Nalar.ID

Pentingnya Pemulihan Ekonomi Guna Hindari Resesi

Nalar.ID, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan secara teknis, Indonesia bisa masuk ke zona resesi. Hal ini terjadi jika realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal II dan III-2020 berada pada level negatif.

Sesuai proyeksi pemerintah, pertumbuhan ekonomi kuartal II dapat berkisar di level -3,1 – 3,8%. Pada kuartal III, diperkirakan berada di level -1,6 – 1,4%, dan kuartal IV-2020 di kisaran 1 – 3,4%.

Sejalan dengan hal itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai, untuk menghindari zona resesi maka pemerintah perlu fokus menjalankan insentif program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Dari beberapa program pemerintah, saya lihat masih banyak hal bisa ditingkatkan,” kata Yusuf, dalam keterangan sejumlah media.

Yusuf mencontohkan, dalam insentif bantuan sosial (bansos), pemerintah daerah perlu didorong untuk meng-update data penerima pada sistem Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Sebab, masih belum banyak daerah yang mengisi DTKS dengan baik. Padahal, sambungnya, ketepatan penyaluran bansos bakal memengaruhi penyaluran bansos yang muara besarnya mencegah konsumsi rumah tangga melambat lebih dalam.

“Belajar dari penyaluran insentif pajak yang belum maksimal, sosialisasi masif terhadap pelaku usaha dalam memanfaatkan insentif perlu digalakkan pemerintah. Khususnya insentif pajak untuk sektor manufaktur,” jelasnya.

Terakhir, kata Yusuf, pemerintah perlu memperbanyak tes Covid-19 gratis bagi masyarakat. Pasalnya, kian banyak masyarakat yang teridentifikasi di awal, maka langkah penanganan kesehatan dapat dilakukan secara cepat oleh pemerintah.

Hal ini turut dilakukan guna mencegah potensi penyebaran gelombang kedua. Khususnya, di daerah-daerah yang telah melakukan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Penulis: Febriansyah | Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi