Nalar.ID

LDII: Sepertiga Anak Indonesia Alami Learning Poverty

Nalar.ID –  Menghadapi disrupsi akibat pesatnya perkembangan teknologi, pemerintah Indonesia mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM). LDII, atau Lembaga Dakwah Islam Indonesia menilai upaya itu belum  menemukan filosofinya.

“Abad 21 menuntut setiap bangsa mampu berinovasi untuk menyelesaikan persoalan masing-masing. Tentu dengan ciri masing-masing persoalan. Persoalan Indonesia abad 21 harus diselesaikan dengan cara-cara abad 21,” kata Ketua LDII, Prasetyo Sunaryo, didampingi oleh dalam jumpa pers di Kantor LDII di Patal Senayan, Jakarta, Senin (30/12/2019).

Prasetyo menyontohkan, dunia transportasi abad 21 bakal menuju mobil listrik. Maka, SDM harus berkemampuan mengelola teknologi mobil listrik. Tentu saja dengan kesiapan infrastruktur pendukung.

Waspadai Learning Poverty

Mengenai keterpurukan Indonesia di bidang ekonomi dan bidang lainnya, Prasetyo mengutip laporan Bank Dunia. Laporan itu menyebut, Indonesia darurat learning poverty, alias miskin belajar.

Meski Indonesia memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada posisi 111 dari 189 negara dengan kualitas hidup manusia membaik, namun keadaan ini masih mengkhawatirkan. Menurutnya, sepertiga anak-anak Indonesia mengalami learning poverty.

“Generasi muda kita sedang dalam posisi learning poverty. Artinya, terdapat kesulitan belajar dan malas belajar. Ini harus diantisipasi untuk meningkatkan kualitas SDM ke depan,” tukasnya.

Solusinya, menurut Prasetyo, semua pihak harus memberantas malas belajar. Berikutnya, kemampuan membaca harus diperbaiki. Di mana, dalam tes membaca harus semakin ditingkatkan. Pendidikan juga harus diarahkan pada terbangunnya budaya dan semangat belajar seumur hidup.

“Menyiapkan pendidikan berkualitas merupakan tantangan seluruh komponen bangsa dan tanggung jawab bersama. InI agar terwujud SDM berkualitas sesuai kebutuhan bangsa Indonesia di abad 21,” jelasnya.

Diketahui, dalam bidang pendidikan, LDII telah mencanangkan program Tri Sukses, yakni mewujudkan generasi penerus yang alim-fakih, atau memiliki pengetahuan dan pemahaman agama yang kuat. Program ini dijalankan di semua pondok pesantren dan lembaga pendidikan LDII.

Penulis: Adji T. Pratama | Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi