Nalar.ID

Pacu SDM Perempuan Kuasai Teknologi Industri 4.0

Nalar.ID, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) giat menyiapkan sumber daya manusia industri yang kompeten dalam penguasaan teknologi terkini. Upaya ini mendukung penciptaan inovasi dan meningkatkan produktivitas sektor industri agar lebih berdaya saing di kancah global.

“Langkah strategis itu sesuai program prioritas di peta jalan Making Indonesia 4.0. Kami siap mengembangkan SDM andal yang bisa ikut perkembangan industri 4.0,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Arus Gunawan di Jakarta.

Kepala BPSDMI menyampaikan, SDM terampil jadi salah satu kunci utama mendongkrak kemampuan industri, selain melalui investasi dan teknologi. “Indonesia memiliki modal besar dari ketersediaan SDM produktif karena sedang menikmati masa bonus demografi hingga tahun 2030,” ungkapnya.

Berdasarkan aspirasi besar Making Indonesia 4.0, Indonesia ditargetkan masuk jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia tahun 2030. Kemenperin telah menginisiasi beragam program dan kegiatan terkait pendidikan vokasi industri.

Arus menambahkan, pihaknya proaktif mengajak berbagai pihak mewujudkan SDM Indonesia yang unggul, khususnya di sektor industri. “Dengan kolaborasi antara stakeholders, tujuan akan lebih mudah terlaksana dan tepat sasaran,” tuturnya.

Menurut Iken, peran kesetaraan gender di Indonesia sangat diperlukan. “Berdasarkan Mckinsey Global Institute Report (2015), pertumbuhan kesetaraan gender sebesar 10% diyakini mampu meningkatkan GDP sebesar USD135 juta pada 2025 dibandingkan dengan kondisi business as usual,” ungkapnya.

“Menurut data BPS, ada sekitar 57% perempuan keluar dari pekerjaan. Kita butuh desain pekerjaan masa depan yang fleksibel untuk membantu para perempuan melakukan pekerjaaanya,” ujar Eni.

Lead Adviser, Markets Prospera Julia Tijaja mengemukakan, potensi digital bisa dioptimalkan untuk sektor-sektor tradisional, seperti jumlah partisipasi wanita dalam pendidikan vokasi yang cukup banyak. “Ke depan, peran industri akan menjadi sangat penting. Kolaborasi ini perlu kita optimalisasi,” jelasnya.

Menurut studi dari UNESCO pada 2015, rendahnya tingkat partisipasi pekerja perempuan di bidang industri disebabkan oleh persepsi bahwa lingkungan kerja di industri yang melibatkan pekerjaan fisik dan dominan pekerja laki-laki, sehingga tidak menarik bagi pekerja perempuan.

Berdasarkan Sakernas BPS tahun 2020, jumlah pekerja pada sektor industri sebanyak 17,48 juta dengan proporsi pekerja perempuan sebesar 43,68%, atau menunjukkan jumlah yang cukup tinggi.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi