Nalar.ID

Rebut Pasar AS, RI Pacu Industri Elektronik

Nalar.ID – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri elektronik di dalam negeri agar bisa mengambil peluang ekspor ke pasar Amerika Serikat (AS), di tengah perang dagang yang masih berlanjut dengan China. Langkah strategis ini diharapkan mampu memperbaiki defisit neraca perdagangan sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

“Apalagi, berdasarkan roadmap Making Indonesia 4.0, industri elektronik merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan agar lebih berdaya saing global. Terutama dalam kesiapan memasuki era industri 4.0,” kata Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin, Janu Suryanto di Jakarta, Rabu belum lama ini, kepada Nalar.ID.

Janu mengungkapkan, sejumlah pelaku industri elektronik nasional telah mengekspor produknya ke AS. Nilainya hingga kuartal III tahun 2019, diproyeksi menembus USD1 miliar. Capaian itu meningkat sekitar 10 persen dibanding periode serupa di 2018.

“Yang baru adalah ekspor CCTV. Pabriknya ada di Tangerang. Selain itu, produk air purifier juga sudah (ekspor). Tahun depan (ekspor vacuum cleaner),” ucapnya.

Ia mengemukakan, ekspor ke pasar Paman Sam ini masih cukup prospektif. Khususnya untuk produk berteknologi tinggi.

Janu optimistis, hingga akhir 2019, industri elektronik dapat terus mengerek nilai ekspornya. Sebab, sejumlah perusahaan industri elektronika di Batam, seperti PT Satnusa Persada dan PT Pegatron Technology Indonesia, baru-baru ini mendapatkan kontrak baru untuk memasok produknya ke AS. Selain itu didorong juga untuk memperluas ke pasar-pasar nontradisional.

“Peluangnya masih terbuka karena berkurangnya pasokan produk elektronika dari China ke AS. Bahkan, LG Electronics Indonesia berencana memasok AC portable ke AS dalam jumlah besar,” paparnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari – Agustus 2019, nilai ekspor mesin atau peralatan listrik mencapai USD 5,55 miliar. Sedangkan, nilai impor mesin atau peralatan listrik mencapai USD 12,60 miliar, atau menurun sekitar 10,97 persen ketimbang periode yang sama di 2018.

Rantai Pasok

Janu menambahkan, pihaknya fokus memacu pelaku industri kecil dan menengah sektor elektronik agar mampu mendukung peningkatan produktivitas bagi perusahaan skala besar.

“Contoh, IKM kita dapat memasok charger untuk produk vacuum cleaner yang di produksi industri besar,” tuturnya.

Maka itu, Kemenperin akan terus mengajak pelaku IKM agar bisa lebih jauh terlibat dalam rantai pasok sektor elektronik itu. “Kami akan bantu melalui kegiatan bimbingan teknis, sertifikasi dan fasilitas lain sesuai aturan perundangan yang berlaku,” ujarnya.

Janu menegaskan, pemerintah juga fokus mendorong industri elektronik di dalam negeri agar tidak hanya terkonsentrasi pada perakitan, tetapi terlibat dalam lingkaran rantai pasok bernilai tambah tinggi. Langkah strategis ini diwujudkan antara lain melalui peningkatan investasi.

Sepanjang tahun 2018, nilai investasi industri elektronik menyentuh angka Rp12,86 triliun. Naik dibanding tahun 2017 sebesar Rp7,81 triliun. “Tahun ini, ada beberapa yang akan investasi. Misalnya LG mau tambah USD 100 juta lebih,” tuturnya.

Penulis: Erha Randy | Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi