Nalar.ID

Peran Nadiem-William di Balik Go-Jek dan Tokopedia

Nalar.ID, Jakarta – Tahun 2020, Go-Jek didirikan oleh Nadiem Makarim, Kevin Aluwi dan Michelangelo Moran. Sementara Tokopedia didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison pada 2009.

Dari sosok tersebut, yang menonjol adalah Nadiem Makarim dan William Tanuwijaya. Mereka CEO pertama perusahaan itu, sebelum saat ini bergabung menjadi GoTo.

Bagaimana sosok Nadiem dan William? Berikut sosok profil keduanya:

Nadiem Makarim

Nadiem Anwar Makarim lahir 4 Juli 1984 dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri. Ayahnya aktivis dan pengacara ternama. Sementara ibunya penulis lepas.

“Saya SD di Indonesia. Rumah selalu di Jakarta. Ibu lahir Pasuruan, ayah Pekalongan,” kata Nadiem, dalam keterangan sejumlah media, belum lama ini.

Ayahnya salah satu pendiri kantor hukum Makarim & Taira Sjuga. Makarim lahir dari orang tua berbeda budaya: Minang dan Arab. Kalau ibunya: Hamid Algadri, keturunan Pasuruan-Arab.

Menariknya, kakeknya dari ibu merupakan pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang berjasa dalam perundingan Linggarjati, Renville dan KMB. Serta salah satu anggota parlemen di awal berdirinya Republik Indonesia.

Sejak SD hingga SLTA, Nadiem pindah-pindah dari Jakarta ke Singapura. Usai tamat SMA, ia memilih jurusan International Relations di Brown University, Amerika Serikat. Lalu, berlanjut menempuh pasca sarjana dan meraih gelar Master of Business Administration di Harvard Business School.

“Karena saya punya perspektif sekolah di luar negeri, saya balik lalu melihat hal-hal dengan lensa baru,” ujar Nadiem.

Tak langsung fokus merintis Go-Jek, tahun 2006, Nadiem merintis karier konsultan manajemen di McKinsey & Company. Usai mendapat gelar MBA, ia terjun sebagai pengusaha dengan mendirikan Zalora Indonesia sebagai Managing Director.

Hengkang dari Zalora, Nadiem menjabat Chief Innovation Officer (CIO) Kartuku, sebelum akhirnya fokus mengembangkan Go-Jek.

Tahun 2015, Go-Jek melepas aplikasi sendiri yang membuatnya meraksasa. Kini, ia Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Alhasil, ia tak lagi aktif mengurus Go-Jek.

William Tanuwijaya

E-commerce Tokopedia didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edision. Kehadiran platform ini tak terlepas dari pengalaman hidup salah satu pendirinya, William Tanuwijaya, yang dulu pernah jadi penjaga warnet.

“Saya cuma lulusan pekerja warnet. Benar-benar jarang ke kampus. Ke kampus saat ujian. Belum pernah pengalaman bangun bisnis. Belum ada track record, modalnya semangat bambu runcing,” jelas William, dalam sebuah kesempatan.

Ia mantan mahasiswa di Bina Nusantara (Binus) Jakarta. William bertekad, lulus SMA berupaya memiliki kehidupan lebih baik dibandingkan keluarganya.

Ia percaya kehidupan yang baik dimulai dari pendidikan yang baik. Makanya, saat kuliah, ia pernah bekerja di warnet.

“Saya coba lamar jadi operator warnet untuk jam 9 malam – 9 pagi. Di sana saya bisa menikmati internet gratis saat internet masih mahal. Saya mulai jatuh cinta kepada internet. Buat saya internet perpustakaan tanpa ujung,” imbuhnya.

Selain itu ia juga sempat bekerja di forum jual beli. Pria kelahiran Pematang Siantar, 11 November 1981 ini juga kerap menerima banyak keluhan dari pengguna yang mengalami penipuan transaksi. Akhirnya timbul ide untuk membuat tempat yang terpercaya untuk jual beli online.

Walau sempat diragukan karena tak ada background bisnis, ia tetap nekat mewujudkan keinginan itu. Akhirnya, pada 6 Februari 2009, ia bersama Leon mendirikan Tokopedia.

Lalu, pada 17 Agustus 2009, e-commerce ini meluncur resmi. Setahun berdiri, Tokopedia berkembang signifikan. Mereka berhasil mengandeng 4.659 merchant dengan 44.785 anggota. Transaksi pun mencapai Rp 5,954 miliar. Angka itu terus bertambah hingga kini di papan atas Indonesia.

William sampai mempelajari dari Google dan Facebook dalam mencari pemodal. Namun, ia gagal selama dua tahun. Justru, kegagalannya mencari pemodal itu membawa tujuan hidupnya.

Berkat pencapaian Tokopedia, investor mulai berdatangan. Mulai dari East Venture, CyberAgent Venture, dan Softbank.

Hingga kini, valuasi Tokopedia diperkirakan tembus USD 7,5 miliar. Semua itu tak lepas dari kerja keras Wiliam, Leon dan Nakama (sebutan karyawan Tokopedia). William pernah berpesan jangan takut dan pantang menyerah.

Adapun, banyak pertanyaan yang sering ia dapat, yakni bagaimana dirinya bisa bertahan mengembangkan Tokopedia.

“Ada yang kasih saya nasehat, jangan mimpi muluk-muluk, realistis saja. Namun, Bung Karno pernah bilang, bermimpi setinggi langit. Kalau jatuh masih di antara bintang-bintang,” tambah.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi