Nalar.ID

Segini Jumlah Bantuan Kemensos untuk Pengungsi Nduga

Nalar.ID – Kementerian Sosial memastikan seluruh bantuan tahap II selesai terkirim pekan ini. Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengaku telah menerima laporan dari tim Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial. Pihaknya menyatakan bahwa seluruh bantuan tahap II akan diterbangkan ke Kabupaten Wamena, Papua, pekan ini.

“Kepastian pengiriman bantuan didapat setelah tim PSKBS berkoordinasi dengan aparat keamanan, dinas Provinsi Papua dan Kabupaten Wamena. Selanjutnya tugas dinas Kabupaten Wamena mendistribusikannya,” kata Agus, di Jakarta, Senin (22/7).

Agus menjelaskan, penanganan pengungsi korban konflik Kabupaten Nduga harus melibatkan semua unsur pemerintah pusat, daerah dan TNI/Polri. Pemerintah dalam menangani pengungsi itu sangat hati-hati sebab sangat beda dengan penanganan pengungsi korban bencana alam.

“Dengan kerjasama semua unsur, maka masalah yang dihadapi pengungsi dapat terselesaikan,” jelas Agus.

Kendala Data

Dalam kesempatan serupa, Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI Harry Hikmat mengakui, saat ini pemerintah terkendala melakukan pendataan pengungsi akibat konflik di Kabupaten Nduga. Kendala dikarenakan banyak dari mereka yang berada di rumah kerabatnya.

“Ini menyulitkan identifikasi mereka,” tukas Harry.

Harry menambahkan, berdasarkan laporan yang diberikan Kodim 1702 Jayawijaya, pengungsi di kabupaten itu sudah kembali ke rumah keluarga masing-masing.

“Di Kabupaten Jayawijaya sudah tidak ada lagi pengungsi. Dari laporan itu, tak ada penghentian bantuan ke pengungsian di Kabupaten Lanijaya. Pemkab Lanijaya terus menyalurkan bantuan logistik ke pengungsian di sana,” imbuhnya.

Laporan Kodim tersebut, lanjut Harry, telah menjawab pemberitaan yang menyebut adanya pengungsi meninggal akibat tak ada penanganan dari pemerintah. Maka itu, pemerintah mempertanyakan sumber pemberitaan tersebut.

Selain itu, Harry meminta media massa dan masyarakat tidak serta-merta begitu saja percaya terhadap kabar pengungsi yang meninggal karena ketiadaan bantuan.

Bantuan Hampir 800 Juta

Diketahui, bantuan terhadap pengungsi akibat konflik bersenjata di Provinsi Papua terdiri atas dua tahap senilai Rp 740.449.000.

Tahap pertama yang telah tersalurkan sebanyak 50 ton cadangan beras pemerintah (CBP). Terdiri atas 10 ton lewat Jayapura, 10 ton ke distrik Mbua, distrik Yal, distrik Mbulmu Yalma, dan 30 ton melalui Kabupaten Wamena. Bantuan ini telah diserahterimakan kepada Pemda Kabupaten Nduga.

Selain itu, pemda juga menyalurkan bantuan sembako tahap pertama ke pengungsi korban konflik Nduga. Sembako terdiri dari 1.680 karton mi instan, 9.520 kilogram gula pasir, 9.873 liter minyak goreng, 19.200 bungkus garam, 9.550 bungkus ikan kaleng, 9.550 bungkus kopi, dan 50 kilogram beras.

Harry menambahkan, bantuan tahap II terdiri dari 250 paket perlengkapan bermain, perlengkapan belajar anak 250 paket, perlengkapan olahraga 30 paket, kebutuhan kelompok rentan (balita, lansia, kebutuhan khusus) 850 paket.

“Semua bantuan itu kini di gudang Dinas Sosial Provinsi Papua. Siap diterbangkan ke Wamena,” imbuhnya.

Selain telah memberikan bantuan makanan dan kebutuhan lainnya, Kemensos juga telah memberikan bantuan layanan dukungan psikososial (LDP) pada Februari lalu.

Kemensos telah melakukan asesmen kegiatan layanan dukungan psikososial. Hasil asesmen itu, yakni menyatakan kebutuhan yang cukup mendesak selain kebutuhan dasar adalah pelayanan kesehatan. Sebab, penyintas banyak yang mengalami luka-luka akibat berjalan kaki dari Kabutane Nduga ke Jayawijaya.

“Asesmen dilakukan terhadap penyintas usia SD sampai SMA, dan guru di sekolah darurat di Gereja Kingmi, Distrik Sinakma, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua,” kata Harry.

Hasil asesmen juga menunjukan adanya kesulitan petugas mendata pengungsi karena tidak ada penampungan khusus. Mereka tersebar di rumah sanak saudara sehingga tidak terpantau  pemenuhan kebutuhan dasar.

Untuk kondisi sekolah, berdasarkan hasil asesmen, menunjukan kondisi sekolah darurat terbuat dari terpal dan kayu kurang memadai sebagai tempat belajar dan mengajar. Mengingat sebagian anak akan menghadapi ujian nasional.

2.000 Warga Mengungsi

Konflik akibat kontak senjata antara aparat TNI-Polri dengan kelompok kriminal bersenjata pimpinan Egainus Kogoya di Distrik Yal Kabupaten Nduga pada 26 Februari 2019 menyebabkan warga di Distrik Mbua, Yal, Yigi, Mapenduma, Nikuri, dan Mbulmu Yalma, mengungsi.

Sekitar 2.000 warga mengungsi. Mereka tersebar di Distrik Mbua, Distrik Yal, Distrik Mbulmu Yalma Kabupaten Nduga dan Kabupaten Wamena. Jumlah pengungsi siswa SD, SMP, dan SMA lebih-kurang 600 orang. Mereka terdata di Distrik Mbua, Distrik Yal, Distrik Mbulmu Yalma Kabupaten Nduga.

Sedangkan di Kabupaten Wamena belum diketahui pasti sebab kondisi pengungsi ada di keluarga atau suku masing-masing.

Begitu pula jumlah pengungsi dewasa dan kelompok rentan lain, masih belum bisa di data karena kondisi keamanan. Serta masyarakat yang masih merasa takut untuk berkomunikasi dengan pihak di luar suku atau keluarganya.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi