Nalar.ID

Wapres: Negara Maju Tapi Kok Kemiskinan dan Stunting Masih Tinggi

Nalar.ID, Jakarta – Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyinggung sebuah ironi. Ia mengatakan, Indonesia telah mendapat predikat sebagai negara maju, tapi angka kemiskinan dan kekerdilan pada anak atau stunting masih tinggi.

Ini ia sampaikan ketika dialog dengan masyarakat soal percepatan penanganan kemiskinan dan stunting di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, belum lama ini. “Namanya maju, kok kemiskinan masih tinggi. Maju, kok stunting masih tinggi,” ucap Ma’ruf, dikutip Antara, Kamis (27/2/2020).

Menurut Ma’ruf label sebagai negara maju itu diukur dari tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Termasuk angka kemiskinan yang seharusnya rendah. Indonesia sudah dikategorikan sebagai negara maju, tapi saat ini pemerintah masih berupaya menurunkan angka kemiskinan.

“Ukuran negara maju, tingkat kemiskinannya rendah. Indonesia sudah dikategorikan negara maju. Yang mau kita kejar, kan angka kemiskinan. Pemerintah mau menurunkan angka kemiskinan, bahkan kalau bisa me-nol-kan walaupun agak tinggi,” lanjut Ma’ruf.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka kemiskinan Indonesia per September 2019 mencapai 9,22 persen. Walaupun angka itu berangsur turun 0,44 persen dari data September 2018, pemerintah berupaya menekan angka kemiskinan menjadi 7 hingga 6,5 persen akhir 2024.

Sementara terkait angka stunting, Ma’ruf menilai saat ini secara nasional angka turun jadi 27,6 persen dari tahun 2018 sebesar 30,8 persen. Sayangnya, angka stunting nasional itu masih berada di atas standar Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), yakni maksimal 20 persen.

Penulis: Febriansyah | Editor: Radinka Ezar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi