Nalar.ID

Mengenal ‘Domain Squatting’, Jual-Beli Domain di Pilpres 2019

Nalar.ID, Jakarta – Aksi jual-beli domain nama pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2019, meningkat tajam usai deklarasi paslon pada 9 Agustus 2018. Ada sejumlah domain menggunakan nama paslon yang diperjual belikan dengan nilai fantastis hingga miliaran.

Domain yang dimaksud adalah jokowimaruf.id, prabowosandi.id, prabowosandi.com, dan jokowimaruf.com. Gilanya, domain tersebut ada yang dilego dengan harga selangit hingga Rp 2 miliar.

Ketua Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) Andi Budimansyah, dihubungi Senin (13/8), mengatakan, sejatinya, pendaftaran domain bersifat sah sebab didasarkan pada tiga prinsip yang diamanatkan Undang-undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Prinsip pertama, kata Andi, adalah pendaftar pertama. Kedua, tidak melanggar hak-hak orang lain. Terakhir, tidak menghambat persaingan usaha.

Keempat pemilik domain tersebut, akhirnya terungkap, seperti dikutip dari pemberitaan tirto.id, Senin (13/8). Informasi dimulai dari pemilik domain jokowimaruf.com dan jokowimaruf.id. Dua domain itu dimiliki pria bernama Aditya Murti dari Purwodadi, Jawa Tengah. Ia mengaku, membeli domain itu pada Kamis (9/8) petang, sebelum Jokowi mengumumkan nama bakal calon wapres di Menteng, Jakarta Pusat.

Aditya ‘mengamankan’ nama-nama domain demi alasan bisnis. Ia memasang harga Rp 2 miliar. “Tapi bisa di nego. Saya beli domain itu (.id) cuma Rp 250 ribu. Kalau domain (.com) Rp 100 ribu,” katanya.

Selain faktor bisnis, Aditya beralasan, motifnya membeli domain itu agar nanti tidak diselewengkan pihak-pihak tak bertanggung jawab. Seperti menyebar hoaks, misalnya.

Pendapat serupa juga diakui M. Sigit Saputra, pria asal Jakarta, pemilik domain prabowosandi.id dan prabowosandi.com. Ia mengakui ingin menjual domain seharga Rp 1 miliar juga karena alasan ekonomi tanpa embel apa-apa. Kedua domain sudah dibeli Sigit sejak Kamis (9/8) siang. “Supaya bisa beli rumah untuk anak istri. Ada kepuasan pribadi misal dipakai untuk domain resmi paslon,” katanya.

Baik Sigit dan Aditya, mengaku tidak terafiliasi dengan pasangan manapun di pilpres 2019. Namun, menurut Ketua PANDI, membeli domain dan menjual kembali dengan harga tinggi bukan itikad baik. “Ini disebut sebagai cyber squatter. Istilahnya, orang-orang yang memperjualbelikan untuk kepentingan sendiri untuk mengambil keuntungan,” kata Ketua PANDI Andi Budimansyah.

Hal senada diungkapkan pengamat TI dari Vaksincom Alfons Tanujaya. Ia menilai, penjualan domain dengan harga mahal biasa disebut domain squatting. “Ini (domain squatting) seperti investasi. Ibarat sebuah kavling tanah atau kios bangunan bersifat unik dan enggak ada duanya. Buat orang tertentu, kavling bisa bernilai tinggi. Tapi buat orang lain akan enggak berarti,” lanjutnya.

Hanya saja, kata Alfons, dari sisi keamanan, membeli domain sama dengan membeli dari pengelola resmi. “Sehingga dari sisi security cukup aman karena ada proses transfer domain dari pengelola domain. PANDI bisa transfer domain kalau pemilik domain lama membolehkan,” katanya.

Mekanismenya, lanjutnya, dengan mengisi data atau formulir dan dikirim ke PANDI dari email yang dimiliki domain tersebut. “Itu aturan internasional untuk semua domain di dunia. Tapi domain squatting, kan untung-untung-an juga. Karena nama domain banyak variasi dan tergantung yang berkepentingan apakah merasa perlu bayar mahal atau enggak,” lanjutnya.

Penulis: Erha Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi