Nalar.ID

Pengusaha Muda Didorong Lahirkan Inovasi Baru Bangun Perekonomian Nasional

Nalar.ID, Jakarta – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo memaparkan pandemi Covid-19 telah menciptakan pertumbuhan ekonomi negatif di hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

Catatan laporan Bank Dunia, pendapatan per kapita Indonesia mengalami penurunan. Dari 4.050 dolar AS tahun 2019 menjadi 3.870 dolar AS pada 2020. Sebagai konsekuensi logis tergerusnya perekonomian nasional, pandemi juga berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk miskin di Indonesia.

Per Maret 2021, jumlah penduduk miskin menurut data BPS dalah sebesar 27,54 juta, atau meningkat 1,12 juta dari Maret 2020.

Menurut Bamsoet, peran dan kontribusi dunia usaha menjadi salah satu faktor penting merealisasikan perencanaan pembangunan nasional sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan pengentasan kemiskinan.

“Para pengusaha muda punya peran sentral dan menentukan. Khusus di Jakarta dengan jumlah lebih dari 4.000 pengusaha muda, merepresentasikan sumber daya potensial yang dapat menggeliatkan kembali perekonomian nasional yang sempat terpuruk akibat dampak pandemi,” ujar Bamsoet, pada Pendidikan dan Pelatihan Kader Organisasi Tingkat Daerah HIPMI Jaya secara daring, di Jakarta, Kamis (23/9/2021).

Ia menjelaskan pengusaha muda dengan segala potensi diri yang dimiliki. Harus mengambil peran mendorong lahirnya inovasi baru dalam membangun perekonomian nasional.

Persaingan Global

Inovasi diperlukan dalam menghadapi persaingan global, sehingga mampu menawarkan terobosan lebih baik. Indeks Inovasi Global (Global Innovation Index) menempatkan Indonesia pada posisi ke-85 dari 131 ekonomi negara di dunia. Posisi ini belum mengalami peningkatan sejak tahun 2018.

“Apalagi Indonesia saat ini memasuki bonus demografi. Hingga tahun 2045, ketika usia kemerdekaan Ri mencapai seabad, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia tahun 2045 akan mencapai 319 juta jiwa. Dari jumlah itu, sekitar 70 persen, atau 223 juta jiwa adalah kelompok usia produktif,” jelasnya.

Bamsoet menerangkan, selain memaksimalkan bonus demografi, sejarah mencatat bahwa negara-negara besar dunia bisa maju karena memiliki visi pembangunan yang jelas dalam jangka panjang.

“Contoh, Tiongkok tak mungkin membangun Great Wall of China sepanjang 21 kilometer tanpa perencanaan jangka panjang matang. Butuh 1.800 tahun mendirikan Great Wall dan melampaui banyak dinasti pemerintahan. Saat ini di era modern, Tiongkok membangun visi besar untuk membangun Blue Economy Valley sebagai sentral ekonomi kelautan di masa depan,” terangnya.

Ia juga menambahkan, berbagai capaian Singapura, yang kini tumbuh jadi negara maju di Asia Tenggara, tidak dicapai dengan cara instan. Singapura punya visi pembangunan jangka panjang yang dikenal sebagai ‘the Concept Plan’ yang telah dirumuskan sejak tahun 1971.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi