Nalar.ID

Kementerian PPPA: Anak Indonesia Harus menjadi Pelopor dan Pelapor

Jakarta, Nalar.ID – Pemerintah berkomitmen memenuhi hak anak sesuai amanat konstitusi. Komitmen ini diperkuat dengan melibatkan peran anak-anak Indonesia yang tergabung dalam Forum Anak.

Forum Anak, merupakan mitra pemerintah menyelesaikan permasalahan anak. Forum ini menjadi wadah pemenuhan hak partisipasi anak yang dibentuk berjenjang. Mulai tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan, dengan keanggotaan berbagai kelompok anak.

“Kami butuh peran dan kontribusi langsung anak-anak agar mereka dapat berperan sebagai 2P (Pelopor dan Pelapor),” kata Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Lenny Rosalin, dalam siaran tertulis diterima Nalar.ID, belum lama ini.

Maka itu, pada 2 – 4 November 2018, Kementerian PPPA mengadakan ‘Pelatihan Peran Forum Anak sebagai Pelopor dan Pelapor (2P) Pemenuhan Hak Anak’. Pelatihan ini mengangkat tiga isu nasional sebagai prioritas yang dihasilkan dari pertemuan Forum Anak Nasional 2017 dan 2018, yaitu perubahan iklim, perkawinan anak, dan sehat tanpa rokok.

Dari keterangan Kementerian PPPA, jumlah Forum Anak, hingga Mei 2018, tercatat sebanyak 34 Forum Anak Provinsi dan 418 Forum Anak Kabupaten/Kota.

Bahkan beberapa daerah membentuk hingga kecamatan dan desa atau kelurahan. Sebabnya, Lenny menilai, kegiatan ini sangat strategis mengoptimalkan peran Forum Anak menuju Indonesia Layak Anak (IDOLA) pada 2030 mendatang.

Dengan forum ini, anak-anak akan ditingkatkan kapasitas, pemahaman, pengetahuan, kesadaran, dan perannya sebagai pelopor dan pelapor pemenuhan hak anak.

Pelopor, anak-anak diharapkan dapat memulai aksi atau kontribusi positif dan agen perubahan di nasional dan daerah untuk mengatasi masalah anak di wilayahnya. Sementara, sebagai pelapor, anak-anak dapat melaporkan segala hal soal pemenuhan hak anak lewat berbagai macam saluran yang disediakan negara.

Terkait tiga isu dalam pelatihan ini, Lenny, menyatakan bahwa isu itu merupakan permasalahan yang berhubungan erat dengan kehidupan anak sehari-hari, yaitu:

  1. Perubahan iklim. Ini menjadi ancaman dunia untuk banjir, tanah longsor, kekeringan, dan lainnya. Kesiapsiagaan anak menghadapi bencana akibat perubahan iklim perlu dilatih.
  2. Perkawinan anak. Ini salah satu masalah yang mengganggu tumbuh kembang anak. Dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yakni pasca 2015 adalah menghapus perkawinan anak. Ini didukung oleh 116 negara anggota PBB, termasuk Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 menyebut, angka prevalensi perkawinan anak nasional mencapai 25,71 persen. Artinya, 25,17 persen perempuan pernah kawin usia 20-24 tahun, telah menikah sebelum usia 18 tahun. Praktik perkawinan anak banyak menimbulkan dampak buruk terhadap status kesehatan, pendidikan, ekonomi, keamanan anak perempuan, dan anak-anak mereka.
  3. Sehat tanpa rokok. Rokok menjadi momok bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Selain sebagai perokok aktif, perokok pasif juga memiliki risiko yang tinggi terhadap ancaman kesehatan bagi korbannya. Asap rokok juga menjadikan lingkungan anak menjadi lingkungan kotor dan tak layak bagi kehidupan dan tumbuh kembang anak.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi