Nalar.ID

Pentingkah Daya Saing Ekspor UKM Pangan? Ini Kata Kemendag

Nalar.ID, Jakarta – Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kasan menyampaikan, Indonesia memiliki banyak produk usaha kecil dan menengah (UKM) pangan yang berpotensi ekspor yang masih dapat terus dimaksimalkan.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut salah satunya dengan melakukan standardisasi dan sertifikasi produk UKM pangan agar dapat meningkatkan daya saing ekspor.

“Selain itu dapat memahami pentingnya sertifikasi keamanan pangan, khususnya bagi UKM berorientasi ekspor sehingga menambah daya saing di pasar global,” kata Kasan, kepada Nalar.ID.

Kasan menyampaikan, Presiden Jokowi telah memberikan amanat kepada Kementerian Perdagangan. Salah satunya peningkatan ekspor. Untuk melaksanakan mandat itu, Kemendag menetapkan strategi. Di antaranya mendorongan dan mendukung UKM Ekspor.

“Ini terwujud melalui peningkatan daya saing UKM. Termasuk kualitas, desain, kemasan, dan sertifikasi produk ekspor,” tandasnya.

Kasan menyampaikan, Indonesia merupakan negara eksportir produk makanan dan minuman (mamin) terbesar ke-8 dunia. Namun demikian, Indonesia masih mempunyai peluang untuk terus meningkat.

“Produk pangan Indonesia sudah bisa masuk ke pasar global dan bersaing dengan negara lain. Tapi, untuk bisa bersaing, produk mamin Indonesia harus memenuhi sertifikasi yang disyaratkan negara tujuan,” jelas Kasan.

Akses Pasar

Kasan menambahkan, Kemendag terus berupaya memfasilitasi para UKM ekspor memiliki sertifikasi pangan yang disyaratkan sehingga produk tersebut memiliki akses pasar.

“Selain itu, Kemendag juga memfasilitasi pelaku ekspor melalui promosi produk pangan, seperti keikutsertaan dalam pameran, baik secara fisik maupun digital agar produk pangan Indonesia dapat menembus pasar global,” ujarnya.

Diketahui, tahun 2020, negara tujuan ekspor utama mamin Indonesia, yaitu Amerika Serikat USD 923,42 juta pangsa pasar 21,29 persen, Filipina USD 594,55 juta (13,71 persen), Malaysia USD 308,71 juta (7,12 persen). Lalu, Tiongkok USD 274,76 juta (6,33 persen), dan Singapura USD 229,26 juta (5,29 persen).

Sementara produk mamin utama Indonesia dengan nilai ekspor terbesar adalah udang dalam kaleng 10,62 persen dari total ekspor mamin, wafer (7,31 persen), bahan makanan (6,84 persen), mi instan (6,26 persen), kopi instan (5,95 persen).

Indonesia juga memiliki komoditas mamin unggulan ekspor dengan pasar yang kuat. Komoditas itu, yaitu sarang burung walet yang menjadi peringkat ke-1 dunia. Lalu, bubuk cengkeh peringkat ke-1, olahan dengan dasar kopi peringkat ke-1, mentega kakao peringkat ke-3, udang kaleng peringkat ke-3, serta pasta dan mi instan peringkat ke-4.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi