Nalar.ID

Peluang Musik Dangdut di Era Digital, Ini Kata Rahayu Kertawiguna

Nalar.ID – Kemajuan dan perkembangan teknologi menyentuh nyairs semua sektor. Tidak terkecuali industri musik. Pasca menurunnya penjualan kaset dan CD (compact diasc) karena bajakan, industri musik nasional sempat gembiara dengan kehaidean nada sambung pribadi (NSP) tahun 2004. Sayangnya, era itu tak berlangsung lama. Justru tergeser dengan format atau platform digitalisasi musik.

Dalam sebuah kesempatan, awal 2019, pertumbuhan musik digital, menurut Manager Director Warner Music Indonesia, Toto Widjojo, terus meningkat. “Termasuk keuntungan dari musik digital (meningkat terus),” kata Toto.

Kenyataannya, perluasan musik digital tak hanya dialami musik-musik semacam pop, rock, jaz, alternatif, bahkan merambah hingga genre dangdut.

Hal senada turut disampaikan Rahayu Kertawiguna, CEO dan produser Nagaswara Music & Publishing, sekaligus bos label yang banyak mengorbitkan talent dan musisi-musisi dangdut. Ia menilai, peluang musik dangdut dan genre musik lain sama-sama memiliki peluang.

Bagaimana tantangan dan harapan musik dangdut menghadapi dunia digital? Berikut penuturan kepada Nalar.ID, Selasa (26/3).

Bagaimana peluang musik dangdut di era digital?

Peluang (musik dangdut) dan genre musik lain sama-sama punya peluang. Tergantung kreativitas musisi pencipta lagu di genre masing-masing. Tentu, peran rumah produksinya (perusahaan label_red) sangat menentukan. Terutama dalam mengemas. Kalau musik dangdut sekarang booming di era digital saat ini. Digital hanya sebagai sisi penunjang. Ibarat pendorong roket yang diluncurkan.

Selain itu?

Namun, dibalik sukses musik dangdut di Indonesia, genre musik dangdut melambangkan suara mayoritas rakyat Indonesia. Namanya suara rakyat, pasti enggak bisa dibendung. Artinya, musik dangdut is people power.

Satu dekade lebih, musik dangdut kain populer hingga mengkolaborasikan dengan beberapa warna musik lain. Menurut Anda, bagaimana tren musik dangdut di 2019 dan seterusnya?

Pada dasarnya, musik itu cair. Banyak genre musik yang bisa di-blend (campur) dengan genre musik lain. Dangdut pun sama. Dangdut di masa sekarang, terutama sebagian besar produk Nagaswara sudah jamak disebut DanceDhut. Kita memasukkan beberapa unsur yang membangun electronic dance music (EDM) ke dalam musik dangdut standar.

Seperti apa konsepnya?

Dengan konsep ini, musik dangdut justru terlahir fresh dan mudah masuk ke generasi milenial. Bahkan, lewat YouTube, DanceDhut bisa diterima secara global. Lihat saja lagu Lagi Syantik milik Siti Badriah, dan sejenisnya yang kami produksi. Meskipun kuat dengan konsep musik modern, warna-warna lokal tetap kami kedepankan. Tujuannya, untuk membuat DanceDhut lebih unik dibanding musik modern pada umumnya.

Lalu?

Melihat perkembangan media sosial yang maju, saya kira, musik dangdut tahun 2019 akan tetap berada di posisi teratas musik populer di Indonesia. Apalagi, secara reguler, televisi juga mengunggulkan tayangan-tayangan kontes pencarian bakat artis dangdut. Saya percaya, musik dangdut atau DanceDhut ini, akan terus berkembang. Ini seiring bertambahnya kreativitas para musisi, pencipta lagu, dan arrangger.

Perlahan, musik dangdut mulai naik kelas, tak lagi musik ‘pinggiran’. Strategi Nagaswara mengenalkan musik dangdut ke kalangan menengah atas?

Pada dasarnya kelas menengah ke atas, tipikal menginginkan sesuatu yang baru dan beda. Kami bukan pertama dalam mengenalkan musik dangdut ke kelas menengah. Tapi, jauh sebelumnya sudah terjadi.

Kalau sekarang, kelas menengah, suka dengan produk dangdut dari Nagaswara, itu karena dangdutnya kami beda. Sehingga bisa mendunia. Ini telah dibuktikan lewat lagu Lagi Syantik dari Siti Badriah.

Bagaimana peluang penyanyi pendatang baru kedepan di era digital?

Kita harus optimis. Apalagi sekarang banyak source. Terutama media sosial yang bisa jadi jalan bagi penyanyi pendatang mengekspresikan diri mereka. Sekaligus memperkenalkan sosok dan karya mereka ke publik.

Siti Badriah - nalar.id
Siti Badriah. NALAR/Instagram @sitibadriahh.

Bagaimana pasar mereka (penyanyi new comer)?

Saat ini, peluang penyanyi pendatang untuk lebih dikenal, jauh lebih besar ketimbang masa-masa sebelumnya. Saat ini, musisi tak boleh hanya tahu bernyanyi atau berkarya saja. Mereka wajib tahu cara dan strategi bagaimana karya dan sosok mereka bisa diterima publik.

Caranya?

Mereka bisa manfaatkan media sosial secara maksimal. Ini untuk menciptakan komunikasi dua arah dengan para penggemarnya. Ada band-band indie cukup berhasil, karena pandai membangun dan menjaga komunikasi dengan komunitas mereka. Karya-karya mereka selalu di posting di dunia maya dan diapresiasi banyak pihak.

Pengenalan karya musik di masa digital ini juga lebih simple. Banyak referensi musik bisa diperoleh lebih mudah untuk menciptakan karya musik yang disukai masyarakat. Jadi, siapa yang mau kreatif dan rajin di masa sekarang, lebih punya banyak peluang dikenal.

Nagaswara dianggap sebagai label musik pelopor dan banyak melahirkan musisi dangdut. Bagaimana tantangan saat ini?

Mempertahankan posisi lebih berat dibanding merebut posisi. Saat ini, lebih kepada mengakselerasi semua rangkaian agar selalu sinergi dalam evolusi musik Indonesia.

Industri digital, perlahan mematikan produk fisik. Bagaimana strategi menghadapi format digital tanpa mematikan format fisik?

Mempertahankan produk fisik dengan cara-cara kreatif dan menarik. Karena fisik menjadi heritage. Kedepan, fisik sebagai bukti sejarah dalam perjalanan musisi di bidang musik untuk diceritakan ke anak cucunya dan generasi musik mendatang atau menjadi koleksi.

Otomatis, fisik selalu di produksi setiap waktu. Ini berdasarkan request dari masyarakat, penikmat musik, atau konsumen. Request ini terjadi karena format fisik (CD/VCD) di display di toko digital (online shop). Artinya, meng-drive penjualan format fisik dengan format digital.

Inovasi terbaru 2019 dalam menghadapi revolusi industri 4.0?

Revolusi 4.0 ini berkaitan dengan kemajuan teknologi komunikasi. Dalam hal ini, internet. Dunia yang kita hadapi adalah dunia digital di alam maya. Ini membuat kita terkoneksi otomatis dalam cakupan global.

Musik sekarang berada di era digital. Terus terang, selama dua dasawarsa terakhir, saya sudah biasa melihat ini. Nagaswara sudah mengarah ke sana sejak lama. Kami punya NSTV. Termasuk tim yang bekerja menghasilkan konten-konten kreatif.  Hal-hal semacam ini menjadi sangat penting di masa sekarang.

Selain itu?

Jadi, kita tinggal mengembangkan hal-hal kreatif lain berbasis internet. Sebagai gambaran, subscriber akun YouTube Nagaswara Official Video telah menembus angka 4,5 juta. Angka ini lumayan baik untuk mempromosikan video musik dan konten-konten lain dari artis kami. Perkembangan teknologi, pada dasarnya tak bisa kita rem. Sama hal ketika industri musik masuk ke dunia digital. Banyak hal tak pernah kita bayangkan ada di depan mata.

Misalnya?

Sekarang, produksi musik, misalnya, jadi lebih simple. Hal itu berkaitan dengan jalur promosi. Ada cost yang bisa dihemat dibandingkan promosi zaman dulu. Banyak peluang yang bisa diambil di jaman digital ini. Tergantung seberapa kreatif kita.

Lagu-lagu sekarang banyak dijual secara digital. Kita juga bisa promosi lagu lewat beragam media sosial. Seperti Instagram, Facebook, Twitter, atau YouTube. Dengan mudah orang di seluruh dunia akan tahu apa yang kita hasilkan.

Namun, akibat mudahnya karya-karya musik diakses, pembajakan menjadi sesuatu hal yang ‘wajar’. Saat ini, misalnya, Nagaswara banyak menghadapi pembuat aplikasi yang menjual konten-konten lagu kami secara ilegal. Ini sangat merugikan kami sekaligus melanggar hukum.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi