Nalar.ID

Teken Kesepakatan MEA, Ini Masalah Tenaga Medis Indonesia Menurut Dokter Gigi Chairunnisa

Nalar.ID – Beberapa waktu lalu, Indonesia menjadi salah satu dari 10 negara yang ikut menandatangani kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Selain harus dituntut siap menjadi subjek, juga berperan penting dalam kerja sama regional.

Skema kerja sama MEA tersebut, diantaranya melalui bidang kesehatan. Cakupan pun luas. Mulai dari sumber daya manusia, obat-obatan, penyediaan fasilitas dan alat kesehatan, hingga investasi pembangunan.

Dalam kasus serupa, Prof. Dr. Budi Wiweko, Sp.OG (K)., MPH., dan Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Kerja Sama MEA dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menuturkan, dunia kesehatan dalam negeri harus setara dalam kompetensi di tingkat global dan regional.

Ketersediaan Skill SDM

Dihubungi Nalar.ID terpisah, Kamis (2/5), Dr. Chairunnisa, drg., Sp.BM., mengungkapkan bahwa ketersediaan skill sumber daya manusia (SDM) menjadi hal utama karena bidang-bidang lain secara otomatis dapat mengikuti.

“Kompetisi juga diperkuat dengan dengan standarisasi yang berlaku internasional,” ucap dokter Irun, sapaan akrab perempuan kelahiran 49 tahun silam ini.

Budi Wiweko mengatakan, Indonesia harus setara dalam kompetisi dan pemberian lisensi praktik serta mobilitas tenaga ahli wilayah ASEAN. Tetapi, Irun berpendapat, perlu studi banding dengan negara Asean lainnya untuk pemberian lisensi dan sistem hukum serta kontrol-nya. “Lalu kita tentukan, negara mana untuk dijadikan benchmark,” tukas Irun.

Dr. Chairunnisa, drg., Sp.BM - nalar.id
Dr. Chairunnisa, drg., Sp.BM., sedang menangani pasien di ruang kliniknya. NALAR/Dok.pri.

Sejauh ini, peluang dan tantangan para tenaga medis atau dokter di Indonesia cukup menjadi perhatian serius. Irun menuturkan, persaingan membuat iklim usaha bergairah dan selalu berpikir kedepan serta bergerak maju.

Diantara negara Asean lainnya, sambungnya, Indonesia berpenduduk terbesar. “Mungkin secara umum punya sistem kesehatan dan masih perlu perbaikan di sana-sini. Rasio dokter-penduduk masih perlu dikejar,” jelasnya.

Kemampuan Berbahasa

Pada tatanan pendidikan kesehatan di perguruan tinggi, umumnya masih berimbang dengan negara Asean lainnya. Namun, lanjutnya, salah satu kelemahan mendasar paramedis dan dokter Indonesia, ada pada kemampuan berbahasa Inggris.

“Mereka kalah jauh dengan Malaysia, Singapura, dan Filipina. Perlu masuk kurikulum,” tambahnya.

Sementara, di sisi lain, ada beberapa rumah sakit di Indonesia yang masih dimiliki asing. Sebab itu, dokter Indonesia harus memiliki kualitas setara dengan dokter asing.

Penggagas Hypnodontia ini setuju. Menurutnya, kualitas para dokter sangat diperlukan, karena kesalahan diagnosa berakibat fatal dan costly (mahal). “Kualitas sangat ditentukan dari pengalaman, menghadapi berbagai masalah dan jenis penyakit,” tuturnya.

Lantas, apa yang perlu dibenahi oleh tenaga medis dan fasilitas di beberapa rumah sakit di Indonesia? Irun mengatakan, perlu ada ketegasan kode etik dan rambu-rambu, yang jelas antara tugas dan perawat. “Antara dokter umum dan spesialis, serta bidan dan dokter kandungan,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Irun, perlu ada perluasan kewenangan serta peningkatan kapabilitas perawat, paramedis, dan bidan.

Ia menyontohkan, di negara maju, wewenang para bidan sangat besar untuk persalinan normal. “Jika diduga ada persalinan komplikasi, maka kasus ini baru diserahkan ke dokter kandungan. Berbeda dengan di Indonesia. Angka kelahiran normal menjadi sedikit,” kata President Jakarta Charter Chapter dari International Coach Federation ini.

On-job Training Dokter

Irun mengimbau, perlu banyak simulasi-simulasi kasus. Untuk awal semester, bisa dimulai dengan pendidikan dan on-job training dokter untuk pemula. Sehingga mereka menjadi terbiasa menghadapi kasus real di lapangan.

“Lalu, langkah-langkah pengambilan keputusan genting menjadi penting. Perlu pengajaran pola berpikir, sehingga kesalahan diagnosis menjadi sangat minim,” tukasnya.

Pembenahan lainnya, lanjut Irun, ialah peningkatan budaya kerja tim antar-dokter. Membiasakan para dokter untuk berdiskusi sebelum menetapkan kasus.

Kemudian, meningkatkan kemampuan berbahasa asing agar menjadi perhatian khusus. “Ada tinjauan ulang terhadap sistem pendidikan berbahasa kita. Lalu, perluasan dan pendalaman ke masyarakat dalam bidang pendidikan kesehatan promotif dan preventif,” ujarnya.

Terakhir, pemberdayaan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam regulasi, pengaturan, dan controling rutin atas izin-izin produksi makanan serta minuman. Juga obat-obatan herbal untuk menciptakan manusia segar dan sehat.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi