Nalar.ID

Pengamat Pariwisata Harry Basuki Tjahaja: Investasi Pariwisata Sangat Bergantung Industri Lain

Nalar.ID, Jakarta – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, belum lama ini menuturkan realisasi investasi di sektor pariwisata sepanjang tahun 2017 – 2021 menembus Rp 106,3 triliun.

Dari fakta itu, kondisi pandemi Covid-19 ikut menghambat pertumbuhan realisasi investasi dalam beberapa tahun terakhir.

Bahlil mengungkapkan, investasi di sektor pariwisata belum maksimal. Penyebabnya, yakni Covid-19 tahun 2020-2021. Lalu, di 2019 terjadi tahun pemilu, dan terjadi wait and see.

Bila dirinci, sesuai wilayah, Bali dan Nusa Tenggara Barat, investasi di sektor pariwisata memberi proporsi terbesar 39%. Sementara di Pulau Jawa mencapai 36,7%. Diikuti Sumatera (17%), Sulawesi (4%), dan Kalimantan (3%). Ditegaskan Bahlil, investasi di sektor pariwisata banyak menciptakan lapangan pekerjaan.

Dalam kesempatan terpisah, pengamat pariwisata sekaligus Wakil Ketua Umum Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas) Harry Basuki Tjahaja menuturkan bahwa investasi di bidang pariwisata sebagai industri sangat bergantung kepada industri-industri lain.

“Termasuk regulasi pemerintah, pendapatan daerah bahkan menyangkut ekonomi dunia,” tambah Harry Basuki Tjahaja.

Bagaimana analisa Harry? Berikut penuturan khusus kepada Nalar.ID, Minggu (6/3/2022).

Diakui Menteri Investasi Bahlil, selama 4 tahun terakhir, capaian investasi di sektor pariwisata terbilang belum maksimal, hanya menembus Rp 106,3 triliun. Pendapat Anda?

Investasi di bidang pariwisata sebagai industri sangat bergantung kepada Industri-industri lain. Termasuk regulasi pemerintah, pendapatan daerah bahkan menyangkut ekonomi dunia.

Apa yang harus di lakukan?

Pariwisata tidak bisa di lihat hanya dengan tourists keluar masuk Indonesia saja. Tetapi, harus berpikir bagaimana mereka bisa meningkatkan devisa. Kita harus bisa mengikuti tren pariwisata, seperti negara lain.

Misalnya?

Salah satunya adalah bidang properti. Terutama apartemen yang sampai saat ini aturannya belum jelas dan konkret untuk kepemilikan orang asing.

Lalu, bagaimana upaya mendorong peningkatan realisasi investasi di sektor pariwisata?

Mendorong investasi di bidang pariwisata tentu saja tidak lepas dari aturan pemerintah. Apalagi di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Kita memiliki market yang besar, tapi seharusnya kita memikirkan segala aspek, jangan hanya memberikan keputusan.

Contohnya?

Contoh, orang asing bisa investasi property alias membangun gedung apartemen. Tapi, nanti yang beli hanya orang Indonesia. Tentu saja keuntungannya akan di bawa ke luar negeri.

Lalu, bagaimana strategi mendorong investasi?

Untuk mendorong investasi, tentu saja kita memberikan segala kemudahan, aturan, dan izin. Di sisi lain, kita juga harus memperhitungkan keuntungan kita dengan adanya investor asing tersebut, sehingga ada win-win solution.

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi