Nalar.ID

Yuk, Intip Persiapan Pameran Renungan Lu Tianning

Nalar.ID – Jika menyebut nama pelukis Tiongkok yang kini berkiprah di tingkat dunia, nama Lu Tianning dapat disetarakan dengan seniman internasional lain. Karya-karyanya pernah dipamerkan di Amerika, Swedia, Australia, Jepang dan India. Kini, ia kembali menambah daftar negara lewat karyanya di Indonesia.

Nantinya, sejumlah karya Lu dipamerkan di Yun Artified Community Art Center Jakarta, mulai 31 Agustus – 30 September 2019. Pameran ini dikuratori oleh kurator senior Jim supangkat. Yun Artified Community Art Center diresmikan Januari 2019. Komunitas ini telah menyeleksi karya-karya Lu.

Tak hanya mempertimbangkan nilai estetik, Lu dinilai sebagai pelukis yang berhasil mengembangkan seni tradisional Tiongkok ke ranah internasional. Yun Artified memiliki visi dan misi terus aktif melakukan program pertukaran seniman Indonesia berpameran di China dan sebaliknya.

Sehingga pecinta seni di Indonesia tak harus pergi ke Fukuoka Asian Art Museum di Jepang, National Museum, New Delhi di India, California University di Amerika Serikat dan Ecole Superieur des Beaux Arts di Paris, Perancis, untukmelihat dan mempelajari detail karya masterpiece Lu.

Keterlibatan Jim Supangkat

Mengutip catatan kuratorial pameran Reflection of Chinese Yun, Jim Supangkat menjelaskan bahwa pandangan- pandangan Lu menandakan sensibilitas karya-karyanya bertumpu pada spirit yang berkaitan dengan religiusitas.

Istana Potala di Kota Lhasa yang terus dilukisnya sepanjang karir kerap disebut ‘istana di atas awan’. Berdiri di puncak gunung 12.139 meter dari permukaan laut, bangunan ikonik berusia 1.300 tahun ini punya pesona transendental.

Lu tak hanya menangkap tanda-tanda ini namun ia merasakannya sebagai dorongan misterius yang mendasari karya-karyanya.

Kata-katanya yang mengisahkan pengalaman menghadapi pegunungan Potala siang dan malam menegaskan kaitan lukisan-lukisan Lu dengan seni lukis Tiongkok tradisional. Bahkan dengan tanda paling tua, buku Shinjing  (tentang puisi dan lagu) yang ditulis abad ke-14 SM. Ada kalimat berbunyi: “Mengamati sisi gunung yang diterangi matahari dan bayangannya di sisi gelap membangkitkan kesadaran tentang yin dan yang.“

karya pelukis Lu Tianning - nalar.id
Salah satu karya pelukis Lu Tianning. NALAR/Dok.pribadi.

Inilah catatan tertua tentang yin dan yang. Catatan ini dikenal sebagai dasar filsafat Tiongkok. Memamerkan 100 karya Lu yang rata-rata berukuran 100 x 100 sentimeter dan 100 x 180 sentimeter, akan menggunakan tiga lantai. Salah satu karya berskala besar 150 x 360 sentimeter yang tampil berjudul Auspicious Plateau (2019).

Pada masterpiece ini, berbagai kecenderungan pada seni lukis Tiong, kok tampil bersamaan. Di sini hukum perspektif jadi relatif dan batas-batas realistis dan surealis hilang. Prof. Liang Jiang dari Guangzhou Academy of Fine Arts menyebut, kecenderungan ini sebagai simponi. Di mana, pada dunia musik adalah gabungan warna dan nada musik berbeda-beda dalam orkestra harmonis. Analognya adalah disambiguasi, yaitu upaya menghilangkan keraguan ketika menghadapi himpunan pemikiran atau teks karena perbedaan sudut pandang, perbedaan penggunaan istilah atau topik pembahasan berbeda,” jelas Jim Supangkat, dalam catatan kuratorial, seperti dikutip Nalar.ID, Senin (26/8).

Mengenal Lu Tianning

Lu Tianning lahir di Jiangsu, November 1959 silam. Ia lulusan dari Jiangsu Provincial Academy of Literature and Art tahun 1986 . Sejak tahun 1987 hingga 1995, ia hidup di dataran tinggi Tibet.

Ia terlibat dalam pembuatan dan penelitian terhadap seni religius. Selama ini, Lu tercermin dalam karya dan praktek seninya sendiri. Lu juga menggunakan tinta merah, biru, dan kuning yang hampir murni untuk mengisi gambar dengan garis-garis jelas dari tinta yang ditekan ke permukaan kertas nasi.

Pada jenis karya ini, Lu menggunakan corak mengesankan. Warna-warna berani dan komposisi penuh tekanan secara akurat menunjukkan sungai misterius di dataran bersalju.

Selain itu, ada gaya artistik lain yang berbeda dari lukisan tinta modern dalam tulisannya. Lu menggambarkan perasaan tertinggal tak terlupakan dalam hidupnya di dataran tinggi Tibet.

Pada Januari 2006, ia memulai karir di Museum Nasional Pusat Pengembangan Seni. ‘Pameran Lukisan Tibetan – Style oleh Lu Tianning’ dipamerkan di Swedia, Australia, Jepang, India, dan negara lainnya. Saat ini, Lu adalah anggota dari Asosiasi Seni China.

Yun Artified Community Art Center

Yun Artified Community Art Center berdiri pada 18 Januari 2019 oleh Yince Djuwidja. Tempat ini adalah pusat kegiatan seni. Memiliki luas 1.584 meter persegi. Terdiri atas fasilitas ruang pamer, workshop dan perpustakaan.

Setiap tahun, tempat ini menggelar dua sampai tiga kali pameran yang di kurasi kurator kenamaan, Jim Supangkat. Dengan dibukanya Yun Artified Community Art Center, bisa memberi warna baru dalam skema senirupa di Indonesia.

Yun Artified juga merupakan Art Advisory yang memberi berbagai solusi seperti sistem penyimpanan karya seni yang benar. Lalu, mencocokkan karya seni dengan ruangan, membangun database online untuk koleksi karya seni. Serta merekomendasikan karya seni sesuai budget melalui database yang terdiri oleh seniman established dan emerging.

Penulis: Veronica Dilla | Editor: Ceppy F. Bachtiar

Komentar

Ikuti Kami

Kami nalar, punya alasan informasi tak ditelan mentah. Mari, sama-sama bernalar.

Nalar.ID | Cerdas Menginspirasi