Nalar.ID

Mengenal Vetiver dan Agroforestri, Cara Presiden Cegah Erosi dan Sedimen 

Saban tahun, Waduk Gajah Mungkur Wonogiri menerima sedimen 3,2 juta meter kubik, padahal telah dikeruk. Presiden Jokowi menyiapkan 50 juta bibit vetiver untuk ditanam di sejumlah daerah pemicu longsor.

****

Nalar.ID, Wonogiri – Suasana meriah dan antusias menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan rombongan ke Wonogiri, Jawa Tengah, Sabtu (15/2/2020) pagi.

Saat iring-iringan kendaraan Jokowi melintasi ruas jalan menuju Desa Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, puluhan siswa sekolah dasar berseragam menyambut di tepi jalan. Seruan dan yel-yel kepada Jokowi dan rombongan memecah suasana.

Tak lama, kendaraan Jokowi yang ditunggangi, Mercedes-Benz S600 Guard, menepi sejenak. Dari dalam mobil, Jokowi membagikan sejumlah buku kepada para siswa tersebut. Sontak, puluhan siswa berlari ke arah mobil Jokowi. Para siswa menyemut di area kendaraan Presiden.

Seusai sekitar satu menit membagikan buku, Jokowi kembali meneruskan perjalanan ke Desa Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, lokasi utama kunjungan.

Di desa tersebut, Jokowi dan rombongan tiba sekitar pukul 09.30 WIB untuk meninjau kebun bibit dan penahan erosi. Kedatangan Jokowi kembali disambut hangat masyarakat yang telah menantinya sejak pagi. Bahkan Jokowi ikut melayani permintaan foto masyarakat.

Selain Jokowi, tampak pula dalam kunjungan ini, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan sejumlah pejabat lainnya. Jokowi memukul kentongan sebagai tanda dimulainya kegiatan penghijauan di wilayah tersebut.

Diketahui, desa tersebut merupakan bagian dari daerah aliran sungai (DAS) kedua yang cukup berandil besar atas sedimentasi ke Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri.

Tanaman Produktif
Di wilayah ini akan dilakukan penanaman agroforestri porang–perpaduan penanaman hutan dan pertanian–dan rumput vetiver, atau biasa disebut akar wangi, sebagai upaya nyata dalam mencegah terjadinya banjir.

Menurut Jokowi, upaya reboisasi tidak cukup hanya dengan menanam ribuan pohon. Tetapi, harus dengan menanam kembali jutaan tanaman seperti vetiver, atau tanaman untuk mencegah longsor atau erosi tanah.

“Sebanyak 3,2 juta bibit sedimen yang masuk ke waduk (Gajah Mungkur, Wonogiri). Kenapa itu ada, (karena) setiap tahun dikeruk. Yang penting ini, barang ini, vetiver. Jadi, kombinasi antara sengon dengan vetiver. Ini akan di tanam di tempat-tempat yang curam, mudah longsor, hingga tempat-tempat di hulu yang fungsinya untuk mengikat tanahnya. Itu penting,” kata Jokowi, sambil menunjuk salah satu tunas vetiver, dihadapan warga sekitar.

Jokowi menegaskan, Waduk Gajah Mungkur setiap tahun menerima sedimen sebanyak 3,2 juta meter kubik. Padahal, kata Jokowi, waduk itu telah dilakukan pengerukan.

Presiden ke Wonogiri - nalar.id
Kunjungan Presiden Jokowi ke Wonogiri, Jawa Tengah pada 15 Februari 2020. NALAR/ Dok.BPMI Setpres

Jokowi mengimbau kepada pemerintah daerah agar melakukan penanaman kembali hingga jutaan tanaman, seperti vetiver.

“Selama ini pengerukan waduk kurang tepat mengurangi sedimen. Padahal, dalam banyak kasus, sedimen yang masuk ke dalam waduk itu bisa dicegah dengan memperbaiki ekosistem di hulu. Ini harus dijalankan,” jelasnya.

Ia menilai, sedimentasi tersebut pada akhirnya dapat memperpendek usia waduk dari yang telah diperkirakan sebelumnya. Maka itu perlu upaya pengendalian erosi dan sedimentasi di sekitar wilayah itu.

“Caranya melalui rehabilitasi hutan dan lahan. Yang saya lihat, semua waduk, seperti di Sulawesi, Sumatra, sampai Jawa, semua masalah sedimen diselesaikan dengan dikeruk. Itu keliru. Selesaikan lewat hulunya dengan tanaman ini (vetiver). Ini akan menyelesaikan masalah,” tukasnya.

Ekonomi Tinggi
Jokowi tidak ingin seperti contoh Waduk Gajah Mungkur yang saban tahun menerima sedimen sebanyak 3,2 juta meter kubik. Setiap tahun, waduk itu dikeruk dan sedimen selalu ada pada tahun berikutnya.

“Karena hulunya enggak pernah diurus. Ini yang mau kami urus,” sambungnya.

Diketahui, tanaman vetiver bekerja layaknya besi kolom bangunan yang masuk menembus lapisan tanah. Lalu, di saat yang bersamaan menahan partikel tanah dengan akar serabutnya. Ini bisa mencegah erosi oleh angin dan air, sehingga mampu mencegah longsor.

Selain itu, lanjut Jokowi, di sekitar lokasi penanaman vetiver turut ditanam tanaman-tanaman produktif lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Diantaranya kelengkeng, sengon, sirsak, petai, durian, alpukat, dan lainnya. Lalu diikuti dengan pembangunan teras tangga pada lahan dan dam penahan erosi.

Nantinya, tanaman-tanaman produktif tersebut setelah empat bulan berjalan akan dibagikan kepada masyarakat. “Ini dari sisi ekonomi dapat, tetapi fungsi-fungsi lingkungan hingga fungsi-fungsi untuk merawat air yang dari hulu tetap bisa berjalan,” tambah Jokowi.

Dalam kunjungan ini, Jokowi dan Ibu Negara, ikut melakukan penanaman vetiver bersama masyarakat. Dalam kunjungan ini, selain Gubernur Ganjar, turut mendampingi Jokowi, ada Menteri Lingkungan Hidup, Kehutanan Siti Nurbaya; Menteri Sekretaris Negara, Pratikno; dan Staf Khusus Presiden Fadjroel Rachman.

Rehabilitasi Lahan TNGM
Pelestarian lingkungan tak hanya dilakukan di Wonogiri. Sehari sebelumnya, atau Jumat, 14 Februari 2020, Jokowi beserta rombongan mengunjungi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Jurang Jero, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Di lokasi itu, ia bersama masyarakat melakukan penanaman pohon serentak. Penanaman pohon itu bagian dari upaya rehabilitasi hutan dan lahan di sekitar kawasan TNGM.

Di kawasan TNGM, ada 30 desa penyangga yang dihuni lebih-kurang 107.448 jiwa. Kawasan lereng Gunung Merapi dengan aneka potensi alamnya akan menjadi pendukung bagi daerah-daerah permukiman di bawahnya. Selama itu dikelola dan dikonservasi dengan baik.

Maka itu, Jokowi mengajak kerja sama berbagai pihak untuk mengembalikan dan menjaga kelestarian lingkungan. Terutama di kawasan itu. “Kita ingin mulai hal-hal yang berkaitan dengan ekosistem flora dan fauna. Menaman kembali dan reboisasi di kawasan yang sering longsor atau banjir,” sambung Jokowi.

Dalam penanaman serentak bersama masyarakat setempat di kawasan TNGM itu, Jokowi ikut menanam pohon Pulai (Alstonia scholaris) setinggi lebih-kurang tiga meter.

Sebelumnya, Jokowi terlebih dahulu meninjau kebun bibit desa yang dibangun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama masyarakat setempat di daerah TNGM. Kebun bibit desa ini jadi salah satu pendukung upaya rehabilitasi hutan dan lahan di TNGM. Di kebun itu, ia melihat melimpahnya ketersediaan bibit tanaman.

“Sebagian besar memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ini dapat memberi manfaat untuk masyarakat sekitar kalau dibudidayakan,” katanya.

Oleh karena itu, kepada masyarakat dan pemda setempat, Presiden meminta untuk ditanam di wilayah yang memiliki potensi bencana banjir dan longsor. Vetiver memiliki kemampuan menahan gempuran aliran hujan deras dan menjaga kestabilan tanah, sehingga mencegah tanah longsor dan erosi.

“Akarnya (vetiver) 3-4 meter, bisa memperkuat tanah-tanah di kemiringan,” tukasnya.

Jokowi menyampaikan, pihaknya memiliki stok 50 juta bibit vetiver seperti ini yang bakal terus dibawa ke sejumlah wilayah yang kerap longsor.

Penulis: Febriansyah, Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi