Nalar.ID

Teknologi Geotermal Pertama di Dunia Karya Anak Bangsa

Nalar.ID, Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), anak usaha dari PT Pertamina (Persero), terus berinovasi mempercepat pengembangan energi panas bumi di Indonesia.

Salah satunya, inovasi yang diciptakan Perwira Pertamina, yaitu Husni Mubarok. Production Enginer PGE ini berhasil mengembangkan sistem pengukuran laju alir dua fase atau two phase flow meter sebagai terobosan teknologi geotermal pertama di dunia.

“Ini hadiah sederhana dari kami untuk negeri,” kata Direktur Utama PGE Ahmad Yuniarto.

Bermula dari penelitian saat mengambil program doktoral di Selandia Baru, Husni mengembangkan sistem pengukuran laju alir dua fase atau two phase flow meter.

Teknologi ini berfungsi untuk memastikan data real-time fluida geotermal pada sumur produksi. Dengan begitu, bisa dipastikan performa operational excellence sumur panas bumi sehingga kualitas sumur pun bisa terjaga.

Husni menyatakan, ide ini muncul saat ia kuliah di University of Auckland. Husni memulai dengan mengidentifikasi persoalan yang terjadi pada sumur geotermal.

“Saya melihat belum ada teknologi yang mengukur fluida dua fase geotermal. Selama 3,5 tahun kuliah di Selandia Baru, saya fokus memikirkan bagaimana menciptakan teknologi ini,” kata Husni, belum lama ini.

Husni memulai kuliahnya pada 2016. Penelitiannya mendapat dukungan langsung dari PGE dan pemerintah Selandia Baru. Perusahaan energi di negara itu bersedia memfasilitasi penelitiannya, yaitu dengan memberi fasilitas percobaan di sejumlah sumur mereka.

Dari situlah Husni bisa menemukan komposisi yang tepat untuk bisa menghasilkan teknologi mengukur fluida dua fase yang bisa diimplementasikan di sumur geotermal.

Lalu, apa keunggulan dari teknologi geotermal pertama di dunia ini? Dengan teknologi karya anak bangsa ini, perusahaan geotermal bisa memonitor sumur saat produksi.

Perusahaan pun bisa mengatasi potensi masalah di sumur geotermal tanpa mengganggu produksi.

“Yang tak kalah penting, staf atau pekerja di bagian produksi bisa memprediksi sumber daya yang ada di lapangan. Alat ini bisa memprediksi berapa lama produktivitas sumur geotermal,” lanjutnya.

Saat ini, teknologi fluida dua fase ini masih dalam tahap field prototype untuk pengujian operasi di lapangan panas bumi.

Jika tahap ini rampung, penggunaannya bisa diterapkan lebih luas lagi. Untuk pelaksanaan pengujian, PT PGE sudah menandatangani kerja sama dengan PT Elnusa Tbk, yang juga anak usaha Pertamina pada Juni 2021 lalu.

Setelah dilakukan uji operasi, teknologi ini diharapkan dapat digunakan secara luas. Ini juga menjadi kontribusi PGE terhadap pengembangan teknologi geotermal di Indonesia maupun dunia internasional,” ujar Ahmad Yuniarto.

Ditargetkan produk ini bisa dikenalkan dan di produksi secara komersial akhir 2021 atau awal 2022.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi