Nalar.ID

Praktisi Investasi Hukum Lusiana Sanato: Tanam Modal di Pinjol Bukan Tanpa Risiko

Nalar.ID – Layanan startup fintech (financial technology/teknologi finansial) peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online masih menjadi favorit sebagian masyarakat Indonesia untuk mencari pinjaman.

Terbukti, dengan jumlah pinjaman mencapai ratusan ribu peminjam hingga pertengahan 2019. Sementara, fintech lending masih menjadi incaran para investor. Sebagai regulator, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah membuat aturan jelas mengenai bisnis tersebut di Indonesia.

Baru-baru ini, Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat atau Satgas Waspada Investasi OJK kembali menemukan 140 entitas yang melakukan kegiatan bisnis usaha fintech P2P lending tetapi tidak terdaftar atau memiliki izin usaha dari OJK.

Sebelumnya, 27 Juli 2018 lalu, satgas ini juga memaparkan temuan 227 yang tidak terdaftar di OJK, tetapi telah beroperasi di Tanah Air. Kehadiran mereka yang dianggap ilegal dianggap berpotensi merugikan masyarakat.

Tongam L. Tobing, Ketua Satgas Waspada Investasi mengimbau para startup P2P lending agar segera melakukan pendaftaran dan mengurus izin ke OJK.

“Mereka melakukan kegiatan penyelenggara layanan pinjam-meminjam uang berbasis teknologi informasi tanpa izin OJK. Ketentuan ini sesuai POJK Nomor 77/POJK.01/2016. Ini berpotensi merugikan masyarakat,” tukas Ketua Satgas Tongam L. Tobing, pekan lalu, kepada Nalar.ID.

Sejauh ini, jumlah fintech P2P lending tidak berizin hasil temuan OJK tahun 2018 sebanyak 404 entitas. Sementara, tahun 2019 sebanyak 683.

Lusiana Sanato - nalar.id
Lusiana Sanato. NALAR/Dok.pribadi.

Kepada masyarakat yang ingin meminjam secara online, Tongam L. Tobing mengimbau agar melihat daftar aplikasi fintech P2P lending yang telah terdaftar OJK dalam situs www.ojk.go.id.

Prospek Investasi

Industri P2P lending masih terus berlanjut pada tahun ini. Sebabnya, literasi produk teknologi finansial yang kian tinggi.

Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) Kuseryansyah menyebut, pertumbuhan jumlah pemberi pinjaman atau lender di bisnis P2P lending akan terus meningkat. Baik dari sisi individu atau institusi.

“Nantinya, pemberi pinjaman dari individu juga meningkat dengan pertumbuhan lebih besar. Karena, pemahaman masyarakat tentang investasi ini juga terus meningkat. Selain itu, jumlah rekening pemberi pinjaman meningkat dua kali lipat,” ujarnya.

Data OJK memaparkan, jumlah rekening pemberi pinjaman P2P lending tahun 2018 naik dua kali lipat. Besaran mencapai 207.507 rekening. Sementara, tahun 2017 hanya 100.940 rekening.

Sebab itu, jumlah pinjaman yang disalurkan ikut melonjak 784,03 persen menjadi Rp22,67 triliun dibandingkan tahun 2018. Prediksi OJK, jumlah itu dapat tembus Rp 40 triliun tahun ini.

Alasan Investasi 

Ada sejumlah alasan masyarakat kian tertarik investasi ke P2P lending. Pertama, pemberi pinjaman dapat investasi. Dari angka terjangkau sehingga bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Terutama milenial.

Kedua, investasi P2P lending lebih fleksibel ketimbang instrumen pendanaan lain. Konsumen dapat memilih kelompok atau individu yang akan diberi pinjaman. Ketiga, perusahaan fintech punya teknologi alternative scoring. Yakni, perusahaan, termasuk lembaga keuangan konvensional bisa menjadikan P2P lending sebagai alternatif investasi.

Disisi lain, meskipun memberikan manfaat pada finansial, sistem bisnis P2P lending, kata praktisi investasi hukum Lusiana Sanato bukanlah tanpa risiko.

“Sama seperti kegiatan finansial lainnya (berisiko). Maka itu, harus hati-hati dalam menjalankannya. Selama kita memahami sistem, cara kerja, hal-hal terkait di dalamnya, dan berbagai hal penting lain, semoga baik-baik saja,” jelas Lusiana, dihubungi Nalar.ID, Minggu (25/8).

Menariknya bisnis P2P lending turut menguntungkan pemberi pinjaman atau investor yang mendanai kegiatan finansial ini. Dengan membiayai pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang berkualitas, lanjut Lusiana, investor P2P lending bisa mendapatkan pengembalian investasi yang tinggi dalam periodik tertentu yang telah ditetapkan.

“Keuntungan tambahan seperti hambatan masuk yang rendah dan fleksibilitas juga menjadi sangat menarik bagi para investor. Pada platform pembiayaan P2P lending, investor bebas memilih perusahaan dan bisnis mana yang akan diinvestasikan. Dan berapa banyak yang mereka investasikan,” ungkapnya.

Pentingnya Diservisikasi

Meski demikian, ungkap Lusiana, jenis investasi P2P lending akan berpotensi risiko kepada investor. “Ini menjadi pembelajaran bagi para investor awal (pemula) tentang pentinginya diversivikasi,” terangnya.

Sebab itu, lanjutnya, semakin besar investor menanamkan investasi ke bisnis ini, maka kian banyak pelaku UKM yang akan terbantu.

Karena besaran angka pemberi pinjaman atau investor cukup terjangkau, tidak sedikit kalangan milenial menanamkan modal ke bisnis P2P lending. Lusiana menyebut, bisnis ini cocok bagi milenial yang ingin menanamkan modal atau investasinya.

“Sebab, ini alternatif investasi berbasis fintech yang mempertemukan pelaku UMKM dan pemberi pinjaman melalui platform online. Artinya, seluruh aktivitas alternatif investasi bisa dilakukan secara online dengan menggunakan smartphone dan aplikasi digital,” ungkapnya.

Jadi, selama kaum milenial memiliki koneksi internet memadai, mereka bisa mengakses alternatif investasi P2P lending di mana saja dan kapan saja.

“Ini sejalan dengan karakteristik generasi milenial yang memang dikenal tech-savvy. Mereka tak bisa lepas dari beragam gadget. Nah, adanya P2P lending yang bisa diakses lewat smartphone, kaum milenial pun bisa menggunakan gadget mereka secara lebih produktif,” jelasnya.

Laporan: Erha Randy, Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi