Nalar.ID

Sarat Toleransi Beragama dan Budaya, Film ‘Martabak Bangka’ Siap Go International

Nalar.ID – Kabar bahagia untuk film Martabak Bangka. Sejak dirilis di bioskop Tanah Air pada 19 September 2019 lalu, film produksi Bersahaja Film ini akan disertakan dalam festival film internasional di Hong Kong.

Eksekutif Produser, Arbi Leo menyatakan, keikutsertaan film ini ke ajang festival mancanegara, diharapkan agar dunia internasional melihat dan menjadi teladan bagi dunia internasional. Pasalnya, film ini menyajikan kerukunan majemuk dalam cerita film tersebut.

Arbi mengaku merinding dan terkesima ketika melihat scene keindahan pariwisata Indonesia di kota Bangka.

“Ada scene di masjid, didepannya ada klenteng dan masyarakatnya hidup berdampingan rukun damai. Banyak kota-kota di Indonesia seperti ini (Bangka), tempat ibadahnya berdampingan dan masyarakat hidup rukun damai,” jelas Arbi, kepada Nalar.ID, Selasa (8/10).

Pesan Moral

Sekadar informasi, film ini disutradarai oleh Eman Pradipta dan ditulis oleh Fahrul Rozi . Untuk jajaran produser, ada Firman, Heris, Aldi Taher, dan Rival. Untuk pemain, dibintangi oleh Ramon Y Tungka, Ario Astungkoro, Gabriella Desta, Ajul, Anyun, Abah Yusef, Samirah Risky. Hingga Claresta, Yafet Ibrahim, Paulus Djauhari, dan Graceilla Angelica.

Film Martabak Bangka - nalar.id
Milenial dari para pemain sinetron dan FTV. Mereka berkomentar tentang film ‘Martabak Bangka’. NALAR/Istimewa.

Film berdurasi 115 menit ini mengangkat kultur budaya dan toleransi beragama yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Khususnya Provinsi Bangka Belitung.

Di kesempatan terpisah, film ini membuat kesan mendalam bagi para artis sinetron dan FTV. Para milenial ini mengatakan, film ini wajib ditonton untuk kaum muda milenial karena seru, lucu, asyik dan sangat menarik.

Film Martabak Bangka menceritakan tentang pemuda bernama Jaya (Ramon Y. Tungka), seorang pedagang martabak yang dilema pada pilihan yang harus diputuskan. Ia melakukan perjalanan mencari keluarga Koh Acun di Bangka. Koh Acun (58)  adalah sosok yang mengajarkannya menjadi pembuat martabak yang lezat.

Adapun, Jaya diminta mengikuti keinginan kekasihnya, Laras (25) yang meminta dirinya menerima tawaran franchise kedai Martabak Bangka Acun pada Parman (40).

Konflik Pemain

Jaya pun mengingat kenangan ketika dirinya bersama Koh Acun yang telah mengajarkan dan mewariskan resep martabak khas Pulau Bangka.

Setelah itu, Jaya ingin mengembalikan seluruh harta dan abu jenazah Koh Acun pada keluarganya dan meminta izin agar tetap bisa memakai resep martabak milik Koh Acun.

Pak Wongso (63), sahabat Koh Acun sewaktu masih hidup yang tetap setia mengunjungi kedai menyadarkan Jaya bahwa hidup membawa nasib pada kehidupan yang lain.

Di temani Asep (25), sahabat plus anak buah yang membantu di kedai, Jaya memutuskan berangkat ke Pulau Bangka mencari keluarga Koh Acun. Setelah perjalanan panjang dari satu kota ke kota lain, Jaya dan Asep berhasil menemui keluarga Koh Acun.

Lalu, Tedjo (62) pun tak mengakui kalau Acun adalah kakaknya, bahkan menolak untuk menerima abu jenazah Koh Acun. Persahabatan, keluarga, cinta, budaya, dan toleransi, mewarnai film ini.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi