Nalar.ID

Rekor, Tingkat Kemiskinan RI Turun 9,66 Persen

Jakarta, Nalar.ID – Tercatat, tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2018 turun menjadi 25,67 juta orang. Atau setara 9,66 persen dari total penduduk di Indonesia. Angka tersebut disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (15/1).

Sementara, persentase penduduk miskin terkini, disebut, kembali meraih rekor baru sepanjang sejarah Indonesia. Itu setelah mencetak rekor satu digit Maret 2018.

“Jumlah penduduk miskin sekarang menurun dari periode Maret 2018 sebesar 25,95 juta orang, atau 9,82 persen. Ada penurunan jumlah penduduk miskin 280 ribu orang dari Maret 2018, atau turun 910 ribu orang dari September 2017,” kata di Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (15/1).

Sebab Turun

Suhariyanto menyampaikan, ada beberapa faktor penyebab tingkat kemiskinan menurun. Apa saja? Pertama, upah riil buruh tani per hari naik 1,6 persen ketimbang Maret 2018.

Kedua, naiknya nilai tukar petani (NTP) sebesar 1,21 persen dari 101,94 pada Maret 2018, menjadi 103,17 per September 2018. Ketiga, inflasi indeks harga konsumen (IHK) sebesar 0,94 persen sepanjang Maret – September 2018. Kata Suhariyanto, inflasi ini cukup rendah.

Keempat, sejumlah harga komoditas di tingkat eceran cukup terkendali. Bahkan menurun. Mulai dari penurunan gula pasir 1,48 persen, minyak goreng 0,92 persen, daging sapi 0,74 persen, dan beras 3,28 persen. Kelima, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan warga di 40 persen lapisan terbawah pada Maret – September 2018 meningkat 3,55 persen. Atau lebih tinggi dari garis kemiskinan 2,36 persen.

Keenam, pengeluaran per kapita pada desil 1 – 4 rata-rata meningkat pada Maret – September 2018. Masing-masing naik 3,17 persen, 3,4 persen, 3,46 persen, dan 3,93 persen. Semua kenaikan itu lebih tinggi dari kenaikan garis kemiskinan di periode serupa.

Kemiskinan Tinggi dan Rendah
Sementara, garis kemiskinan nasional naik 2,36 persen menjadi Rp401.670 per kapita per bulan. Sebelumnya Rp401.220 per kapita per bulan di Maret 2018. Pengaruh terbesar garis kemiskinan mencapai 73,54 persen, yakni makanan. Selebihnya bukan makanan.

Catatan BPS, garis kemiskinan terendah adalah Provinsi Sulawesi Selatan. Nilainya Rp315.738 per kapita. Sementara, tertinggi adalah Provinsi Bangka Belitung, Rp664.120 per kapita.

Berdasarkan jenis, komoditas paling berpengaruh terhadap garis kemiskinan yakni beras, rokok rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, kopi bubuk dan kopi instan, kue basah, tempe, dan tahu. Sementara, ada hal-hal terkait pengeluaran bukan makanan yang memengaruhi kemiskinan. Seperti perlengkapan mandi, perumahan, bensin, listrik, dan pendidikan.

Diketahui, secara wilayah, jumlah penduduk miskin terbesar ada di Pulau Jawa. Jumlahnya mencapai 13,34 juta orang. Disusul Pulau Sumatera 5,98 juta orang, Pulau Bali dan Nusa Tenggara 2,05 juta orang, Pulau Sulawesi 2,06 juta orang, serta Pulau Maluku dan Papua 1,53 juta orang. Terakhir Pulau Kalimantan 980 ribu orang.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi