Nalar.ID

Strategi Baru Industri Musik Hadapi Era Hibidra 2022

Nalar.ID, Jakarta – Sepanjang dua tahun pandemi, ada beberapa indikator positif di dunia musik. Di antaranya meningkatnya jumlah pemakai aplikasi streaming musik. Kian banyak musisi yang sadar pentingnya platform musik digital dan distribusi.

Serta produktivitas para musisi yang justru makin meningkat selama masa pandemi karena keterbatasan melakukan konser musik luring.

Atas masih berlangsungnya pandemi, semua belajar banyak cara baru melanjutkan bisnis masing-masing dan dituntut untuk jeli mengatur strategi menghadapi situasi yang masih belum menentu.

Direktur Musik, Film dan Animasi, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mohammad Amin menggaris bawahi peran streaming dalam penyelenggaraan event hibrida yang mampu menjangkau audiens di luar area luring.

Ia menunjukkan data dari Anugrah Musik Indonesia (AMI) beberapa waktu lalu, di mana AMI Awards 2021 menerima 4.645 karya dibandingkan dengan 2.971 karya di 2020, dan 1.973 karya di 2019.

“Pada Juni 2020, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki nilai pasar streaming musik terbesar di dunia, menduduki posisi ke-18. Ini menunjukkan, terlepas dari dampak negatif pada industri musik, pandemi tidak menyetop proses kreatif dalam berkarya, mendistribusikan atau mengonsumsi musik,” ujar Amin, dalam sebuah keterangan.

Tantangannya, sambungnya, terletak pada bagaimana mengedukasi masyarakat untuk mengadopsi teknologi yang terus berkembang. Pemerintah akan mengupayakan produk hukum untuk melindungi pelaku industri musik yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi.

Penyanyi Oslo Ibrahim membenarkan pendapat Amin. Ia berpendapat, penerapan pembatasan sosial justru mendorongnya lebih produktif dalam menciptakan lagu.

“Saat pandemi terus berlanjut, salah kalau tidak melakukan apa-apa. Jadi, saya mulai membuat lagu. Sekarang saya punya satu album dan dua EP (extended play atau mini album). Next, untuk 2022 akan ada EP lagi dan beberapa single terbaru,” tambahnya.

Mereka mengakui bahwa ke depan, Covid-19 akan menjadi endemi. Di mana, masyarakat harus hidup berdampingan dengannya, lengkap dengan penerapan protokol kesehatan. Meski demikian, para mereka juga berharap akan lebih banyak event musik luring yang diselenggarakan tahun depan. Dahlia Wijaya menjelaskan konser musik tentunya memberikan pengalaman berbeda.

“Pasti ada euforia pra dan paska-konser yang membuat orang ingin mendengarkan lagi lagu-lagunya, sehingga akan meningkatkan streaming. Menyimpan kenangan dari kehadiran di konser dan membaginya melalui media sosial juga memberikan dampak yang akhirnya, akan memberikan pendapatan lebih bagi para artis,” kata Dahlia.

Seiring dengan penurunan level pembatasan pemberlakuan kegiatan masyarakat, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia dan CEO Berlian Ent, Dino Hamid belum lama ini menggelar Drive-in Concert yang memungkinkan penonton menyaksikan konser dari dalam mobil mereka sebagai penerapan protokol kesehatan.

“Adaptasi, inovasi, dan kolaborasi merupakan kunci untuk menerapkan cara baru dalam usaha. Sayang, model bisnisnya masih belum ideal mengingat perlu investasi besar untuk menyertakan anggaran protokol kesehatan. Selain itu, pihak sponsor juga belum bisa memberikan kepastian,” katanya.

Sementara bagi CEO Juni Records Adryanto Pratono, timnya memahami bagaimana pandemi telah mengubah siklus bisnis.

“Sekarang, kami fokus pada merilis lagu demi lagu, dan mempromosikannya pada platform digital karena konsumen kan browsing musik di platform streaming. Adanya pertunjukkan offline di masa depan akan memberikan manfaat bukan saja bagi para artis, tapi juga memberikan pendapatan bagi seluruh elemen dalam ekosistem industri musik,” kata Boim, sapaan Adryanto.

Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi