Nalar.ID

Pengamat Pariwisata Harry Basuki Tjahaja: Pengembangan Pariwisata Ibarat Membangun Gedung

Nalar.ID, Jakarta – Sektor pariwisata salah sektor yang mengalami pukulan telak akibat pandemi Covid-19. Selain banyak ekonomi daerah yang menggantungkan pada sektor ini, juga terbuka dan paling mudah menyerap tenaga kerja.

Maka itu, pemulihan ekonomi menjadi fokus pemerintah. Agar sektor pariwisata kembali sehat, pemerintah perlu membantu pelaku usaha dari keterpurukannya agar pandemi berakhir, mereka siap beraktifitas.

Salah satunya dengan mendorong investasi pariwisata dan ekonomi kreatif di berbagai daerah. Terutama di lima destinasi super prioritas (DSP).

Di antaranya di Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Likupang (Sulawesi Utara), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Danau Toba (Sumatera Utara), dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pemulihan Ekonomi Nasional

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Barekraf) Sandiaga Salahuddin Uno meyakini, sektor parekraf akan menjadi lokomotif Indonesia untuk bangkit pasca pandemi.

“Ada jutaan lapangan pekerjaan di sektor pariwisata, atau ekonomi kreatif yang harus kita selamatkan,” kata Sandiaga, usai serah terima jabatan Menparekraf di Gedung Menparekraf/Barekraf, Jakarta, Rabu (23/12/2020).

Ia akan menerapkan tiga strategi dalam mengembangkan parekraf ke depannya. Pertama, strategi inovasi.

Dengan menggunakan teknologi, seperti big data dan pendekatan kekinian untuk memetakan. Baik dari potensi atau penguatan. Serta memastikan para pelaku sektor parekraf bisa bertahan. “Bukan hanya survive but also thrive. Survive and thrive. Bertahan dan menangkap peluang jadi pemenang,” tegasnya.

Kedua, strategi adaptasi selama pandemi. “Menghadapi pandemi, (harus) mendahulukan kesehatan dan keselamatan di setiap destinasi pariwisata. Termasuk di setiap lini ekonomi kreatif, CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment),” tukasnya.

Terakhir, strategi kolaborasi. Kemenparekraf akan berkolaborasi dengan seluruh pihak. Termasuk kementerian/lembaga, pemerintah daerah, akademisi, universitas, serta masyarakat, dan dunia usaha.

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, pengamat pariwisata dan Wakil Ketua Umum Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas)– lembaga non-pemerintah yang bertujuan menciptakan ekosistem yang melibatkan dunia pariwisata–mengomentari soal pengembangan pariwisata.

Diakuinya, pengembangan pariwisata, ia ibaratkan membangun sebuah gedung walau sebenarnya lebih kompleks dari pada itu.

“Pertanyaannya, untuk menciptakan new destination sebagai destinasi wisata bukan obyek wisata, sang pengembang harus tahu apa dulu yang harus ditancapkan. Apa saja fondasi yang diperlukan dalam membangun destinasi wisata,” jelas Harry.

Harry mengungkapkan selama hanya mengandarkan infrastruktur dan pembangunan fasilitas tanpa membuat business plan, target market dan masterplan yang jelas, ia kuatir hanya akan menyentuh dasar step awal pariwisata saja.

“Namun, ketika kita berbicara destinasi yang bersifat berkesinambungan atau sustainable tourism, harus ada milestones dan langkah-langkah dan bisa diperhitungkan secara jelas,” tambahnya.

Terkait hal itu, Harry mengimbau para pelaku pariwisata agar hati-hati menciptakan sebuah destinasi.

“Seorang pemilik hotel, tour and travel atau pemilik restoran bahkan travelers, tidak bisa menciptakan sebuah destinasi karena diperlukan keahlian dari semua bidang. Termasuk pendidikan, pengetahuan dan pengalaman menjadi suatu daerah sebagai destinasi wisata,” lanjutnya.

Ia menambahkan, “Mereka yang awam berpikir jika ada infrastruktur pasti menjadi destinasi. Kalau ada promosi pasti jadi destinasi, tidak se-simple itu,” tukasnya.

Kondisi Daerah

Untuk itu, lanjut Harry, seluruh aspek, seperti objek wisata, fasilitas dan aktivitas, peta wisata, pemda, kementerian, masterplan, target market, core center, swasta hingga infrastruktur daerah perlu digalakkan. Serta diperhitungkan seperti puzzle, mana dulu yang harus dilakukan sesuai bidang, situasi dan kondisi daerah wisata tersebut.

Ia menegaskan, pemulihan ekonomi pariwisata dan menjadikan destinasi baru wisata adalah serupa namun tidak sama.

“Menciptakan destinasi baru, oke namun yang sangat penting adalah memulihkan ekonomi pariwisata yang sudah ada. Mengingat, banyak usaha pariwisata yang tutup. Ini harus dapat perhatian khusus dari pemerintah,” jelas Harry.

Dalam pengembangan pariwisata, Kemenparekraf tengah fokus untuk shifting dari quantity tourism ke quality tourism. Artinya, meningkatkan kualitas destinasi pariwisata dan produk ekonomi kreatif Indonesia, sehingga memberi dampak sosial luas untuk masyarakat Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menuturkan, hingga kini pemerintah sangat fokus dalam pemulihan ekonomi nasional, khususnya di bidang pariwisata.

Pembangunan infrastruktur akan dikerjakan, terutama yang menyambungkan area distribusi. Termasuk untuk akses pariwisata.

“Jika perekonomian sudah membaik, utamanya di pariwisata maka akan ada lapangan pekerjaan baru yang bisa bermanfaat untuk kemajuan ekonomi Indonesia,” ujar Luhut.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi