Nalar.ID

Tak Mudah menjadi Advokat, Ini Kata Ahlinya

Sesuai Undang Undang No. 18 Tahun 2003, seseorang yang berprofesi sebagai advokat harus netral dan tidak berpolitik. Secara umum, advokat dianggap sebagai pekerjaan mulia yang independen.

“Artinya, kalau semua advokat memilih jalan berpolitik, dia harus melepaskan dan menanggalkan sementara posisinya sebagai advokat. Kalau dia tak terpilih (sebagai anggota dewan atau caleg), bisa kembali lagi sebagai advokat,” kata M. Firdaus Oiwobo, pengacara sekaligus Ketua LSM Komunitas Pengawas Korupsi (KPK), dalam sebuah acara di kawasan Tangerang Selatan, belum lama ini.

Ia menegaskan, keberadaan advokat tanpa berpolitik untuk menjamin independensi dan kemandirian advokat. Bila advokat berpolitik, dikuatirkan berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu.

Secara posisi dan keberadaan, advokat sama seperti masyarakat biasa pada umumnya. “Dia tidak sama dengan pejabat struktural di pemerintahan. Artinya, tidak mengikat. Tapi kalau mereka hanya menjadi pendukung calon, ya sah-sah saja selama enggak masuk struktural parpol,” tukas Ketua Kongres Advokat Indonesia (KAI) DPC Tangerang Selatan ini.

Sejatinya, profesi pengacara atau advokat, memang bertujuan untuk merubah nasib seseorang atau teraniaya. Namun, kenyataan di lapangan, menjadi seorang advokat tak semudah yang dibayangkan. Terlebih persaingan jumlah advokat yang begitu ketat.

“Terlebih, lulusan fakultas hukum yang berlimpah. Advokat menjadi profesi sulit disaat dia enggak punya ilmu dan skill mumpuni. Setelah lulus S1, dia harus magang 2 tahun di kantor hukum yang sudah berdiri minimal 5 tahun,” sambungnya.

Menurutnya, meski setiap tahun banyak 10 ribu lulusan program studi ilmu hukum sarjana, belum tentu yang berhasil menjadi advokat sebesar itu. Paling-paling, lanjutnya, hanya lolos 1.000 orang menjadi advokat setelah proses saring.

Walau demikian, ia tak memungkiri, praktik advokat dinilai rentan dan melanggar kode etik. “Kalau pengacara hanya mengedepankan mencari uang di dunianya itu, maka dia akan menghalalkan segala cara dan melanggar profesi,” tutupnya.

Penulis: Baktian Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi