Nalar.ID

Larangan Kantong Plastik Bikin Pengusaha Ritel Rugi

Jakarta, Nalar.ID – Pemerintah segera melarang penggunaan kantong plastik saat berbelanja di pusat perbelanjaan. Alhasil, pengusaha ritel meradang. Mereka mengakui, larangan penggunaan kantong plastik berpotensi merugikan toko ritel modern.

“Dampak dari larangan ini bikin masyarakat enggak mau belanja ke ritel modern. Sampai sekarang, kami belum hitung-hitungan soal kerugian terkait aturan ini. Dampaknya enggak cuma ritel, tapi juga industri plastik, dong,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey, dalam keterangan, di Jakarta, Rabu (21/11).

Karena aturan mulai diberlakukan tahun ini, Roy, belum bisa memastikan dan mengkalkulasi angka kerugian. Meski begitu, yang terkena imbas memang industri ritel dan plastik. Itu otomatis,” sambungnya.

Ia mengimbau, kalau larangan diterapkan, setidaknya, masyarakat harus di edukasi terlebih dahulu. Kalau tidak, katanya, masyarakat akan dibuat bingung atas pelarangan ini. “Akhirnya, masyarakat jadi enggak mau belanja (ke toko ritel modern dan kacau. Misalnya, yang sudah terlanjur beli dan ambik, tiba-tiba enggak jadi dan batalin transaksi-nya,” imbuhnya.

Dari catatan dan pengamatan Roy, sejauh ini, sejumlah kota telah menerapkan larangan ini di toko ritel modern. Mulai dari Bandung, Balikpapan, Banjarmasin, Bogor, dan Jakarta. Jika aturan ini meluas ke wilayah lain, sambungnya, ritel akan semakin merugi. “Seharusnya pemerintah memahami kebutuhan kami. Jangan ganggu sektor usaha ini,” tandasnya.

Pengusaha ritel meminta pemerintah daerah (pemda) tak diskriminatif soal pelarangan ini. Sebab, selama ini, penggunaan kantong plastik hanya menargetkan toko-toko ritel modern. “Selama ini, kami ikut aturan (pemerintah). Termasuk memakai kantong plastik ekolabel berstandar SNI (standar nasional Indonesia),” ungkapnya.

Aturan tak berhenti sampai disini. Pemerintah, menurut Aprindo, terkesan terus menyasar ritel modern. Padahal, kata Roy, jumlah ritel modern nasional atau seluruh Indonesia, jauh lebih kecil ketimbang pasar kelontong atau tradisional.

Aprindo, mendata, ritel modern tak lebih dari 4.000 toko. Sementara, pasar atau toko tradisional, jumlahnya mencapai 3 juta. “Jumlah penggunaan plastiknya (dari pasar tradisional) justru lebih besar, kan. Terlebih, plastiknya belum tentu SNI,” tukasnya. Aprindo, berharap, pemerintah mau membenahi hal ini agar tak terkesan diskriminasi.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ezar Radinka

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi