hati berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan sektor peternakan mulai dari penyediaan fasilitas kredit bagi peternak, sampai mendorong peningkatan nilai tambah dan daya saing produk telur.

Hal ini sejalan dengan cita-cita pemerintah daerah Provinsi Lampung untuk menjadikan Lampung sebagai lumbung ternak Indonesia.

Team Leader FAO ECTAD James McGrane menambahkan, pelaku usaha peternakan dan industri peternakan berperan dalam solusi pengendalian laju resistensi antimikroba.

Menurutnya, peternak perlu menerapkan praktik-praktik peternakan yang baik (good farming practices) dan pencegahan dan pengendalian infeksi (infection prevention and control). Di mana, didalamnya terdapat implementasi biosekuriti tiga zona: vaksinasi tepat, perilaku hidup bersih, dan sehat.

“Ini menjadi solusi pengurangan penggunaan antimikroba di peternakan. Harapannya, dengan peternakan bersih dan terjaga, tercipta ternak yang sehat dan tak mudah terkena penyakit,” ujar James.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi