Nalar.ID

Kenali Tingkat Depresi dan Pencegahan Bunuh Diri

Nalar.ID – Organisasi World Health Organization (WHO) tahun 2017 mencatat, depresi adalah salah satu gangguan mental yang terjadi di seluruh dunia. Lebih dari 300 juta orang dari segala usia menderita depresi. Bahkan meningkat 18 persen sepanjang 2005 – 2015. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSMMD), tahapan atau tingkatan tindakan depresi, diantaranya jika terlihat penurunan mood atau suasana hati sepanjang hari selama dua minggu.

Lalu penurunan minat aktifitas, rasa salah berlebih, kelelahan atau kehilangan energi, insomnia, penurunan kemampuan berfikir, sulit berkonsentrasi hingga sampai memiliki keinginan mengakhiri hidup.

Dari rilis yang diterima Nalar.ID, belum lama ini, beberapa tahun terakhir, banyak pihak mulai menyadari bahwa kesehatan mental emosional sangat penting untuk ditanggulangi secara medis. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyebut, prevalensinya sudah mencapai 9,8 persen dari penduduk Indonesia. Salah satu gangguan kesehatan mental emosional yang sering kita dengar langsung di lingkungan pertemanan atau sekitar keluarga kita, yaitu depresi dan ansietas.

800 Ribu Tewas Bunuh Diri

Pada kenyataannya di Indonesia, prevalensi diagnosis depresi sebesar 6,1 persen. Sebanyak 91 persen nyaris tidak diobati, karena berbagai alasan. Tentu, gangguan depresi yang tak ditangani bisa menyebabkan bunuh diri. Hampir 800.000 orang di seluruh dunia meninggal karena bunuh diri setiap tahun. WHO memberi pernyataan bahwa gangguan depresi ada pada urutan keempat penyakit di dunia.

Prevalensi gangguan depresi pada populasi dunia adalah 3 – 8 persen, dengan 50 persen kasus terjadi pada usia produktif, yaitu 20 – 50 tahun. Bunuh diri juga merupakan penyebab utama urutan kedua pada ancaman kematian remaja hingga dewasa (usia 15 – 29 tahun). Sehingga penanggulangan masalah depresi dan kesehatan mental menjadi fokus utama.

Baik dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) maupun RSJ Dharmawangsa dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk lebih menyadari pentingnya mengatasi gangguan kesehatan mental.

Tentu, kesadaran akan informasi atau gangguan kesehatan mental ini, bukan hanya menjadi tanggung jawab dokter, rumah sakit atau institusi kesehatan. Namun peran aktif masyarakat, LSM maupun organisasi yang peduli terhadap kesehatan mental masyarakat Indonesia.

Risiko Depresi

Depresi yang tak tertangani dengan baik dapat mengarah ke recurrent atau depresi berulang. Sehingga depresi berat yang menyebabkan berakhir suicide. Direktur Rumah Sakit Sanatorium Dharmawangsa, dr.Richard Budiman, Sp.KJ(K) menyatakan, ansietas murni dan korelasinya dengan depresi dapat diatasi.

“Salah satunya dengan antidepresan yang lebih optimal. Selain itu, penyakit kronis atau sulit disembuhkan sering disertai rasa nyeri tak tertahankan. Korelasinya erat dengan depresi dan ansietas,” kata dr.Richard Budiman, kepada Nalar.ID.

Ketua PDSKJI periode 2019-2022, Dr.dr.Diah Setia Utami, Sp.KJ(K), MARS, menyatakan bahwa depresi dapat diatasi jika pengobatannya tepat. “Peran keluarga dan masyarakat dalam kepatuhan pengobatan pada depresi punya kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas hidup penderita depresi,” kata Dr.dr.Diah.

Ahli psikosomatik, praktisi dan dokter di RS Omni Hospital BSD yang aktif sebagai Youtuber content kesehatan, dr.Andri, Sp.KJ, FCLP menyatakan masalah depresi bisa mengarah ke tindakan suicide. Jika begitu, maka depresi itu lebih didominasi pada gejala sisa, fisik atau nyeri. Ini seringkali tidak berhasil ditapiskan (screening) oleh dokter layanan primer atau dokter spesialis sekalipun.

Selain itu, kerap pada tahapan pengobatan lebih diutamakan atau hanya fokus pada penuntasan gejala fisik. Tapi gejala depresinya justru tak ditangani baik. Menurut data WHO, 65 persen individu pengidap depresi dapat mengalami recurrent episode. Di mana, golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor), sekalipun tak mampu memperbaiki ketidaktuntasan pengobatan yang telah dilakukan.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi