Nalar.ID

Perempuan Besi di Balik MRT

Nalar.ID – Transportasi moda raya terpadu (MRT/Mass Rapid Transit) diresmikan Presiden Joko Widodo, Minggu (24/3). Keberadaan transportasi ini menjadi tonggak dari kota modern. Bukan kota dengan kendaraan pribadi di mana-mana, tetapi justru ketika transportasi publik menguasai wilayah.

Namun, dibalik hingar bingar dan gegap gempita sambutan masyarakat Jakarta terhadap peresmian MRT, tahukah siapa yang bertanggung jawab terhadap seluruh konstruksi MRT?

Rupanya, ia seorang perempuan. Namanya, Silvia Halim. Ia lulusan Teknik Sipil di Nanyang Technological University, Singapura. Selepas lulus, ia langsung bekerja di Singapura. Di negeri itu, ia membangun infrastruktur selama 12 tahun.

“Saya sebenarnya anti ke Jakarta, karena macet minta ampun,” katanya, dalam sejumlah keterangan yang dihimpun Nalar.ID.

Silvia Halim, Direktur Konstruksi MRT - nalar.id
Silvia Halim, Direktur Konstruksi MRT (Mass Rapid Transit), sedang memantau proses pembangunan MRT. NALAR/JakartaMRT.co.id.

Takdir membawa Silvia ke jalan lain. Konon, menurut cerita, ia disambangi Ahok. Ia diminta kembali ke Indonesia dan membangun MRT untuk Jakarta. Mendengar pemerintahan negeri ini sekarang ada di tangan pemimpin yang berbeda, Silvia langsung menerima dan mengepak barang untuk terbang ke Indonesia. Tentu setelah ia melintasi segala proses interview dan urusan formal lain.

Jelas, gaji atau penghasilan Silvia tidak seheboh ketika di Singapura. Justru, bukan itu yang membuat Silvia mau pulang ke Tanah Air. Ia mengaku, telah melayani Singapura selama 12 tahun.

“Sekarang saatnya saya bantu negara sendiri,” ucapnya ketika ditanya untuk apa dia pulang dan merelakan gaji besar di negeri orang.

Di proyek MRT, Silvia menjabat Direktur Konstruksi MRT. Ia membawahi puluhan pekerja. Seluruhnya pria. Ia perempuan satu-satunya. Namun, ia tidak canggung. Silvia sudah terbiasa.

Keberadaan Silvia, persis seperti posisi Sri Mulyani ketika menjadi pejabat Bank Dunia dan bertemu Jokowi dan memintanya menjadi menteri. Mulyani pun tak mampu menolak demi negaranya. Praktis, ia harus meninggalkan profesi dengan gaji menggiurkan demi membangun negeri sendiri.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi