Nalar.ID

Tak Harus Oplas, Ini Trik Hadapi Body Shaming

Jakarta, Nalar.ID – Pernah diolok-olok atau dipermalukan bagian tubuh tertentu di lingkungan umum? Mungkin bukan hal asing.

Kasus terbaru, selebriti Dian Nitami mengalami kejadian tak enak. Warganet melakukan body shaming (ejekan atau penghinaan fisik) pada hidung Dian. Hidungnya dinilai terlalu besar. Tak terima perlakuan itu, Dian, membuat laporan kepolisian, pekan lalu.

Bagi sebagian banyak orang, operasi plastik (oplas) dipandang menjadi solusi akhir mengatasi body shaming. Pendapat ini dibenarkan dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi estetik Ariawan Laurentius.

Ariawan menyebut, lemak membandel sulit dihilangkan dengan cara konvensional dan baru terpakai tubuh setelah lemak lain dipakai lebih dahulu.

“Cadangan terakhir ini ada di beberapa tempat sesuai genetik. Misalnya, orang Eropa, cenderung di paha dan betis. Afrika, di breast, paha dan bokong. Orang Asia, di lengan, ketiak, dan punggung. Baru akan mengecil setelah cadangan lemak di lain tempat mengecil dahulu,” ujar Ariawan, dihubungi Kamis (10/1).

Ariawan menambahkan, tubuh tertentu akan mengecil setelah cadangan lemak di tempat lain mengecil. Ia menyebut, seseorang butuh diet antara 8 – 12 bulan untuk mendapatkan bentuk tubuh yang slim. “Tapi bila salah makan maka dalam 1 – 2 bulan, tubuh kembali melebar. Ini yang disebut efek yoyo,” jelasnya.

Efek Oplas

Terkait dampak pasca operasi, Ariawan, menjelaskan bahwa efek operasi hanya terjadi di tempat yang dilakukan tindakan.

“Misalnya, lemak di perut, maka perut terlihat slim. Kalau lengan, paha, atau dagu, maka hanya di lokasi itu yang lemaknya hilang dan hasilnya menetap sampai bertahun-tahun,” terangnya.

Meski demikian, kata Ariawan, body shaming tak harus selalu melalui oplas. Ada alternatif lain. Seperti konvensional, dengan diet atau massage untuk menghancurkan lemak. Dua sistem itu sama, yakni lemak dihancurkan meskipun tidak mengambil inti sel.

“Lemak hancur dalam 3 bulan akan diserap tapi jika makan normal maka sel lemak akan membentuk cadangan lagi. Sehingga dalam 6 bulan bisa gemuk lagi. Massage pijat juga punya efek seperti ini sehingga untuk maintenance harus sering dilakukan sebelum terbentuk lagi cadangan lemaknya,” lanjutnya.

Secara teknis, tindakan oplas dapat menggunakan metode berbagai alat. Mulai dari laser, ultra sound, dan mekanik. Dengan alat itu, kemudian mengeluarkan sel lemak yang pecah atau rusak.

Selanjutnya, mengeluarkan sel lemak yang pecah atau rusak hingga mengurangi terjadinya jaringan fibrotik (parut). Setidaknya, kata Ariawan, dari 100 persen, 90 persen lemak terangkat.

Di sisi lain, tindakan oplas mengalami tren menarik. Tak hanya Korea Selatan, namun Tanah Air.

Menurut Ariawan, tren oplas, jika hasilnya dapat memenuhi harapan maksimal dengan tingkat keamanan tinggi, maka tren akan membaik dan memperoleh kepercayaan masyarakat.

“Di Asia, masih didominasi memancungkan hidung dan dagu, face lift, memperbesar lipatan mata, menghilangkan kantong mata. Lalu lipo selection atau liposuction, bisa dilakukan pada lemak di seluruh bagian tubuh,” sambungnya.

Pidana Bui

Di kesempatan terpisah, pihak kepolisian mengingatkan masyarakat agar tak sembarangan mengejek fisik seseorang (body shaming). Sebab, perbuatan ini masuk kategori tindak pidana. Ancaman hukuman tak main-main: 6 tahun.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, mengatakan, kasus body shaming tergolong kategori langsung dan tidak langsung.

Kategori tidak langsung, yakni ejek fisik melalui media sosial yang diakses banyak orang. Kategori ini masuk UU ITE Pasal 45 Ayat 1 dan Pasal 27 Ayat 3. Ancaman pidana 6 tahun.

“Kalau ejekan fisik ditujukan langsung kepada objek, pelaku dijerat Pasal 310 KUHP. Ancaman hukuman 9 bulan penjara. Kalau lewat tulisan tanpa ditransmisikan ke media elektronik, dijerat Pasal 311 KUHP,” kata jenderal bintang satu ini, ditemui di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (9/1).

Sementara, jika tertulis langsung ditujukan kepada seseorang, masuk Pasal 311 dengan ancaman pidana 4 tahun.

Dedi menambahkan, ancaman hukuman pelaku body shaming bukan perkara sepele. Ejekan fisik melalui media sosial jauh lebih berat sebab dampak yang ditimbulkan lebih besar. Sebab, ejekan melalui media sosial bisa diakses jutaan orang.

“Jejak digitalnya enggak bisa dihapus. Tapi kalau konvensional, hanya dilihat sedikit orang,” lanjut Dedi.

Penulis: Erha Randy | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi