Nalar.ID

Wuss! 13 Fakta KA Cepat Jakarta – Bandung, Beroperasi 2020

Nalar.ID – Akhir 2019, proyek pembangunan kereta api (KA) cepat Jakarta – Bandung (KCJB) ditargetkan rampung. Nantinya, proyek ini akan terintegrasi dengan infrastruktur lain di Bandung dan sekitarnya. Tujuannya, untuk membantu pertumbuhan kawasan ekonomi baru.

Bagaimana progres pembangunan KA ini? Berikut rangkuman Nalar.ID dari berbagai sumber, Jumat (17/5):

Beroperasi 2021

KA cepat pertama di kawasan Asia Tenggara ini, diharapkan beroperasi akhir 2020. Hingga pekan ini, progres pembangunan telah mencapai 17,8 persen. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M. Soemarno berharap, hingga akhir 2019, bisa progres sampai 60 persen. Ia berjanji akan terus memastikan dan mengawal proyek ini hingga tuntas dan berjalan baik.

15 Bulan, Terowongan 608 Meter

Selama 15 bulan pengerjaan terowongan, telah menembus 608 meter. Panjang terowongan ini merupakan tunnel pertama dari 13 tunnel jalur lain yang berhasil ditembus.

Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) Chandra Dwiputra mengapresiasi para kontraktor atas keberhasilan menembus Tunnel Walini. Pengerjaan tunnel salah satu prioritas proyek ini. Pertimbangannya, tingkat kesulitan dan durasi kerja yang lama.

Tembus Tunnel Pertama

Sebagai tunnel pertama yang berhasil ditembus, Tunnel Walini punya lebar diameter untuk mencapai 12,6 meter dan lebar diameter luar 14,3 meter. Terowongan ini memiliki wesel di dalam dan dua jalur kereta cepat dengan posisi DK95+472 pada inlet dan DK96+080 di  outlet. Sisi outlet tunnel langsung terhubung dengan Stasiun Walini.

Metode Open-cut

Proses konstruksi Tunnel Walini dilakukan di sisi inlet dan outlet secara bersamaan. Menggunakan metode open-cut dengan menggali permukaan tanah sampai ke dasar galian dengan sudut lereng galian tertentu (slope angle). Tunnel Walini adalah tunnel garis lurus. Kemiringan satu per mil. Memiliki klasifikasi tingkat batuan cukup tinggi (grade V) dan maksimum kedalaman 37 meter.

Waktu Tempuh

Berkecapatan operasi, kereta cepat ini memiliki waktu tempuh Halim – Bandung Selatan 30 menit, Halim – Gedebage 36 menit, dan Gambir – Gedebage 42 menit.

Jumlah Perjalanan

50 perjalanan per hari, asumsi penumpang 20 ribu per hari. 68 perjalanan per hari, asumsi penumpang 40,460 per hari. Serta 131 perjalanan per hari, asumsi penumpang 123,407 per hari.

Jadwal Operasi

Headway 6 menit (2019), 5 menit (2030), 4 menit (2040).

120 Pekerja

Melalui metode ini, sisi inlet tunnel punya total panjang galian 228 meter. Sedangkan sisi outlet 380 meter. Pengerjaan melibatkan lebih dari 120 pekerja konstruksi. Penggalian tunnel rata–rata 35 meter. Pengecoran secondary lining rata-rata 36 meter setiap bulan.

Pembebasan Lahan

Kata Rini, pembebasan lahan hampir selesai 100 persen. Masih terdapat sekitar 4 persen pembebasan lahan yang tengah diselesaikan. Pihaknya berharap, tak ada masalah berarti.

Pusat Perekonomian Baru

Rini mengatakan, pemerintah melalui Kementerian BUMN mendorong penyelesaian proyek KCJB ini. Agar kehadiran KA ini bisa menciptakan pusat-pusat perekonomian baru dan mendorong pemerataan ekonomi.

Urai Padat Jakarta – Bandung

Sesuai arahan Presiden Jokowi, kata Rini, keberadaan KCJB ini bertujuan mengurai sengkarut dan kepadatan di Ibukota atau Bandung.

Kewenangan Emil

Dengan kewenangannya sebagai Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil atau Emil menyatakan, Pemerintah Provinsi Jabar sudah menyelesaikan sejumlah dinamika yang mengemuka selama proyek berlangsung.

Untuk jalur, kata Emil, KA ini akan nanti akan melintasi Purwakarta. Melalui tambang-tambang bagian dari jalur. Lalu, putuskan koneksi dari Tegalluar ke Kota Bandung dengan LRT sepanjang dua kilometer. Setelah itu, menyambung ke eksisting jalur kereta ke Kebonkawung, pusat Kota Bandung. Termasuk akan dibangun stasiun transit di sekitar Masjid Raya Al-Jabbar, persis di Gedebage, Kota Bandung.

Lahirnya Kota Baru

Kata Emil, proyek KCJB ini akan menjadi kebanggaan nasional. Selain menggalakkan pertumbuhan ekonomi, kehadiran kereta cepat ini diyakini melahirkan kota-kota baru. Emil menilai, penduduk Jabar nyaris 50 juta. Kehadiran kota-kota baru akan jadi titik pemerataan pertumbuhan ekonomi.

“Suatu saat, bukan enggak mungkin ada warga Walini bekerja di Jakarta,” tukasnya. Ia berharap, model percepatan transportasi ini bisa menghubungkan di wilayah strategis lain dengan pertumbuhan industri cepat.

Penulis: Febriansyah | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi