Nalar.ID

Mencintai Budaya Indonesia Lewat Busana

 Nalar.ID – Kain nusantara dan kebaya, memang identik dengan busana tradisional di Indonesia. Dalam beberapa kali kesempatan, busana tersebut dipakai dalam acara resmi atau kedaerahan.

Namun, tidak bagi Sisca Rumondor dan sekitar 30-an perempuan yang tergabung dalam Komunitas Bunda dan Milenial Berkebaya. Di Kota Tua, Jakarta Barat, mereka berkumpul, menyuarakan, saling berkenalan atau silaturahmi, Selasa (6/8) petang. Baik sesama anggota kelompok atau warga sekitar.

Selain foto bersama, mereka turut membawa poster imbauan ajakan. Seperti tulisan ‘Cantik Berkebaya’, ‘Cintai Budaya Indonesia’, ‘Selasa Berkebaya’, hingga ‘Lestarikan Budaya Indonesia’.

Kampanye di Medsos

“Di tengah halaman (Kota Tua), Kami juga menari Tobelo asal Maluku. Banyak juga dilihat pengunjung wisatawan asing. Diakhiri membuat vlog ajakan, tayang di media sosial dan YouTube. Vlog, lebih ke ajakan dan imbauan untuk cinta budaya sendiri bahwa memakai kain dan kebaya adalah simple dan nyaman. Berspatu sneaker atau flat shoes dan kain yang enggak harus ketat. Baju kebaya nyaman dan sopan, sangat bisa dipakai sehari-hari,” tukas Sisca, sang koordinator.

Komunitas Bunda dan Milenial Berkebaya - nalar.id
Komunitas Bunda dan Milenial Berkebaya tengah berkumpul di KotaTua, Jakarta, Selasa (6/8). NALAR/Ceppy F. Bachtiar.

Selain itu, Kota Tua dipilih karena salah satu cagar budaya di Jakarta yang wajib dikunjungi dan dikenal adalah Kota Tua. Daerah ini juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia). Dijuluki ‘Permata Asia’ dan ‘Ratu dari Timur’ abad ke-16 oleh pelayar Eropa. Di sekitar Kota Tua, juga banyak museum yang harus dilihat dan diperkenalkan. Era itu, cara berpakaian perempuan Indonesia adalah dengan kain dan berkebaya.

Sisca beralasan, membuat kegiatan tersebut karena Indonesia sangat kaya akan budaya. Hal ini bisa tercermin melalui pakaian adat masing-masing daerah.

Khusus untuk perempuan, lanjutnya, lebih banyak memakai kain untuk bawahan dengan segala motif dan sentuhan budaya bervariasi serta aneka warna yang cantik. Sementara kebaya, sejak zaman dahulu, pakaian yang dikenakan adalah berpotongan kebaya dan dipakai untuk aktivitas sehari-hari.

Selasa Berkebaya

“Memakai kain dan berkebaya, atau model sejenisnya, sebenarnya bukan hal baru karena sering dipakai acara-acara khusus, istimewa, pernikahan, atau memeringati sesuatu,” tambahnya.

Namun, kata Sisca, imbauan aktivitas ini baru sekitar 5 atau 6 bulan lalu direncanakan dan dibuat berkelanjutan. Diantaranya, melalui tagar SelasaBerkebaya.

“Kalau Jumat, pakai hari Batik. Selasa, memakai kain nusantara dan kebaya. Ini baru ajakan sederhana. Tapi kalau sudah menjadi habit atau kebiasaan, bisa dilakukan enggak harus hari Selasa, di hari lain pun silahkan,” ungkapnya.

Bagaimana menularkan virus kepada milenial agar mau mengenakan kain dan berkebaya? Kata Sisca, dimulau dari keluarga. Bagi yang memiliki anak perempuan, sesekali ajak bersama anak memakai kain nusantara.

“Memang enggak mudah, tapi itulah tantangan bersama. Cara lainnya, bisa dengan catwalk atau wara-wiri di tempat umum. Misalnya di mal atau tempat umum lainnya,” tutupnya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi