Nalar.ID

Perlunya IKM Manfaatkan Teknologi Digital Selama Pandemi

Nalar.ID, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai pentingnya pemanfaatan teknologi digital seperti cloud computing dan internet of things (IoT) dalam mendorong produktivitas sektor manufaktur.

Termasuk industri kecil menengah (IKM) di tengah pandemi Covid-19. Langkah ini sesuai implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Pandemi Covid-19 jadi permasalahan dunia. Terutama aturan pembatasan sosial. Sebab, diterapkannya social distancing, membuat pergeseran gaya hidup, termasuk perputaran roda bisnis,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih, di Jakarta, akhir Oktober lalu.

Guna menekan dampak pandemi, salah satu perhatian Kemenperin adalah menjaga aktivitas pelaku usaha dalam negeri.

Caranya, memanfaatkan penggunaan teknologi Cloud Computing maupun IoT. Menurut Gati, perkembangan teknologi digital mendorong terciptanya banyak terobosan baru.

“Misalnya, manfaat penggunaan cloud computing. Mulai dari keamanan digital yang digunakan, jaringan, pusat data, dan server mumpuni. Selain itu, pemanfaatan sistem IoT akan menghubungkan teknologi, informasi, dan komunikasi secara mudah,” paparnya.

Keunggulan dua teknologi tersebut berguna dalam menjaga keberlangsungan usaha sektor IKM.

Guna mengakselerasi penggunaan teknologi digital di sektor industri, Gati berharap perlunya banyak provider teknologi cloud computing maupun IoT yang dapat menopang proses produksi secara lebih efisien.

“Jadi, pentingnya membentuk ekosistem solusi yang dapat menjembatani kebutuhan industri dan masyarakat,” ujarya.

Managing Director Datacomm Cloud Business Sutedjo Tjahjadi mengatakan, pihaknya sudah memulai bisnis Cloud Computing sejak enam tahun lalu.

Meminimalisir Biaya Pengeluaran

Teknologi ini dinilai membuat semua pekerjaan menjadi serba praktis dan tidak perlu menggunakan infrastruktur yang besar. Bahkan cloud computing dapat meminimalisir biaya pengeluaran perusahaan.

“Era yang makin digital, komputer semakin menyentuh semua kehidupan kita terutama saat pandemi ini dan online menjadi suatu yang critical untuk dilakukan berkesinambungan dalam kehidupan kedepannya,” ucapnya.

Untuk itu, Kemenperin telah meluncurkan program Startup4Industry. Tujuannya agar dapat menjembatani kebutuhan industri dengan pelaku startup sebagai penyedia teknologi.

Program ini diluncurkan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dengan mengusung tema Indonesia Percaya Diri Dengan Teknologi Dalam Negeri.

Tenaga Ahli program Startup4Industry, Ditjen IKMA Kemenperin, Endang Suwartini mengungkapkan, perkembangan teknologi imersif perlu mendapat perhatian pemerintah karena terbukti dapat menciptakan lapangan kerja baru.

Misalnya, tren penggunaan Augmented Reality dan Virtual Reality (AR/VR) di masa pandemi ini meningkat mulai dari penggunaan untuk gamming hingga digunakan untuk industri, edukasi, pelatihan maupun pariwisata.

“Semakin berkembangnya industri AR/VR ini akan mendorong industri elektronika di Indonesia agar dapat mulai mengembangkan research and development untuk pengembangan hardware-nya,” kata Endang.

Andes Rizky selaku Ketua Asosiasi AR/VR Indonesia (INVRA) menjelaskan, saat ini adalah momentum bagi industri AR/VR Indonesia untuk bangkit.

Ini seiring masuknya teknologi imersif sebagai lapangan usaha baru yang diakui pemerintah melalui publikasi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2020 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Bahkan, industri AR/VR Indonesia pun sudah merambah ke luar negeri. Diantaranya telah mengerjakan proyek AR/VR di Jepang dan Myanmar.

Penulis: Febriansyah | Editor: Febriansyah

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi