Nalar.ID

(Wawancara) Rahayu Kertawiguna: Saya Dibilang Produser Musik Nekat

Jakarta, Nalar.ID – Popularitas lagu Lagi Syantik yang dipopulerkan oleh Siti Badriah, Zaskia Gotik, termasuk band ternama seperti Wali, Kerispatih, T2, dan lainnya, tak lepas dari tangan dingin Rahayu Kertawiguna. Ia CEO, atau bos yang mendirikan perusahaan label musik, manajemen artis, dan distributor, Nagaswara Publishing, sejak 1999 silam.

Pernah menembus hingga 300 talent artis, perusahaan bentukannya ini pernah ‘nyaris’ bangkrut dan pailit. Saat sejumlah teman menjauh setelah kondisi perusahaan terpuruk, sang ayah justru support total.

Berikut keterangan eksklusif bersama Ceppy F. Bachtiar dari Nalar.ID, di kantor Nagaswara di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Artis Anda, Siti Badriah, baru saja meraih rekor MURI viewers terbanyak (atas lagu Lagi Syantik). Reaksi Anda?

Terimakasih. Ini berkat kerja keras dan team kerja kami. Nagaswara Publishing, total sudah mengantongi 11 piagam MURI. Tiga diantaranya masuk rekor dunia.

Siapa artis pertama perusahaan Anda (Nagaswara Publishing)?

Band Kerispatih, tahun 2004. Berikutnya T2 (2007), Wali (2008), dan (artis-artis) seterusnya.

Sebelumnya?

Lebih banyak distribusi dan mengedarkan lagu-lagu house music, lisensi dari luar negeri. Salah satunya dari Jerman, Austria, Polandia, Inggris, dan lainnya. Itu awal tahun 2000. Ada 50-an label indie dari sana kerjasama dengan kami.

Mengapa memilih house music?

Zaman muda, saya suka dengerin lagu-lagu house music, disko. Tepatnya, mulai awal kuliah tahun 1983 di jurusan Desain Grafis Universitas Trisakti.

Lalu?

Saya membangun perusahaan Nagaswara tahun 1999. Tahun awal berdiri sampai 2003, saya kerjasama lisensi musik-musik remix dan house music dari luar. Setahun berikutnya, beralih ke musik-musik lokal (sebagai produser) dengan memproduksi lagu-lagu Indonesia. Peluang lebih oke kalau kita punya mastering sendiri ketimbang lisensi. Kontrak untuk lisensi, antara 3-5 tahun. Sedangkan kepemilikan mastering, bisa sampai 25 tahun, sesuai undang-undang kita (Indonesia).

Bagaimana Anda bisa mendirikan perusahaan ini?

Waktu itu, mulai ramai-ramai desainer grafis. Karena lulusan desain grafis, saya mulai banyak langganan untuk pengerjaan klien. Lebih banyak terima bikin cover kaset, dan CD. Sampai tahun 1999, saya lama di bidang desain. Akhirnya, lepas dan membangun perusahaan label ini (Nagaswara) di tahun yang sama. Waktu itu, saya direktur, ayah komisaris. Ayah (saat itu), masih distributor di Holcim (perusahaan semen) di Indonesia.

Lama menjadi desainer, bagaimana bisa tertarik sebagai produser musik?

Enggak sengaja. Awalnya karena utang-puitang.

Maksudnya?

Waktu masih di bidang desain, saya punya perusahaan percetakan sendiri, join dengan teman. Mereka (klien) cetak cover kaset dan CD, lalu desain ke saya. Suatu saat, ada beberapa kejadian, banyak klien enggak bisa bayar. Akhirnya, saya ambil mastering-nya. Lalu saya jualin dan akhirnya malah jadi produser musik. Ini musibah, utang yang menjadi hikmah, ya. Sekarang, percetakan-nya sudah enggak ada.

Perusahaan Anda pernah menaungi hingga 300 artis. Kok, berani, ya?

Itu zaman keemasan RBT (ring back tone) tahun 2008-2010. Tapi pas RBT anjlok tahun 2011, kami pernah terpuruk. Lalu membatasi beberap artis yang kami perlukan.

Nekat?

Dulu saya berani spekulasi. Misalnya, dengan iklan di RBT sekian, bisa balik modal. Sekarang, dengan perkembangan zaman (digital), semua ikut berubah.

Total talent Anda sekarang?

Enggak sampai 80an. Dulu (saat jaya) karyawan pernah sampai 300 orang. Dipangkas 250. Sekarangg sisa 90an, untuk efisiensi. Makanya, saya dibilang produser nekat.

Mengapa?

Prinsip saya, ada peluang pasar dan konsisten bisnis di musik, bukan yang lain. Perhatikan bisnis ini supaya lebih baik. Tapi ketika suasana berbeda, bisa lebih bijak. Seperti, misalnya, setelah era pop dan melayu (Dadali, 2010), saya mulai menerima musik dangdut di tahun 2010 lewat lagu Melinda (Cinta Satu Malam). Mengapa dangdut, saya lebih ke pasar dahulu. Dangdut dan house music, kan dekat. Akhirnya jadi dancedut. Kemudian, tahun 2011 – 2014, industri musik jatuh. Saya mulai bangkit di 2014, setelah kemunculan Zaskia Gotik dengan rekor membuat video klip 1 artis terbanyak dalam 1 hari.

Target Anda selanjutnya?

mengharapkan kejutan-kejutan di industri musik. Korek terobosan. Next, peranan aplikasi musik. Selama ini, aplikasi, kan gratis, download, dan bajakan. Ada yang asli tapi bayar. Royalti engga sesuai diharapkan. Saya mau sesuatu seperti itu. artinya, punya reward dari situ (aplikasi berbayar). Bagaimana caranya, ya lihat nanti. Semoga ada terobosan kesana.

Produk fisik (kaset, VCD, DVD) bagaimana?

Cuma bonus. Enggak mungkin hilang. Itu trademark dan portofolio kami.

Setelah mengenalkan konsep dance-dut (dance dan dangdut), ada terobosan anyar?

Lagi mengolah baru yang bisa dikilik pasar. Rencananya, mau perpaduan reggae, ska, dan melayu. Rencana awal tahun 2019 supaya persiapan panjang. Sedang sesuaikan dengan pasar dan lihat gerakan momen pasar. Pasar, kan bisa dideteksi.

Seorang produser, tentu punya insting dalam mencari bibit atau talent. Bagaimana dengan Anda?

Tiap orang punya innerbeauty. Misalnya, ada bakat terpendam, belum kegali dan keluar. Seperti band, harus ada power. Wali kenapa sukses, karena ada Faang, dengan karakter vokalnya. Kalau penyanyi, ya harus menjual casing. Jualan casing, suara berikutnya. Lalu cengkok, goyang, untuk bumbu-bumbu yang dikemas dan siap dijual ke pasar. Penyanyi pop dan dangdut, beda lagi kesulitannya.

Kesulitannya?

Pop lebih sulit karena dibentuk dan dilihat orang banyak. Misalnya punya bahan bagus tapi casing kurang menunjang. Punya power tapi kurang menunjang. Ini jadi bahan pertimbangan. Atau sebaliknya, punya goyang tapi suara kurang bagus. Jam terbang harus bagus. Ini untuk penyanyi pop solo. Kalau dangdut, lebih ke etika. Ini susah karena dari akar rumput. Dia harus berjuang untuk pencitraan.

 

Sulitnya merangkul banyak talent?

Maintenance lebih sulit daripada menciptakan bintang. Membuat bintang lebih susah daripada mempertahankan bintangnya. Misalnya ada kejadian, pertama, kita berdoa agar diberi kemudahan dan keberhasilan, jangan sampai terjebak masalah-masalah yang merugikan, seperti narkoba, seks bebas, pelanggaran, dan sebagainya. Makanya, ada pembinaan khusus. Dulu, kami ada coaching clinic, panggil psikiater untuk pencerahan.

Di keluarga besar, hanya Anda yang berbisnis di bidang musik?

Saya anak ke 2 dari 3 bersaudara. Kakak saya perempuan, pensiun dari bidang sekretaris. Adik, juga perempuan, ibu rumah tangga. Cuma saya yang melenceng ke musik.

Ada rencana mewariskan bisnis ini ke anak?

Pasti. Saya mengharapkan ank dan cucu saya bisa sampai meneruskan ini (Nagaswara) sampai 100 tahun lebih. Seperti label-label besar di luar negeri, yaitu Sony BMG, Universal Music, dan lainnya. Anak pertama saya, sekarang kuliah jurusan musik industri di Amerika Serikat. Ambil (gelar) MBA. Anak kedua, desain interior di UPH (Universitas Pelita Harapan, Karawaci). Sementara, yang ketiga, baru SMA di Seattle, AS. Terakhir, baru kelas 1 SD, umur 6 tahun. Saya berharap, anak maunya meneruskan usaha kami. Terserah mereka mau pilih bidang yang mana.

Pengalaman bisnis jatuh bangun?

Di saat jatuh, bisa tahu, mana saja sahabat yang benar terlihat bersama kita. Bukan di saat senang atay jaya, semua samperin kita. Makanya, pas bisnis runtuh, ayah kasih support moral yang sangat berarti supaya saya jadi kuat seperti sekarang. Kata ayah, “saya bangga kalau kamu bangkit dari keterpurukan ketimbang saya bantu dengan sia-sia.” Beliau satu-satunya orang yang support. Ayah kasih cambuk, bagaimana meng-create perusahaan ini bisa normal kembali.

Bagaimana awal Anda jatuh?

Awal mendirikan Nagaswara tahun 1999 – 2004, saya distributor, produser lagu-lagu remix dan house music dari lisensi luar negeri. Tahun 2005 ke 2006, bisnis mulai maju. Tahun 2010, puncaknya (RBT). Lalu, 2011 jatuh dan tiarap sampai 2013 karena kondisi RBT itu. Setelah itu bangun lagi dari nol. Saya mengalami, bagaimana saat itu repotnya menutup utang di bank dan bikin plafon baru. Tujuannya, untuk memperbaiki ekonomi perusahaan. Pernah juga sampai potong cost dan efisiensi (pengurangan) karyawan.

Saat terpuruk, siapa yang memotivasi Anda bangkit?

Ayah selalu mengeluarkan kata-kata agar bangkit dan berjuang. Termasuk memberi kiat siasat, bagaimana mengatur cost dan memilih artis. Banyak pelajaran untuk tegar dan kuat. Momen popularitas lagu Lagi Syantik adalah kekuatan dan ketabahan kami di jalur dancedut dan house music ketika pop dan band tiarap.

Ada tips bagaimana membangun bisnis?

Berdoa kepada Tuhan agar segala urusan diridhai, konsistensi dalam bidang atau jalur, ketabahan dan mental baja berbisnis. Berbeda dengan pedagang yang hanya mencari untung, kalau bisnis, lebih dalam dan menjadi anomali.

Penulis: Ceppy F. Bachtiar | Editor: Ezar Radinka

 

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi