Nalar.ID

Kesiapsiagaan Dapat Kurangi Dampak Bencana

Nalar.ID, Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan,  berdasarkan data BNPB tinggi korban bencana melebihi korban perang.

“Bencana bisa terjadi sewaktu-waktu. Belum ada teknologi yang dapat mencatat secara pasti tanggal dan jam kejadiannya. Terjadinya gempa dan tsunami di masa lalu hendaknya dapat menjadi referensi. Dalam catatan sejarah kejadian bencana banyak disimpan di Leiden University,  Belanda,” jelasnya, kepada Nalar.ID, Sabtu (11/1/2020).

Menurutnya, mitigasi bencana dengan vegetasi lebih efektif ketimbang hanya mengandalkan konstruksi manusia. Tak ada kekuatan konstruksi buatan manusia yang kuat seperti terjadi bencana tsunami dan gempa di Sendai, Jepang.

Konstruksi tersebut rusak akibat gempa dan tsunami. Ini membuktikan kekuatan alam tidak bisa dicegah dengan konstruksi buatan manusia.

Oleh karena itu mitigasi dengan vegetasi dapat lebih kuat dan mencegah ancaman bencana seperti pohon cemara udang, tanaman Vertiver, dan lainnya.

Hutan Pantai

Sebagai gambaran dengan hutan pantai dapat lebih melindungi masyarakat dari ancaman tsunami. Ke depan, untuk generasi mendatang agar lebih siap menghadapi bencana maka dimulai saat ini dapat berbuat lebih banyak dalam penanggulangan bencana untuk keselamatan rakyat kita.

“Sementara, kebakaran hutan yang terjadi 2015 lalu merupakan kebakaran terbesar yang penanggulangannya tidak mudah. Ini terjadi seperti di Australia. Dalam penanggulangannya masih kewalahan dalam  menangani kebakaran,” sambungnya.

Maka itu penanggulangan bencana itu tidak mudah. Perlu kesadaran bersama ikut menanggulangi bersama. Selain itu edukasi bencana sangat perlu dilakukan, terutama yang mengelola kelapa sawit agar tidak membakar lahan dalam memperluas lahan.

Terjadinya banjir longsor dan abrasi dapat diminimalisir dengan kesiapsiagaan. Contohnya, di Konawe Utara. Bupati dan jajarannya berkoordinasi baik dengan BMKG, TNI, Polri dan BPBD untuk mengingatkan masyarakat.

“Sehingga ketika bencana terjadi tidak ada korban. Semua potensi bencana dapat kita cegah dan kita kurangi dampaknya,” tukasnya.

Ancaman bencana lainnya seperti limbah dan kegagalan teknologi. Mengakibatkan kualitas air menjadi buruk. Sehingga air tidak bisa dikonsumsi untuk di minum.

Menuju 2045

Maka itu, kata Doni Monardo, kerusakan lingkungan terjadi oleh sungai- sungai tercemar. Limbah medis juga sangat berbahaya bisa menyebabkan bakteri dan sungai tercemar logam berat.

“Agar tahun 2045 Indonesia menuju Indonesia emas. Apa yang harus dilakukan ke depan. Bapak atau ibu yang mempunyai kebijakan dalam pembangunan harus memperhatikan tata ruang sesuai aturan. Masyarakat agar sayang kepada alam, karena bila tidak kerusakan lingkungan terjadi,” paparnya.

Kerusakan ekosistem menyebabkan dampak yang luar biasa. Kesadaran akan ancaman tersebut perlu ditingkatkan. Oleh karena itu untuk meningkatkan kesiapsiagaan BNPB merancang program Keluarga Tangguh Bencana (KATANA).

Keluarga menurut riset dapat menyelamatkan diri sebesar 65 persen. Sebab itu, kesadaran dimulai dari keluarga. “Kita semua dapat menjadi pahlawan manusia dengan berkontribusi besar dalam penanggulangan bencana,” tambah Doni.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi