Nalar.ID

Peduli Lapas Anak di Bandung, Yayasan Ini Tekankan Hak Asasi dan Pendidikan

Jakarta, Nalar.IDSejumlah relawan Yayasan Trikusuma Bangsa pimpinan Ani Kusuma Dewi menyambangi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Sukamiskin di Bandung, Jawa Barat, 28 Januari lalu.

Kedatangan mereka menghibur puluhan anak binaan di lapas itu. Dengan tema Peduli Anak Indonesia, kunjungan ini bagian dari bentuk kepedulian para relawan terhadap misi kemanusiaan.

Dengan konsep acara sederhana, mereka menghibur anak-anak binaan dalam berbagai usia dan status tahanan. Tak hanya bersenda gurau, para relawan juga membuka ‘tawaran’ peluang kerja pasca anak-anak ini selesai masa tahanan.

Ada satu sesi bincang, ketika anak-anak ‘ditodong’ mempunyai minat bakat apa saja.

“Relawan kami profesi macam-macam. Ada chef, musisi, sampai pengusaha es krim. Misal, saat chef tanya, siapa suka masak. Ada 5 anak maju. Setelah mereka keluar (dari lapas), anak-anak bisa info dan melamar pekerjaan ke kami. Seperti (relawan) dari musisi atau lainnya,” kata Kenshie, salah satu relawan Yayasan Trikusuma Bangsa, dihubungi Selasa (5/2)

Hapus Stigma

Mengapa memilih lapas anak sebagai sasaran? Kenshie menuturkan, dan rekan-rekannya hanya ingin berbagi kasih ke anak lapas. Menurutnya, bukan kemauan anak-anak di tahan di lapas.

 

“Sedikit sekali orang berpandangan soal lapas anak. Kebanyakan berpikir bahwa lapas adalah tempat-tempat kriminal dan orang yang pantas menjalani hukuman. Kalau m

Kunjungan relawan Yayasan Trikusuma Bangsa di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Sukamiskin di Bandung, Jawa Barat, 28 Januari  2019 - nalar.id
Kunjungan relawan Yayasan Trikusuma Bangsa di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Sukamiskin di Bandung, Jawa Barat, 28 Januari lalu. NALAR/Dok.Pri.

isal orang itu salah, jangan buat statement orang itu salah terus. Pasti ada sisi kebaikan dari mereka. Mereka pasti punya cita-cita, rasa ingin berubah dan minta dipahami,” jelasnya, soal alasan kunjungan mereka.

Sebelumnya, yayasan ini beberapa kali bertandang ke panti asuhan, anak-anak jalanan, hingga kaum duafa. Terakhir, ke wilayah terdampak bencana alam di Banten dan Makassar.

Meskipun aksi sosial yayasan ini sangat sarat kemanusiaan, pihaknya turut mengecam sikap pemerintah terkait perlakuan dan penanganan anak-anak lapas. “Kami tekankan soal hak asasi anak-anak di dalam (lapas). Sedih, saat kami datang ke sana. Mereka belum dapat makanan pantas dan layak. Contoh, nasi benar-benar kering, tempe pucat. Mereka sebut ini tempe mayit,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga menekankan perhatian pendidikan kepada pemerintah dan pihak terkait. Termasuk saran pemberian konseling dari psikolog secara kontinyu kepada anak-anak.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi