Nalar.ID

Trilogia Institute: Anies Diserbu Politik Dagang Sapi

Nalar.ID – Mungkin kita sering mendengar dalam dunia politik yang disebut ‘Politik Dagang Sapi’. Seperti yang umum diketahui bahwa Politik Dagang Sapi adalah politik tawar menawar antar partai politik dalam menyusun sebuah kabinet koalisi.

Politik dagang sapi sudah sangat sering dicontohkan oleh para partai elit politik dalam menyusun kabinet kerja demi memajukan visi dan misi bersama, tentu ikut menyertai kepentingan individu dan politik partainya masing-masing.

Politik dagang sapi tentu berbeda dengan judul tulisan di atas. Politik dagang sapi berbeda dengan politik dagang tapi. Singkat penulis jelaskan, bahwa politik dagang tapi yaitu politik yang selalu tak akan pernah puas dan setuju dengan keberhasilan seseorang.

Keberhasilan sebuah kepemimpinan di tangan orang lain atau kelompok lain. Yang menghiasi komentarnya selalu “tapi”, dan terus “tapi”.

Baru saja masyarakat dibuat bangga oleh seorang gubernur. Khususnya masyarakat Jakarta, Gubernur DKi Jakarta, Anies Baswedan, selama kepemimpinannya memberikan efek positif yang mengagumkan.

Betapa tidak, Anies dari tahun ke tahun selama menjabat Gubernur selalu mendapat penghargaan. Baru-baru ini, begitu mengejutkan, Anies Baswedan mendapatkan penghargaan Sustainable Transport Award dan masuk dalam 21 pahlawan 2021 atau 21Heroes2021 versi Transpormative Urban Mobility Initiative (TUMI).

TUMI

Transpormative Urban Mobility Initiative, disingkat TUMI, adalah sebuah lembaga nirlaba asal Jerman yang mendorong inisiatif kebijakan transportasi urban berkelanjutan di seluruh dunia.

Lembaga ini dibentuk oleh 11 mitra yang disebut-sebut bergengsi. 21 Heroes 2021 diberikan untuk menghormati mereka yang mencapai kesuksesan transportasi pada 2020. Pemberian gelar menimbang tantangan yang dihadapi, serta inisiatif mengembangkan mobilitas yang lebih sukses dan berkelanjutan pada 2021.

TUMI mengaku memiliki tujuan mengubah mobilitas untuk kepentingan manusia dan lingkungan dengan tujuan untuk masa depan. TUMI mendukung proyek transportasi di seluruh dunia dan memungkinkan pembuat kebijakan untuk mengubah mobilitas perkotaan.

TUMI menilai Anies Baswedan mendapatkan penghargaan 21 Heroes 2021 karena Anies mampu memimpin tata kelola perbaikan transportasi Jakarta di tengah keterbatasan sumber daya karena Pandemi Covid19.

Perbaikan transportasi tersebut meliputi angkutan umum bus, integrasi moda transportasi, hingga jalur sepeda sepanjang 63 Kilometer. Bahkan, TUMI juga mengapresiasi rencana Gubernur DKI Jakarta yang akan meluncurkan Bus Listrik untuk memperbaiki masalah polusi udara.

‘Nyinyir’

Di samping keberhasilan DKI Jakarta mendapatkan penghargaan, ada saja kelompok maupun elit politik yang ‘nyiyir’, memberIkan tanggapan miring atas pencapaian Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan.

Politisi Ferdinan Hutahean mengatakan bahwa keberhasilan DKI Jakarta mendapatkan penghargaan di bidang Transportasi disebabkan keberhasilan gubernur-gubernur sebelumnya. Ferdinan menyangkal bahwa keberhasilan itu bukan keberhasilan Anies Baswedan, Gubernur DKI sekarang hanya menikmati hasil dari kerja keras gubernur-gubernur sebelumnya.

“Transportasi berkelanjutan di Jakarta itu dimulai dari Busway oleh Sutiyoso, LRT dan MRT era Jokowi Ahok dan bus / transportasi pengumpan era Jokowi Ahok juga,” kata Ferdinand dalam cuitan di Twitter pribadinya.

Di samping Ferdinand, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak juga bernada sama, bahwa Anies bukanlah sosok dalam keberhasilan dan penghargaan transportasi yang diterima pemerintah DKI saat ini. Bahkan, Gilbert meragukan kreadibilitas lembaga Transpormative Urban Mobility Initiative (TUMI).

“Saya merasa ada yang ganjil soal lembaga TUMI ini, karena tidak jelas. Kredibilitasnya juga saya ragukan,” kata Gilbert saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (5/2).

Jiwa Ksatria

Selain jiwa patriotisme yang harus ditanamkan ke seluruh warga Indonesia, jiwa kesatria juga harus tertancap baik-baik dalam setiap sanubari masyarakat.

Dalam hal Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta, yang mendapatkan penghargaan 21 Heroes 2021, semua elemen masyarakat harus menghormati, ikut bangga dan ikut mengakui pencapaian tersebut.

Bukan soal pembangunan transportasi sudah dicanangkan gubernur-gubernur sebelumnya, tapi kemampuan Anies memimpin, mengkoordinasikan, mengatur agar ritme pembangunan dari periode ke periode dapat linear dan stabil.

Oknum elit politik jangan hanya mengajak masyarakat bersikap positif dan optimis dalam pencapaian kelompok politik tertentu, tapi menafikan kelompok politik lainnya. Dalam hal ini, Anies Baswedan sebagai penerima penghargaan justru harus terus disupport, didukung oleh semua elemen yang ada.

Politik di negeri ini jangan dihadirkan dengan wajah yang hanya tau kekuasaan, merebut kekuasaan tanpa nilai etika yang dikedepankan.

Bangsa ini diminta teriak “Pancasila Harga Mati”, dipatri dalam jiwa masing-masing individu dan harus mampu diaktualisasikan, tapi justru oknum elit politik tertetu yang tidak mengedepankan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aktifitas politiknya.

“Tapi itu bukan prestasi Anies”, “tapi itu kan pembangunan sejak gubernur-gubernur sebelumnya”.

Untuk kita semua, jangan pernah membangun opini pesimisme, sesat menyesatkan, di tengah penghargaan yang “jelas-jelas” diraih oleh Anies Baswedan.

Toh, juga Anies dalam setiap menerima penghargaan selalu menempatkan masyarakatnya, warga DKI Jakarta sebagai aktor utama keberhasilan atas penghargaan yang diraih. Itu artinya, menghina Anies sama halnya menghina warga Jakarta.

“Nies, km dan pendukungmu ngga malu banggain diri menerima penghargaan soal transportasi Jakarta sementara kamu ngga bangun apa2 soal transportasi?,” tulis Ferdinand.

“Jakarta tau km cm jago mewarnai, tp knp blm terima penghargaan mewarnai?” sindirnya.

Politik itu beretika! Membaca “cuitan” di atas, dimana etikanya?

Penulis: Muh. Fitrah Yunus, Peneliti Trilogia Institute

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi