Nalar.ID

Rachmat Gobel: Indonesia Harus Merdeka di Bidang Kesehatan

Nalar.ID, Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel mengingatkan, Indonesia harus mandiri di bidang kesehatan. “Harus mandiri dan merdeka dalam pengadaan obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan,” kata Rachmat Gobel, di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, kemandirian industri obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan masih menjadi kelemahan serius yang harus dipecahkan.

Presiden Joko Widodo, diakui Gobel, juga mengatakan, struktur ekonomi Indonesia 55% adalah kontribusi konsumsi rumah tangga. “Kita harus alihkan menjadi lebih produktif dengan mendorong hilirisasi, investasi, dan ekspor,” tukasnya.

Gobel mendukung kebijakan dan pernyataan Presiden itu.  “Kasus pandemi harus menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Ketergantungan terhadap impor obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan telah menjadikan kita kesulitan untuk mendapatkan. Harga mahal dan yang utama mengancam nyawa rakyat,” katanya.

Karena itu, ia menilai isu kesehatan telah menyangkut ketahanan nasional serta kedaulatan bangsa dan negara. Pandemi ini, katanya, juga telah memperlihatkan bahwa infrastruktur dan ekosistem kesehatan Indonesia ternyata tak kuat.

Karena itu, Gobel mengatakan, merdeka dan mandiri di bidang kesehatan tersebut harus dijabarkan lebih lanjut dengan menyiapkan infrastruktur dan ekosistemnya seperti regulasi, riset, investasi, industri kesehatan, layanan kesehatan, dan sumberdaya manusia.

“Indonesia juga kaya bahan baku. Belanda dulu menjajah Indonesia karena mencari rempah-rempah dan herbal. Itu kan bagian dari dunia kesehatan juga,” katanya.

Gobel meminta pemerintah untuk bertindak nyata agar pidato Presiden menjadi terwujud.

“Dorong investor untuk berinvestasi di bidang-bidang tersebut. Berikan kemudahan,” katanya.

Jika sudah ada industri dalam negeri yang memproduksi obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan maka pemerintah harus mengutamakan produk dalam negeri.

“Harus ada pemihakan dan pengawalan khusus. Sehingga jangan sampai tong kosong nyaring bunyinya. Kadang-kadang ini masalah di tingkat pelaksana yang tidak memahami visi Presiden,” katanya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi