Nalar.ID

Ketua MPR Tegaskan Pentingnya Bisnis ‘Friendly bagi Pengusaha

Nalar.ID – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, atau Bamsoet, menekankan stabilitas politik Indonesia yang kini relatif stabil dan kondusif bisa menarik investor datang ke Indonesia.

Terutama dengan dukungan kuat dari lembaga legislatif seperti MPR, DPR, dan DPD kepada Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan, stabilitas politik menjadi kunci percepatan akselerasi pembangunan dan peningkatan perekonomian nasional.

Bamsoet menjelaskan, dukungan kuat legislatif kepada eksekutif itu harus ditunjang dengan kinerja tim ekonomi Kabinet Indonesia Maju yang fokus mengurus perekonomian yang menyangkut urusan rakyat.

“Saya mendorong rekonsilasi nasional di bidang ekonomi dengan membangun iklim usaha yang bisnis friendly dalam mencapai penerimaan pajak sesuai target penerimaan APBN tanpa melakukan peneriksaan. Respon positif dari investor soal kondisi politik di Indonesia harus dimaksimalkan. Jangan sampai tim ekonomi lengah dan investor yang sudah mau datang malah pergi ke negara lain,” kata Bamsoet, saat menerima Ketua Parlemen Singapura, H.E. Mr. Tan Chuan Jin, di ruang kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Senin (18/11).

Win Solution

Bamsoet juga menambahkan, dengan rekonsilasi nasional seperti di Afrika Selatan di era Nelson Mandela, maka akan ada semangat kebersamaan dan gotong royong bersifat win-win solution. Semangata ini antara dunia usaha dengan dalam menghadapi situasi ekonomi dunia yang makin memburuk akibat ancaman resesi dan perang dagang Amerika Serikat dengan China.

Ia juga mengajak parlemen Singapura menguatkan ASEAN menjadi komunitas ekonomi yang solid. Sehingga dalam menghadapi perang dagang Tiongkok – Amerika, negara-negara ASEAN tak menjadi korban. Melainkan entitas kekuatan yang dibutuhkan oleh Tiongkok atau Amerika.

“World Bank mencatat, Produk Domestik Bruto (PDB) ASEAN di 2018 yang mencapai USD 3,03 triliun, menandakan kuatnya perekonomian ASEAN ditengah perang dagang Tiongkok – Amerika. Jika kita solid dan kuat membangun kerjasama, perang dagang Tiongkok – Amerika yang tak jelas kapan selesainya, tak akan ganggu pondasi perekonomian negara-negara ASEAN,” tuturnya.

Jaga Hubungan Perekonomian

Ia menjelaskan, data World Bank, dengan perolehan PDB Singapura 2018 mencapai USD 364,139 miliar dan Indonesia USD 1,04 triliun. Ini memperlihatkan betapa kuat perekonomian kedua negara. Maka, penting bagi Indonesia dan Singapura terus meningkatkan hubungan perekonomian.

“Tahun 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai perdagangan Indonesia – Singapura mencapai USD 34.354,5 juta. Dengan defisit berada di Indonesia mencapai minus USD 8.524,4 juta. Sangat penting bagi tim ini memperhatikan hal itu. Agar neraca perdagangan kedua negara bisa relatif seimbang,” jelasnya.

Sebagai penyeimbang neraca perdagangan, mengajak Singapura terus meningkatkan investasi di Indonesia. Menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai investasi penanaman modal asing (PMA) Singapura di Indonesia tahun 2018 mencapai USD 1,7 miliar. Atau sekitar 24 persen dari total PMA yang masuk ke Indonesia.

“Hingga kuartal III 2019, nilai investasi sudah meningkat USD 1,9 miliar (27,1 persen dari total PMA). Tetap jadi peringkat pertama investor di Indonesia. Di 2020, dengan stabilitas politik lebih kondusif, kita harapkan investasi itu bisa lebih meningkat. Apalagi pemerintah Indonesia dan DPR RI akan mengeluarkan Omnibus Law untuk mempermudah masuknya investor dan meningkatkan perekonomian, serta kesejahteraan nasional,” pungkasnya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi