Nalar.ID

Lantik 96 Pejabat Baru, Ini Target Kemensos

Nalar.ID – Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita memimpin pelantikan Pimpinan Tinggi Pratama, Pengawas, dan Administrator di Kementerian Sosial RI, Jakarta, Kamis (11/07) lalu.

Menurutnya, pelantikan ini didasarkan atas kebutuhan organisasi. Seperti pegawai yang pensiun dan meninggal sehingga perlu penyegaran, rotasi, dan promosi.

“SDM (sumber daya manusia) yang direkrut sudah diseleksi. Khususnya SDM yang mumpuni untuk memangku jabatannya. Penempatan pegawai sudah melalui proses dan prinsip good governance sesuai aturan dan setransparan mungkin,” kata Mensos Agus, kepada media.

Mensos melantik 96 pejabat. Mereka terdiri atas 12 Pejabat Tinggi Pratama. Mereka dikukuhkan berdasarkan Keputusan Menteri Sosial No.Orpeg.14B-VII-40/2019. Lalu, 30 pejabat berdasarkan Keputusan Menteri Sosial No.Orpeg.14B-VII-41/2019. Serta 54 pejabat administrator sesuai Keputusan Menteri Sosial No.Orpeg.14B-VII-42/2019.

Kepada mereka yang dilantik, Agus berharap, pejabat terpilih bisa memberi pelayanan lebih baik dan responsif kepada Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). “Beberapa pejabat dalam rotasi ini sengaja dipilih yang lebih berpengalaman untuk ditempatkan ke fungsi-fungsi lebih kompleks,” katanya.

Menyinggung beberapa pos jabatan yang masih kosong, ia mengatakan bahwa pihaknya sedang menempuh proses seleksi dengan model seleksi terbuka (open bidding).

Pencari Suaka

Terkait gelombang pencari suaka yang sebagian tiba di Indonesia, ia menyatakan bahwa penanganan pencari suaka ada ranah Komisioner Tertinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR). Meski begitu, Kemensos tetap hadir memberikan penanganan dengan pertimbangan kemanusiaan dan memerhatikan batas yang diatur dalam undang-undang.

“Saat ini peksos (pekerja sosial) sudah berada diantara pengungsi dengan fokus ke kelompok rentan terutama anak-anak dengan memberikan terapi psikologis ke mereka,” katanya.

Kontribusi Kemensos juga didasarkan pada kenyataan bahwa fenomena pencari suaka inimerupakan bencana sosial yang ada di tugas dan fungsi Kemensos.

“Petugas dari Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) sudah menangani masalah ini. Ini antisipasi, jangan sampai masalah pencari suaka menimbulkan ekses-ekses sosial ke masyarakat,” ucapnya.

Terkait gagasan untuk merevisi batasan lanjut usia dari 60 menjadi 65 tahun, Mensos menyatakan, ini didasarkan atas berbagai fakta ril. Banyak bukti menunjukkan, usia 60 tahun tidak identik dengan ketidakberdayaan.

“Justru banyak masyarakat usia 60 tahun masih aktif dan produktif. Survei menunjukkan, usia harapan hidup masyarakat kita makin meningkat. Kalau merujuk data Pemerintah Provinsi Jawa Barat, usia harapan hidup di sana mencapai 72 tahun,” tukasnya.

Dengan berbagai fakta di atas, Mensos menyatakan, selayaknya batasan usia lansia sesuai amanat UU No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, bisa disesuaikan menjadi 65 tahun.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi