Nalar.ID

Tantangan Pemuda Katolik: Toleransi dan Tantangan Pemulihan Ekonomi Nasional

Nalar.ID, Jakarta – Menapaki 76 tahun Pemuda Katolik berkiprah di Indonesia adalah sebuah keniscayaan di tengah ragam persoalan bangsa. Diharapkan visi dan misi bangsa ini menjadi pengikat setiap kader Pemuda Katolik.

Sebagai kader Katolik yang terlibat dalam kehidupan berbangsa, mengalami dan merefleksikan realitas nasional-global menuju organisasi pemuda Katolik yang transformatif, dibutuhkan semangat Reborn and Grow Further dengan memperhatikan program-program internal. Khususnya clustering kader, afirmasi sumber daya organisasi, unit kerja dan incubator bisnis, serta kelembagaan riset dan kebijakan publik.

Pesan ini mengemuka dalam Pelantikan Pengurus Pusat Pemuda Katolik periode 2021-2024 bertema ‘Akselerasi Gerakan Pemuda Katolik Memasuki Tahun Toleransi dan Tantangan Pemulihan Ekonomi Nasional’ pada Senin, 10 Januari 2022 lalu di Jakarta.

“Tema ini sejalan dengan program pemerintah pusat yang mencanangkan tahun 2022 sebagai Tahun Toleransi,” ujar Ketua Panitia Melkianus Da Costa Pirez, kepada Nalar.ID.

Ia mengatakan, Pemerintah ingin menjadikan Indonesia sebagai barometer kehidupan yang rukun dan harmonis di dunia. Maka itu, lanjutnya, ada program moderasi beragama proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang terhindar dari perilaku ekstrem atau sikap berlebihan.

Selanjutnya, selain usaha untuk mendorong para penganut beragama untuk mengambil ‘jalan tengah’ agar tidak ekstrem, Pemuda Katolik juga harus terlibat dalam pemulihan ekonomi nasional.

“Pemuda Katolik ingin bersama anak bangsa lain recover together, khususnya di bidang ekonomi. Baik itu produktivitas, peningkatan ketahanan, dan memastikan stabilitas ekonomi,” tukas Pirez.

Diketahui, dari total 80 calon pengurus pusat yang dilantik di Kemayoran, Jakarta, pada 10 Januari lalu, namun yang hadir adalah 59 kader dari setiap perwakilan daerah di seluruh Indonesia. Para kader dilantik oleh Kardinal Ignatius Suharyo, Ketua Konferensi Waligereja.

Mewakili Pengurus Pusat, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma mengatakan Pemuda Katolik adalah organisasi kemasyarakatan yang memiliki kader dari berbagai latar dan kalangan etnis. Tersebar di semua wilayah NKRI, dari tingkat pusat hingga lingkup desa.

Menurut Gusma, sebagai anak bangsa, Pemuda Katolik berkomitmen untuk terlibat merancang dan menjalankan program-program internal organisasi dan mendukung program-program pemerintah, khususnya yang tercantum dalam Prolegnas Prioritas Pemerintah tahun 2022.

Gusma menegaskan, ada beberapa poin akselerasi yang menjadi concern utama Pemuda Katolik. Di antaranya, memperkuat toleransi. Kedua, mendukung Penyatuan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Elemen-elemen OKP, sebagai garda terdepan bangsa, perlu bersatu mengawal NKRI.

Ketiga, pemilu serentak. Pemuda Katolik selain menjadi wadah pengkaderan harus mampu bertransformasi menjadi perahu konsolidasi kader Katolik melalui dua gerakan strategis, yakni pembangunan dan penguatan etalase politik Katolik dan etalase politik konsolidasi.

Keempat, isu Papua. Untuk mendorong akselerasi organisasi, struktur resmi organiasi akan didorong dengan metode kerja yang lebih terukur dalam beberapa unit kerja. Salah satu unit kerjanya adalah Gugus Tugas Isu Kebangsaan, HAM dan Papua.

Kelima, pemerintah dan DPR telah menyepakati Prolegnas RUU perubahan ketiga tahun 2020-2024 sebanyak 40 RUU. Keenam, program internal, yaitu distribusi kader. Potensi kader yang tersebar dan belum terkonsolidasi sebagai satu kesatuan untuk bergerak secara kolektif.

Maka target paling utama adalah database kader sesuai potensi dan kompetensi. Kemudian pola dan sistem distribusi yang paten dan bergerak secara sehat. Serta hubungan strategis dengan institusi dan Lembaga mitra resmi maupun swasta.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi