Nalar.ID

Strategi Kembangkan Mobil Listrik Lokal

Nalar.ID, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya berkontribusi mewujudkan Indonesia sebagai pemain utama memproduksi kendaraan listrik (electric vehicle).

Langkah strategis dilakukan dengan mendorong pengembangan teknologi baterai dalam negeri untuk mendukung pembangunan industri kendaraan listrik nasional.

“Baterai adalah komponen kunci kendaraan listrik. Kontribusi sekitar 25-40% dari harga kendaraan listrik,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Doddy Rahadi pada webinar di Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Kemenperin, belum lama ini.

Doddy menjelaskan kendaraan listrik menggunakan baterai lithium ion berbahan aktif katoda. Antara lain melibatkan unsur lithium, nikel, kobalt, mangan dan alumunium.

Substitusi Impor

Katoda, memberikan kontribusi paling tinggi terhadap harga sel baterai lithium sekitar 34%. Karena itu, Kemenperin mendorong agar material itu harus diproses di dalam negeri guna mendapatkan harga lebih ekonomis. Mengingat Indonesia memiliki sumber daya alam berlimpah yang dapat diolah jadi bahan aktif itu.

Adapun, Kemenperin melalui B4T, berupaya melakukan substitusi impor di bidang energi, dengan membuat bahan aktif katoda berbasis NMC (nikel-mangan-kobalt).

Dimana, proses pembuatan material aktif menggunakan produk industri smelter Indonesia. Namun, proses substitusi impor bahan aktif katoda memiliki kendala, yaitu sumber lithium, paparnya.

Ia menbahkan, Indonesia tak memiliki sumber alam mineral lithium. Untuk mengatasi hal itu, Kemenperin menginisiasi proses recovery lithium dari recycle baterai bekas.

Proses recovery lithium dari baterai bekas ini dikenal istilah urban mining.

Penelitian terkait urban mining ini sangat diandalkan. Tak terkecuali negara–negara maju. Bagi negara produsen, urban mining ini menjadi solusi mempertahankan keberlangsungan produksi.

Dengan inovasi itu, nantinya, Indonesia bisa memiliki cadangan lithium meski tidak terdapat tambang lithium dari alam.

“Upaya ini merupakan salah bentuk circular economy di bidang energi, khususnya kendaraan listrik,” tukasnya.

Rancang Bangun

Doddy menambahkan, keseriusan pemerintah mengembangkan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, ditunjukkan dengan telah ditandatanganinya Peraturan Presiden (Perpres) No. 55 tahun 2019 tentang Percepatan Pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik.

Perpres itu menjadi landasan pelaku industri otomotif di Indonesia untuk segera menyusun rancang bangun pengembangan mobil listrik.

“Target pemerintah, tahun 2025, sekitar 25 persen, atau 400 ribu unit kendaraan Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) ada di pasar Indonesia,” jelasnya.

Kepala BPPI menegaskan, guna mendorong pengembangan baterai kendaraan listrik dalam negeri, perlu upaya memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Sekaligus upaya untuk substitusi impor komponen baterai, yang ditunjang oleh hilirisasi industri baterai lithium.

Tantangan bagi akademisi, pelaku industri, pemerintah, peneliti, perekayasa serta asosiasi dalam negeri untuk mewujudkan hal itu.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi