Nalar.ID

Peringati Hari Pahlawan, Ini Imbauan Raden Siti Fitrie Kirana untuk Generasi Muda

Jakarta, Nalar.ID – Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2018, sudah berlalu. Namun, ada banyak cara bermanfaat untuk memeringati perayaan ini dan tidak mengabaikan jasa para pahlawan pendahulu.

Termasuk yang dilakukan oleh Raden Siti Fitrie Kirana (AFK), SE., penggiat sosial dan pendiri Yayasan Perlindungan Perempuan dan Anak (YPPA) ini. Ade–sapaan akrabnya–, mengimbau generasi muda untuk berbuat positif dan menjauhi hal negatif.

“Mulai dari baca buku-buku bersifat edukatif dan keimanan, aplikasi komputer mendidik, pengaturan waktu menonton televisi, pengawasan penggunaan ponsel anak-anak dibawah umur, hingga penegakkan hukum dengan membentuk polisi internet. Kata kuncinya; informasi, komunikasi, dan perkembangan teknologi,” ujarnya.

Berikut penjelasannya, dihubungi Senin (12/11).

Komentar terkait peringatan Hari Pahlawan?

Perjuangan tak hanya pada 10 November dan seremonial. Perjuangan harus tertanam dalam diri kita setiap saat. Itu hakikat Hari Pahlawan sesungguhnya. Pahlawan adalah orang yang memberi hidupnya pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Itulah pejuang sejati. Semoga perayaan tahun ini menjadi titik balik. Sebagai wujud penghargaan atas pengorbanan, rakyat wajib meneladani pengorbanan pahlawan. Jika dahulu, pahlawan memperjuangkan kemerdekaan dengan berperang melawan penjajah, maka generasi penerus wajib berkarya sesuai bidang dan kemampuan masing-masing.

Mulai dengan cara?

Setiap mengunjungi masyarakat, termasuk sosialisasi bersama YPPA (Yayasan Perlindungan Perempuan dan Anak) atau di setiap undangan warga, saya selalu berpesan agar generasi penerus tak melupakan jasa-jasa pahlawan.

Mengutip pernyataan John F. Kennedy, yakni agar rakyat tak selalu menuntut kebijakan pemerintah tapi berbuat kebaikan dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Jangan hanya jadi penikmat tapi harus berjuang. Termasuk para pelajar, giat meraih cita-cita mewujudkan bangsa cerdas, jaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan tidak melakukan perbuatan merugikan masyarakat, negara, dan orang tua.

Seperti?

Menghindari perbuatan merusak lingkungan, hindari perkelahian antarpelajar, antinarkoba, antikekerasan terhadap sesama dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, jaga persatuan dan kesatuan bangsa sesuai Pancasila. Hingga melestarikan kehidupan demokratis dalam keberagaman dengan menjunjung semangat Bhineka Tunggal Ika.

Selain itu?

Saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan telah mengantarkan masyarakat menuju babak baru, yaitu memanfaatkan teknologi. Penggunaan tenaga manusia yang kian hari semakin kecil, sering menyebabkan orang kehilangan pekerjaan. Tugasnya tergantikan peralatan atau mesin.

Sebagai sarana informasi dan komunikasi, komputer bisa dipakai sarana ber-internet. Lewat internet, orang bisa cari informasi dan komunikasi. Mulai dari kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Selain memberi keuntungan, teknologi memberi dampak negatif bagi pengguna.

Contoh?

Dampak negatif muncul sebagai akibat penggunaan salah atau tak bertanggung jawab dari pengguna. Sejumlah dampak negatif, yakni pertama, anak lebih banyak menonton televisi ketimbang melakukan hal lain seperti belajar dan olah raga. Kedua, anak hilang kemampuan berbaur dengan masyarakat dan cenderung nyaman oleh kehidupan online. Tiga, adanya pelanggaran hak cipta. Empat, kejahatan di internet. Lima, penyebaran virus komputer. Enam, pornografi, perjudian, penipuan, hingga tayangan kekerasan.

Cara mengatasi?

Pertama, gunakan teknologi untuk menjalin hubungan dengan orang yang sudah dikenal. Kedua, cari komunitas positif yang sering melakukan pertemuan di dunia nyata. Tiga, penegakkan hukum dengan membentuk polisi internet. Empat, menghindari pemakaian telepon seluler (ponsel) fitur canggih oleh anak dibawah umur serta mengawasi penggunaan ponsel. Lima, banyak baca buku bersifat edukatif dan keimanan, hingga aplikasi komputer bersifat mendidik. Enam, pengaturan waktu di depan komputer atau televisi.
Kuncinya; informasi, komunikasi, dan perkembangan teknologi. Saya minta doa restu semua, dalam menghadapi tahun politik dan 17 April 2019 mendatang, kalau Allah berkehendak dan memberi kepercayaan, doakan selalu menjadi hamba-NYA yang AManah Faedah Kaffah (seperti slogan AFK).

Konkritnya?

Segera membuat undang-undang agar lebih tegas, lugas, dan jelas, dalam menyikapi perkembangan. Baik di bidang pendidikan, sosial budaya, dan keagaaman, hingga teknologi. Siapapun dan apapun, yang bisa merusak akidah, mental, dan kesehatan, generasi penerus bangsa, akan di pidana dan sangsi berat. Insha Allah, akan saya bawa suara ibu-ibu yang selama ini teriakannya selalu dekat dengan saya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi