Nalar.ID

Perputaran Cuan Tata Kelola Desa Wisata

NalarI.ID, Jakarta – Saat ini, desa tidak lagi menjadi penonton dalam pembangunan. Namun, telah menjadi pelaku dalam kegiatan pembangunan itu sendiri.

Beragam potensi di desa yang dapat dikelola, serta dikembangkan bersama oleh pemerintah desa dan masyarakat desa. Sejatinya, butuh sebuah perencanaan yang strategis untuk menentukan fokus sektor usaha yang akan dijalankan.

Pengamat pariwisata dan Wakil Ketua Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas) Harry Tjahaja Purnama menilai, pengelolaan desa wisata bisa berpotensi menjadi daya pemulihan perekonomian nasional.

“Desa wisata, tentu saja bisa mendongkrak perekonomian lokal bahkan internasional karena perputaran uang. Apalagi, semua orang pasti ingin liburan alias berwisata,” kata Harry Tjahaja Purnama, kepada Nalar.ID, Rabu (9/3/2022).

Selain itu, lanjut Harry, Indonesia sangat kaya akan objek-objek wisata dengan keindahan yang luar biasa.

“Belum lagi, kerajinan tangan dan budaya yang dapat kita andalkan,” tambahnya.

Oleh karena itu, lanjut Harry, untuk langsung menjadi sebuah destinasi, tergantung daya tarik atau apa yang disuguhkan oleh desa wisata itu. Setiap desa, sungai, dan pantai, semua bisa menjadi tempat wisata.

Harry Tjahaja Purnama. NALAR/Dok. Instagram

Untung-Rugi

Hal terpenting, menurut Harry adalah harus memperhitungkan beberapa hal untuk pengembangan desa wisata.

Apa saja? Letak desa wisata secara geography. Lalu, infrastructure ke desa, potensi market wisata, apakah lokal, kabupaten, provinsi, nasional, atau international.

“Ini tergantung main attraction dan lokasi. Misalnya, di Bali, tentu saja desa wisata akan bisa memiliki potensi menjadi destinasi international karena market international sudah ada di Bali,” tambahnya.

Kemudian, memberikan pelatihan, seperti homestay, packaging product yang di tawarkan, hospitality culture (service culture), usaha kecil mikro menengah, dan sebagainya.

“Di sisi pemerintah, terutama pengelola desa pariwisata, juga harus memperhitungkan untung-rugi. Jangan sampai investasi besar tapi perhitungan kurang matang, justru penduduk setempat jadi kecewa karena tak ada pendatang,” jelasnya.

Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi