Nalar.ID

Sebab Pendapatan Negara Mencuat 7,7 Persen

Nalar.ID, Jakarta – Tercatat, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 untuk pendapatan negara hingga Maret mencapai 7,7%. Catatan capaian dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ini lebih tinggi ketimbang periode yang sama tahun 2010 sebesar 4,6 persen.

Walau pendapatan negara tumbuh, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menuturkan, ada perbedaan basis support.

Untuk tahun lalu, pendapatan negara 4,6 persen ditopang ekonomi secara meluas. Tetapi untuk saat ini, ditopang pembayaran dividen BUMN yang lebih cepat.

Menurut Menkeu Sri Mulyani, pendapatan negara tumbuh 7,7%. Namun catatannya itu bukan berasal dari kegiatan ekonomi.

“Ini karena ada pergeseran pembayaran dividen dari BUMN, sehingga muncul dalam PNBP kita melonjak,” tukasnya, dalam video conference, Jumat (17/4/2020) lalu. 

RUPS

Menkeu menambahkan, bank-bank negara melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) lebih cepat. Ini membuat pembayaran dividen dilakukan Maret ini.

Sementara, sambungnya, pendapatan negara dari sisi pajak mencapai Rp279,9 triliun, atau 15 persen dari APBN. Capaian ini hampir sama atau tak berbeda dengan tahun 2019 sebesar Rp278,7 triliun.

“Kalau perpajakan tumbuh 0,4 persen flat. Dilihat lebih dalam dari sisi pajak, ini pajak termasuk migas kita kumpulkan Rp241,6 triliun atau 14,7% dari target APBN awal. Ketimbang tahun lalu yang Rp247,7 triliun, terlihat mulai menunjukan negatif growt 2,5 persen untuk pajak,” tambahnya.

Selain itu pendapatan negara dari Bea dan Cukai terkumpul Rp38,3 triliun, atau 17,2% persen dari target. Catatan ini turut menunjukkan growt tinggi sebesar 2,3 persen.

Antisipasi Pembatasan Sosial

Seperti PNBP dalam penerimaan negara, kata Sri Mulyani, Bea dan Cukai naik karena pembelian pita cukai pabrik pabrik industri hasil tembakau dilakukan lebih awal karena antisipasi pembatasan sosial.

“Kita lihat, angka di bulan ini belum normal yang menunjukan kondisi ekonomi sesungguhnya, sebab ada beberapa hal yang sifatnya tidak akan berulang seperti pembelian cukai lebih awal dan pembayaran dividen BUMN lebih awal,” tukasnya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi