Nalar.ID

Ketum Asparnas: Pembangunan Bandara Mentawai Diharap Genjot Pariwisata Mentawai

Nalar.ID, JAKARTA – Pembangunan Bandar Udara Mentawai di Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat ini, nyaris rampung. Semula, bandara dengan nama Bandara Rokot itu dikebut pembangunannya dalam akselerasi pembangunan infrastruktur.

Tujuannya, guna menunjang mobilitas dari dan ke Mentawai. Ketua Umum Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas), Dr. Ngadiman berharap, keberadaan Bandara Mentawai ini dapat menggenjot perkembangan pariwisata di Mentawai.

Diketahui, bandara itu dibangun untuk menggantikan bandara lama, yaitu Bandara Rokot Sipora yang sudah tak memungkinkan dikembangkan lagi karena dibatasi laut lepas.

Bandara Mentawai yang baru ini memiliki panjang runway 1.500 x 30 meter, sehingga bisa dilandasi pesawat lebih besar ATR 72-600 berkapasitas maksimal 78 penumpang. Sebelumnya, bandara yang lama hanya bisa dilandasi pesawat Cessna Grand Caravan berkapasitas 12 orang dengan panjang runway 850 x 23 meter.

“Ini yang kita tunggu-tunggu selama ini, kapan Mentawai ada airport-nya. Kita semua tahu perkembangan pariwisata sangat tergantung pada kemudahan mancapai tempat wisata itu. Begitu pula biayanya. Sekarang, ada harapan besar atas perkembangan pariwisata yang akan semakin berkembang dan maju  di sana,” kata Dr. Ngadiman, dalam keterangan resmi kepada Nalar.ID, Minggu (10/9/2023). 

Dari segi wisatawan, diakui Ngadiman, tentu saja akan membuat wisatawan sangat gembira. Sebab, mereka bisa ke lokasi wisata lebih cepat dan nyaman. Termasuk biaya yang lebih murah.

Menurut Owner Loccal Collection Hotel di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur ini, bagi investor, kehadiran Bandara Mentawai akan sangat bermanfaat untuk pembangunan infrastruktur pariwisata, seperti  pembangunan hotel dan berbagai sarana wisata. Selain itu, keuntungan bagi Pemerintah Daerah Mentawai adalah meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

“Keuntungan yang didapat oleh masyarakat setempat, antara lain potensi terbukanya lapangan pekerjaan dan usaha-usaha turunan lainnya. Semoga ini menjadi babak baru perkembangan pariwisata Mentawai ke depan untuk semakin maju,” papar Dr. Ngadiman, yang juga seorang dosen dan pengusaha jasa konsultasi perpajakan dan keuangan, serta industri real estat dan perhotelan ini.

Dalam kesempatan serupa, Ketua Bidang Hukum Asparnas Rinto Wardana Samaloisa menyatakan bahwa kelas dan kapasitas Bandara Rokot memang sudah seharusnya ditingkatkan.

Sebab, keberadaan bandara menjawab persoalan transportasi yang kerap dikeluhkan untuk datang ke Mentawai. Setelah itu, harus dibuat transportasi penghubung antar pulau. Di mana, pelabuhan harus dibuat diu jung Pulau Sipora, seperti di Katiet atau Sao, yang dekat dengan Pulau Pagai Utara sehingga penyeberangan dari Pagai Utara ke Sipora dapat diperpendek.

“Begitu pula di Pulau Siberut yang dekat dengan Sipora, harus dibuat pelabuhan. Jika ini dapat dilakukan maka arus mobilitas warga dan para turis di keempat pulau utama di Mentawai tidak ada kendala lagi,” ungkap Rinto, salah satu penggagas nama Bandara Mentawai ini.

Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi