Nalar.ID

Riset Linkedln: Banyak Warga Indonesia Pilih Wirausaha

Jakarta, Nalar.ID – Ketimbang negara lain, masyarakat Indonesia punya keinginan besar membangun atau merintis usahanya sendiri. Riset ini berdasarkan analisis studi perusahaan jaringan profesional Linkedln.

Melalui tajuk ‘LinkedIn Opportunity Index’, perusahaan ini mencatat bahwa orang Indonesia masuk peringkat kedua tertinggi yang ingin berwirausaha ketimbang rata-rata orang di Asia Pasifik.

Berikut keterangan resminya, seperti dihimpun Nalar.ID, Minggu (2/12).

  • LinkedIn mengungkap, 50 persen responden di Indonesia punya preferensi untuk usaha sendiri.
  • Selain Indonesia, ada Filipina, yang juga memiliki ketertarikan berwirausaha sekitar 53 persen. Sementara, 38 persen responden Indonesia yakin punya kemampuan mulai merintis usaha.
  • Dibawahnya, ada Australia 13 persen, Hong Kong 13 persen, dan Jepang 7 persen.
  • Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan optimisme responden di negara maju.
  • Sayangnya, menurut responden di Indonesia, finansial jadi penghalang memulai usaha. Disusul koneksi 29 persen, dan rasa takut gagal sebesar 22 persen.
  • Ada tujuh faktor calon wirausaha optimis maju membuka bisnis. Yakni, peluang, tingkat kesulitan, kepercayaan diri, pandangan ekonomi, kualitas hidup pribadi dan keluarga.
  • Sama dengan 90 persen responden di Asia Pasifik, 94 persen responden di Indonesia meyakini, faktor tekun dan kerja keras adalah kunci sukses. Hal pemicu kesuksesan, diantaranya kesediaan menerima perubahan (93 persen), koneksi tepat (89 persen) dan tingkat pendidikan (84 persen).

Dalam keterangan resminya, Managing Director LinkedIn Asia Pasifik, Olivier Legrand mengatakan bahwa hambatan untuk mengejar peluang, nyata terjadi. “Tapi, selalu ada komunitas yang bisa bantu memelajari keahlian baru hingga menjalin relasi,” ucapnya.

Riset ini, LinkedIn kerja sama dengan GfK. Riset dimulai September hingga Oktober 2018, dengan melibatkan 11 ribu responden usia 16 hingga 60 tahun di sembilan negara. Survei menggunakan metode wawancara online.

Indeks menggunakan skor dasar ‘100’ sebagai rasa percaya diri. Skor tinggi, merepresentasikan kepercayaan diri lebih besar dari orang-orang yang menetap di negara tertentu.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi